Arsip Blog

Anak Sholih dan Sholihah adalah Karunia Alloh

Keluarga akan merasa sakinah dan mawaddah bila punya anak yang sholih dan sholihah. Sebaliknya, alangkah sedih dan ruginya bila anak durhaka kepada Alloh Subhaanahu wa ta’aala, Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan durhaka kepada kedua orang tuanya, na’udzubillahi min dzalik. Lalu bagaimanakah upaya kita agar anak menjadi sholih dan sholihah, bahagia dunia dan akhirat?

Sholih dan sholihah adalah takdir Alloh ‘Azza wa Jalla

Di antara hal yang harus kita imani ialah, baik dan buruknya anak sudah ditentukan oleh Alloh ‘Azza wa Jalla sejak dia di rahim ibu. Hanya Alloh-lah yang menjadikan sesuatu dan yang menentukan semua urusan. Perkara ini harus kita yakini agar kita tidak sombong dan membanggakan diri bila berhasil mendidik anak, dan tidak putus asa bila kita sudah berusaha mendidik semaksimal mungkin namun anak belum menjadi baik. Misalnya anak Nabi Nuh ‘Alaihissalam yang durhaka padahal orang tuanya sudah mendidiknya. Read the rest of this entry

Iklan

Menangislah…! Karena Airmata Adalah Tanda kasih Sayang

وَعَنْ أَبِي زَيْدٍ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ مَوْلَى رسول الله صلى الله عليه وسلم وَحِبِّهِ وَابْنِ حِبِّهِ, رضي الله عنهما, قال: أَرْسَلَتْ بِنْتُ النبيِّ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ ابْنِي قَدْ احْتُضِرَ فَاشْهَدْنَا, فَأَرْسَلَ يُقْرِئُ السَّلَامَ وَيَقُولُ: (إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَله مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بأجل مُسَمًّى, فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ) فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ تُقْسِمُ عَلَيْهِ لََيَأْتِيَنَّهَا. فَقَامَ مَعَهُ سَعْدُ بْن عُبَادَةَ, وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ, وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ, وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ, وَرِجَالٌ- رضي الله عنهم- فَرُفِعَ إِلَى رسول الله صلى الله عليه وسلم الصَّبِيُّ, فَأَقْعَدَهُ فِي حِجْرِهِ وَنَفْسُهُ تَقَعْقَعَ, فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ, فَقَالَ سَعْدٌ: مَا هَذَا؟فَقَالَ: (هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَااللَّهُ تَعَالَى فِي قُلُوْبِ عِبَادِهِ) وَفِي رواية (فِي فُلُوْبِ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ) متفق عليه.

Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah (orang yang dulunya hamba sahaya kemudian dimerdekakan) orang yang sangat dicintainya, dan anak dari orang yang sangat dicintainya, semoga Alloh meridhoi keduanya, Dia berkata: salah satu putri Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengirim seorang utusan sambil membawa pesan untuk Rasulullah: “Sesungguhnya anakku sedang dalam keadaan syakaratul maut, maka datanglah engkau kepada kami”,  kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengirim balik utusan itu dan menyampaikan salam seraya bersabda: (Sesunguhnya kepunyaan Allahlah apa-apa yang Dia ambil, dan kepunyaannya pula apa-apa yang Dia beri, dan segala sesuatu di sisi-Nya memiliki batas ajal yang ditentukan, oleh karena itu bersabarlah dan mengharaplah pahala). Maka putri Nabi tersebut  mengirim kembali seorang utusan sambil bersumpah, “Demi Allah wahai bapakku engkau pasti datang”. Maka berangkatlah Rasulullah bersama Sa’ad bin ‘Ubadah, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid binTsabit, dan yang lainnya -semoga Allah meridhoi mereka semua- maka diangkatlah anak itu kepada Rasulullah, kemuadian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendudukkan anak itu di pangkuannya sedangkan nafas anak itu tersengal-sengal, maka berlinanglah air mata Rasulullah, kemudian Sa’ad berkata: wahai Rasulullah! apa (air mata ) ini..? kemudian Rasulullah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ini adalah bentuk kasih sayang yang Allah ciptakan kasih sayang itu di hati-hati para hamba-Nya”. Dalam riwayat lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ pada hati-hati yang Allah kehendaki dari hamba-hamba-Nya, sesungguhnya Allah menyayangi dari hamba-hamba-Nya yang menyayangi orang lain”.

Faedah  dari hadits di atas:

  • Bolehnya meminta datang orang yang mempunyai keutamaan kepada orang yang sedang syakaratul maut
  • Boleh datang untuk berta’ziyah tanpa izin
  • Disunnahkan menyuruh orang yang terkena musibah untuk bersabar
  • Bolehnya mengulang panggilan
  • Boleh menangis tanpa meratap (menangis yang terlarang ketika terkena musibah adalah menangis yang mengeluarkan suara)
  • Wajib mendahulukan salam sebelum bicara
  • Menengok  orang yang sakit meskipun kedudukannya lebih rendah daripada kita/ orang yang memusuhi kita

****************

Catatan penulis dari kajian rutin Kitab Riyaadus Shaalihin, yang disampaikan oleh Ust. Ade Hermansyah,Lc