Arsip Blog

Duhai Wanita Mukminah Engkau Adalah Ratu…!

Duhai para wanita, di dalam islam kalian adalah ratu…!

Rumahmu adalah singgasanamu…!

Malumu adalah mahkotamu…!

Wahai para wanita..sungguh kalian adalah ratu dalam islam, betapa berharganya kalian.. sampai  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berwasiat kpd para orang tua untuk merawat kalian. Sebagaimana  sabdanya yg diriwayatkan oleh Imam Muslim,

من عال جاريتين حتى تبلغا جاء يوم القيامة أنا وهو وضّم أصابعه

“Barangsiapa yg merawat dua anak wanitanya dg baik, samapai mrk dewasa, maka aku dan dia dating pada hari qiamat, sambil perpegangan tangan.

Begitu pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berwasiat kpd anak untuk berbakti kepada kalian, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Shahihain; bahwasannya ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi; “Siapakah yang paling berhak untuk diperlakukan dengan baik?” Rasul menjawab: “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu; kemudian ayahmu.”

Bahkan, Rasul pun berwasiat kepada para suami agar bersikap baik terhadap istrinya; dan beliau pun mencela suami yang memarahi istrinya atau bersikap buruk terhadapnya. Dalam riwayat Muslim dan At-Tirmidzi disebutkan; bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda; “Ingatlah, hendaknya kalian berlaku baik terhadap para istri! Ingatlah, hendaknya kalian berlaku baik terhadap para istri!” Read the rest of this entry

Hukum Cadar: Dalil-Dalil Ulama yang Mewajibkan (1)


Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Berikut ini akan kami paparkan secara ringkas dalil-dalil para ulama yang mewajibkan cadar bagi wanita.

Pertama, firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka” (QS. An Nur: 31)

Allah ta’ala memerintahkan wanita mukmin untuk memelihara kemaluan mereka, hal itu juga mencakup perintah melakukan sarana-sarana untuk memelihara kemaluan. Karena menutup wajah termasuk sarana untuk memelihara kemaluan, maka juga diperintahkan, karena sarana memiliki hukum tujuan. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).

Kedua, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An Nur: 31)

Ibnu Mas’ud berkata tentang perhiasan yang (biasa) nampak dari wanita: “(yaitu) pakaian” (Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al Adawi, Jami’ Ahkamin Nisa’ IV/486). Dengan demikian yang boleh nampak dari wanita hanyalah pakaian, karena memang tidak mungkin disembunyikan.

Ketiga, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nur: 31)

Berdasarkan ayat ini wanita wajib menutupi dada dan lehernya, maka menutup wajah lebih wajib! Karena wajah adalah tempat kecantikan dan godaan. Bagaimana mungkin agama yang bijaksana ini memerintahkan wanita menutupi dada dan lehernya, tetapi membolehkan membuka wajah? (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7-8, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim). Read the rest of this entry