Category Archives: Renungan

BERILAH 70 UDZUR

 

Oleh: Ust. Badrusalam, Lc

Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata, “Apabila sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu yang kamu ingkari, maka berilah ia sebuah udzur sampai 70 udzur. Bila kamu tidak mendapatkan udzur, maka katakanlah, “Barangkali ia mempunyai udzur yang aku tidak ketahui.”

(HR Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 8344).

Abdullah bin Muhammad bin Munazil berkata, “Mukmin adalah yang selalu memberi udzur kepada saudaranya, sedangkan munafiq adalah yang selalu mencari kesalahan saudaranya.”

(HR Abu Abrirrahman As Sulami dalam adab ash shuhbah).

Umar bin al Khathab berkata: “Janganlah kamu berburuk sangka dari kata-kata yang tidak baik yang keluar dari mulut saudaramu, sementara kamu masih bisa menemukan makna lain yang baik..”

Sering kali kita mengucapkan kata-kata yang tak baik..

Atau tak enak ditelinga..

Terkadang membuat hati kita pilu..

Atau berburuk sangka padanya..

Namun.. Seorang mukmin selalu memberi udzur kepada saudaranya.. Seraya berucap:

Barangkali dia bercanda.. Barangkali dia tak bermaksud menyakiti..

Barangkali dia ingin membahagiakan temannya..

Dan sejuta udzur lainnya..

Saudaraku..

Manusia adalah tempat kesalahan…

Sebagaimana orang lain berbuat salah..

Kita pun banyak kesalahan.. Barangkali lebih banyak lagi..

Bila kita suka orang lain berbaik sangka kepada kita..

Tidakkah kita suka untuk tidak berburuk sangka kepada dia..

Barakallahu fiikum..

🏠 Rumahku Masih Ngontrak 🏠

🌴🌵🌴🌵🌴🌵🌴🌵🌴🌵🌴🌵🌴🌵🌴

Oleh : Ustadz Syafiq Basalamah, MA

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Sudahkah anda memiliki sebuah rumah ?

Atau sedang membangunnya ?

Atau anda masih tenggelam dalam impian indah untuk mendirikan rumah ?

 

Hampir semua insan yang hidup di muka bumi ini berkeinginan memiliki tempat tinggal. Dia bekerja memeras otak dan keringatnya demi mewujudkan cita-cita memmembangun sebuah rumah;

Tempat tinggal untuk dirinya bersama keluarga

Tempat berteduh dari hujan dan panas.

Dan Alhamdulillah, sudah banyak yang memiliki rumah, namun biasanya kalau rumahnya belum bagus, dia berkeinginan untuk memperindah rumahnya. Dengan desain yang lebih indah dan elegant. Lebih luas dan menarik dari luar dan dalam.

 

Dan Yang sudah memiliki rumah bagus nan mewah, kadangkala bila melihat rumah yang lebih indah, terbetik di hatinya untuk merenovasi rumahnya atau membangun rumah seperti yang dilihatnya.

 

Dia akan memilih lokasi yang lebih indah, lebih strategis, lebih aman dan lebih semuanya.

 

Kenapa tidak?

Emang tidak boleh?

 

Tentunya tidak apa-apa selama dari hasil yang halal dan sesuai dengan syari’at.

 

Namun, bila kita perhatikan dan renungkan, ternyata tidak sedikit dari manusia yang hidup di muka bumi ini, khususnya orang-orang miskin yang sampai mati belum sempat memiliki rumah.

 

Atau ada yang sudah menabung dari masa muda sampai tua, tapi belum juga tercapai rumah yang diimpikannya. Selama hidupnya ia tinggal di rumah kontrakan yang sederhana, apa hendak dikata; itulah kemampuan yang dimilikinya.

 

Atau ada yang sudah membangun rumah kecil, namun ternyata rumahnya harus digusur karena berdiri di atas tanah sengketa.

 

Dan pada hakekatnya, semuanya akan digusur, kalau bukan rumahnya, maka penghuninya yang akan dipaksa keluar dari rumah idamannya.

 

Sebagus manapun rumah yang dimilikinya.

Seindah manapun lokasi yang dipilihnya.

Sehebat manapun arsitek yang membangunnya.

Semahal manapun rumah yang dibelinya.

Selengkap apapun fasilitas yang disediakan olehnya

 

Pasti suatu saat, rumah itu tak ubahnya rumah kontrakan, yang harus ditinggal oleh penghuninya, karena masa kontraknya sudah habis.

 

Saudaraku…..!

 

Pernahkan anda bermimpi untuk memiliki rumah yang tidak perlu susah payah membangunnya.

 

Catnya tidak pernah pudar.

Tanamannya tidak pernah layu.

Bentuknya tidak pernah membosankan.

Bangunannya disusun dari batu bata emas dan perak.

Bahan pelekatnya adalah minyak kesturi.

Kerikilnya dari mutiara dan permata.

Debunya adalah Za’faran (Komkoma).

Tamannya tidak pernah putus berbuah.

Sungai-sungai Mengalir di bawahnya.

Kekal dan abadi tidak seperti rumah di dunia.

Yang memasukinya tidak akan pernah tertimpa duka dan kesedihan ([1])

 

Maukan anda membangun rumah tersebut di atas?

Atau menabung untuk membelinya?

Atau kalau tidak memintanya dari Sang Empunya?

 

Istri tercinta Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bernama Khadijah telah mendapatkan satu dari rumah yang indah itu, sebagaimana diinfokan oleh malaikat Jibril alaihissalam.([2])

 

Bukan di kota Mekah yang gersang dan kering kerontang.

Bukan di pondok indah yang tidak lepas dari incaran kawanan perampok.

Bukan di muka bumi yang suatu saat akan luluh lantah rata dengan tanah.

 

Namun di surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Rumah yang disediakan untuk hamba-hamba yang bertaqwa

 

Istr i fir’aun telah berdoa memohon kepada Allah , suatu permohonan yang telah Allah ta’ala abadikan dalam Al Qur’an; ([3] )Ia meminta di bangunkan di sisi Allah Taala sebuah rumah.

 

Ia menginginkan bertetanggaan dengan sang Pencipta. Berjiran dengan ar Rahman dan ar Rahiem yang selama ini; ia telah mengabdikan diri kepada-Nya, walaupun ia belum melihat-Nya.

 

Bukan bertetangga dengan presiden.

Bukan dengan pangdam.

Bukan dengan pengusaha sukses

Bukan dengan pejabat kaya

 

Namun bertetangga dengan al Khaliq.

 

Saudaraku, pernahkkah anda memikirkan rumah anda di surga?

Atau anda hanya memikirkan rumah di dunia saja?

 

Rumah di surga itu tidak susah didapat.

 

Tidak perlu memeras keringat dari pagi sampai sore.

Tidak perlu uang yang banyak.

Pengemis dan fakir miskinpun bisa memperolehnya.

 

Caranya….?

 

Sebagaimana banyak cara untuk dapat memiliki rumah di dunia; Ternyata banyak cara pula untuk membangun rumah di surga. Allah memberikan banyak opsi bagi manusia, karena sebagai Sang Pencipta Dia mengetahui adanya perbedaan di antara hamba-hambanya dalam menentukan jalan dan caranya.

 

Di bawah ini ada beberapa amalan yang silahkan diamalkan bagi yang ingin memiliki rumah di surga, semua sesuai dengan kemampuan masing-masing:

 

1⃣ Melaksanakan shalat sunnah sebanyak 12 rakaat dalam sehari dan semalam.

 

Berusahalah untuk senantiasa shalat sunnah sebanyak 12 rakaat dalam sehari dan semalam.

 

Qabliah, ba’diah(terutama rawatib), dhuha, atau sunnah yang lainnya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

((مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى الله عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بِهِنَّ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ))

 

“Tidaklah seorang muslim melaksanakan shalat sunnah untuk Allah pada setiap harinya sebanyak 12 raka’at selain shalat fardhunya, melainkan Allah akan membangunkan baginya rumah di surga“. (HR Muslim)

 

2⃣ Membangun masjid.

 

Kalau mungkin kita tidak bisa melakukan yang pertama, cobalah menyisihkan rizkinya untuk membangun masjid, jangan takut miskin karena membangun rumah Allah di muka bumi ini, karena Rizki kita itu dari Allah, dan Dia berjanji akan memberi ganti bagi kita di dunia dan membangunkan rumah untuk kita di surga.

 

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, yang artinya: “Barang siapa yang membangunkan bagi Allah sebuah masjid, niscaya Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga“. (HR Bukhari Muslim)

 

Tapi kalau kita tidak bisa membangun masjid, semua dananya dari kocek kita, maka kita bisa berpartisipasi sesusai dengan kemampuan kita, kalau tidak bisa dengan duit, maka cobalah sekali-sekali menyisihkan waktu dan tenaga untuk membantu membangun rumah Allah, jangan berkata itu sudah ada tukangnya, kita membangun bukan karena dibayar, tapi kita sedang membangun rumah kita di surga, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

 

«مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ، أَوْ أَصْغَرَ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ»

 

“Barang siapa yang membangunkan sebuah masjid karena Allah, walaupun sekecil tempat bertelurnya burung Dara pasir, atau yang lebih kecil, niscaya Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga“. (HR Ibnu Majah, dishahihkan oleh Albani, Shahih Jami’ no: 6128).

 

Sesuatu yang kecil akan menjadi besar dan dahsyat karena niat dan tujuan yang baik dan luhur.

 

3⃣ Membaca surat al Ikhlas sebanyak 10 kali.

 

Kalau mungkin kita tidak bisa melakukan kedua hal di atas, masih ada amalan lain yang bisa dilakukan; Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

 

«مَنْ قَرَأَ { قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ } عَشَرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِيْ الجَنَّةِ» .

 

“Barang siapa yang membaca surat (Qul Quwallahu Ahad) sebanyak sepuluh kali, niscaya Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga“.(HR Ahmad, dishahikan Albani, Sohihil Jami’ no: 6472).

 

Subhnallah, sebuah amalan yang sangat ringan dengan ganjaran yang begitu indahnya, akan tetapi hal ini tetap membutuhkan keikhlasan.

 

4⃣ Bersabar dan memuji Allah tatkala mendapat musibah meninggalnya buah hati (anak)

 

Perkara yang satu ini membutuhkan perjuangan yang sangat berat, namun akan mudah bagi orang-orang yang beriman dengan takdir Ilahi, semua yang terjadi sudah menjadi kehendak sang Pencipta Yang Maha kuasa, semua pasti mengandung hikmah yang agung. Sedih boleh, tapi jangan larut dalam samudra kesedihan, masih banyak tugas dan kewajiban yang harus diselesaikan, yang mati sudah lebih dahulu terlepaskan dari beban dunia. Sementara yang hidup masih banyak tanggungan yang harus segera dikerjakan, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda yang artinya:

 

“Jika anak dari seorang hamba Allah meninggal dunia, Allah berfirman kepada para malaikat-Nya: “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-KU?”, maka mereka berkata: “Iya, benar”.

 

Kemudian Allah berkata: “Kalian telah mengambil buah hatinya?”, maka para malaikat berkata: “Iya, benar”.

 

Allah bertanya lagi : “Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku” ?

 

“Dia memuji-Mu dan berkata “Inna lillahi wa innaa ilaihi raji’un” (Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepadaNya kami akan kembali”, Jawab para malaikat.

 

Allah-pun berfriman: “Dirikanlah sebuah rumah untuk hamba-Ku di surga, dan namakan rumah itu; “RUMAH PUJIAN”.(HR Tirmidzi, dihasankan Albani, Shohihul Jami’ no: 795).

 

Memuji dan menyanjung Allah ta’ala tatkala mendapat musibah maqamnya berada di atas maqam kesabaran.

 

5⃣ Membaca doa tatkala masuk pasar.

 

Bila kita pergi ke pasar, maka jangan lupa untuk membaca doa masuk pasar, karena yang membacanya dengan ikhlash dan mengharap ridha Allah Taala, akan dibangunkan baginya rumah di surga, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda yang artinya: “Barang siapa yang masuk ke pasar dan berkata :

 

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

 

“Tiada tuhan yang berhak disembah melaikan hanya Allah yang esa, yang tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala pujian, Dia yang menghidupkan dan Dia yang mematikan, dan Dia Maha Hidup, tidak mati, di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

 

Maka Allah akan menuliskan baginya seribu dikali seribu kebaikan, dihapuskan darinya seribu kali seribu dosa, dan diangkat untuknya seribu kali seribu derajat (yakni satu juta), dan Allah akan membangunkan baginya rumah di surga“. (HR Ahmad, Tirmidzi, dihasankan oleh Albani –Shahihul Jami’ no : 6231).

 

Mungkin kita berfikir amalan ini mudah dan ganjarannya begitu dahsyat, tapi ingat betapa seringnya sebagian dari kita tidak membacanya???

 

Karena setan-setan penjaga pasar tidak akan pernah lupa untuk membuat kita lupa melakukannya.

 

Dan sebagai catatan, hadits di atas bukanlah anjuran agar banyak-banyak ke pasar, karena pasar tetap sebagai tempat yang paling dibenci oleh Allah, namun kalau kita harus ke pasar, jangan lupa membaca doa di atas.!!!

 

6⃣ Tinggalkan kebiasaan berdusta, walaupun hanya bergurau.

 

Berbohong untuk menyegarkan suasana bersama, sering kali menjadi opsi sebagian orang, padahal yang namanya berbohong tetaplah tidak boleh. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, yang artinya:

 

“Aku menjamin sebuah rumah di tengah-tengah surga, bagi yang meninggalkan dusta, walaupun hanya bergurau”. (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Shihihah no:273).

 

Sudah saatnya kita berhati-hati dalam berbicara, walaupun dalam kondisi bersenda gurau.

 

7⃣ Meninggalkan perdebatan walaupun merasa pendapatnya adalah yang benar.

 

Manusia memiliki instink untuk mempertahankan pendapatnya dan menunjukkan eksistensi dirinya, apalagi dalam kondisi-kondisi spesial, dan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menjaminkan sebuah rumah di bagian pingiran surga, bagi yang meninggalkan berbantah-bantahan walaupun pendapatnya yang benar.

 

Khususnya dalam urusan-urusan dunia, demi menjaga perasaan saudara sesama muslim, apalagi kalau itu di antara suami istri yang kerap kali berbantah-bantahan dalam urusan sepele, sehingga terjadi keributan yang berkepanjangan di antara mereka. Maka meninggalkannya walaupun pendapat kita yang benar adalah suatu kemuliaan. Mungkin kita pernah mendengar orang menyebutkan (Yang waras ngalah), ini adalah benar adanya.

 

Sebuah rumah di surga telah dijaminkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bagi mereka.(HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Albani dalam Shohih Targhim 3/6)

 

Disebutkan Bahwa Nabi Dawud berpesan kepada putranya, “Wahai anakku! Jauhilah perdebatan. Sesungguhnya ia itu manfaatnya sedikit, dan ia menyulut permusuhan di antara sesama saudara”. (Faidhul Qadir, al Munawi 5/5).

 

8⃣ Menutup celah di antara Shaf Shalat.

 

Bila kita mendapat celah di antara Shaf shalat, seperti yang banyak kita dapati di negeri kita, seakan-akan setiap orang memiliki kekuasaan masing-masing, sehingga saling berjauhan shaffnya, maka tutuplah celah itu, sambunglah shaf itu, Allah akan membangunkan rumah di surga bagi yang melakukannya.

 

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

 

«مَنْ سَدَّ فُرْجَةً فِي صَفٍّ رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً، وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ»

 

“Barang siapa yang menutup celah di Shaff niscaya Allah akan mengakat baginya satu derajat dan membangunkan untuknya rumah di surga“. (HR.Thabrani, dishahikan Albani, Shohihah no: 1892).

 

9⃣ Berhijrah.

 

Berhijrah yakni berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam, dari tempat yang tidak bisa ditegakkan syiar-syiar Islam ke tempat yang dapat diteegakknya syiar-syiar Islam, dan Hijrah adalah suatu kewajiban yang berlanjut sampai hari Kiamat. Di balik kewajiban ini ada suatu keutamaan yang Allah janjikan, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, yang artinya:

 

“Aku menjaminkan sebuah rumah di bagian pingiran surga, bagi yang beriman kepadaku dan masuk Islam serta berhijrah“. (HR Nasai, Shohih Jami’ no: 1465)

 

1⃣0⃣ Berjihad di jalan Allah ta’ala.

 

Para mujahidin di jalan Allah mendapatkan tiga buah rumah: di pingiran surga, di tengah surga dan di tempat tertinggi di surga, sebagaimana hal itu disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist Fudhalah bin Ubaid ((HR Nasai, Shohih Jami’ no: 1465).

 

Tiga rumah spesial ini dikhususkan bagi mereka yang benarc-benar berjuang untuk menegakkan kalimat Allah ta’ala di muka bumi.

 

1⃣1⃣ Husnul Khuluq

 

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Aku menjaminkan sebuah rumah di tempat yang tertinggi di surga, bagi yang akhlaknya mulia”. (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dihasankan Albani, Shohihul Jami’ no: 1463).

 

Inilah beberapa opsi bagi yang ingin memiliki rumah di surga kelak, rumah yang tiada duka, tiada susah, tiada gundah, namun waktu membangunnya adalah tatkala kita berada di rumah yang penuh dengan duka dan gundah, di dunia ini.

 

Semoga Allah memudahkannya untuk semua…. Amiin ! [Selesai]

 

Alhamdulillah penjelasan lengkap dari artikel diatas telah disampaikan Ustadz Syafiq Basalamah, MA di Masjid Ar-Rahmat Slipi, Jakarta Barat pada hari Sabtu, 26 Mei 2012 kemarin.

 

Semoga bermanfaat!

 

Artikel: stdiis.ac.id publikas kembali oleh Moslemsunnah.Wordpress.com

 

Footnote:

 

([1]) Lihat Musnad Ahmad (no: 9744)

([2]) HR Bukhari Muslim

([3]) Li[disingkat oleh WhatsApp]

Hanya Untuk Yang Mencintai Bahasa Arab…!

10252053_1562810697294695_7120440584814022376_n

Musibah apaKah ini….

Aku masuk gerbang Universitas dalam keadaan bodoh & rendah hati …

Dan setelah beberapa tahun kemudian …

Aku keluar darinya dalam keadaan bodoh & sombong …

Ya … musibah bukanlah orang yang tidak diterima kuliah di Universitas

Tetapi (yang dinamakan dengan musibah adalah) orang yang tidak diberi taufiq oleh Allah dalam menuntut ilmu, maka hal itu merupakan musibah di atas musibah …

Ketahuilah –semoga Allah menyayangimu- Sesungguhnya ilmu itu (didapat) dengan taufiq, bukan (didapatkan) dari tempat mana (dia belajar)

Mintalah kepada Allah agar diberi taufiq dan ketepatan dalam menuntut ilmu

Ikhlash itu adanya dalam Taufiq dari Allah, bukan (karena belajar) di Universitas.

*^*^*^*^*^*

منقول من الحالة فيسبوك لعرفة أم فينان

Melahirkan dengan Operasi Caesar (Anugerah, Musibah, Peringatan, dan Motivasi)

Oleh: Abu Haitsam Buldan Taufik
  hamsaTak terbetik sebelumnya keinginanku mencari tahu pandangan syari’at mengenai operasi caesar untuk seorang ibu yang melahirkan, juga apa dampak yang akan terjadi setelahnya. Mungkin karena aku sendiri tak pernah menghadapi permasalahan tersebut, atau tak menemukan momentum hingga perlu mempelajarinya.  Anakku yang pertama lahir tahun 2005 yang lalu secara normal (qadarallah ia telah meninggal dunia saat masih berusia 9 bulan-an), begitu pula anak kedua lahir tahun 2007 dengan normal. Barulah anak yang ketiga lahir dengan operasi caesar tahun 2009. Bukan, bukan karena istriku ingin menghindari fitrah sakitnya melahirkan, atau mengejar tanggal tertentu yang dianggap ‘cantik’, seperti lahir tanggal 8 bulan 8 tahun 2008 jam 8 lebih 8 menit, atau karena ingin bertepatan dengan kemeriahan tahun baru tertentu. Read the rest of this entry

Menikah dengan Lelaki Buruk Rupa

  • Para wanita shalehah yang siap menggenggam bara api, apabila datang perintah syari’at kepada mereka, maka ia akan senantiasa ta’at, menerima, dan menurutinya; tidak menentang, menyelisihi, atau mencari-cari alasan untuk menghindar. Perhatikan kisah seorang wanita yang mulia lagi menjaga kesucian diri di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;Dikisahkan, ada seorang pemuda yang bernama Julaibib, ia memiliki rupa yang buruk. Rasulullah menawarinya untuk menikah. Tapi Julaibib menjawab: “Engkau lihat sendiri aku orang yang buruk rupa.” Rasulullah menjawab: “Tapi engkau tidaklah buruk dalam pandangan Allah.” Begitulah, Rasul pun kemudian senantiasa mencari-cari peluang untuk mendapatkan wanita yang mau dinikahkan dengan Julaibib.Hingga, datanglah kepadanya seorang lelaki dari kaum Anshar pada suatu hari; ia menawarkan anak wanitanya yang janda untuk dinikahi Rasulullah.

Read the rest of this entry

Kisah Sabar Yang Paling Mengagumkan


Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Prof. Dr. Khalid al-Jubair penasehat spesialis bedah jantung dan urat nadi di rumah sakit al-Malik Khalid di Riyadh mengisahkan sebuah kisah pada sebuah seminar dengan tajuk Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan). Mari sejenak kita merenung bersama, karena dalam kisah tersebut ada nasihat dan pelajaran yang sangat berharga bagi kita.
Sang dokter berkata:

Pada suatu hari -hari Selasa- aku melakukan operasi pada seorang anak berusia 2,5 tahun. Pada hari Rabu, anak tersebut berada di ruang ICU dalam keadaan segar dan sehat. Read the rest of this entry

Duhai Wanita Mukminah Engkau Adalah Ratu…!

Duhai para wanita, di dalam islam kalian adalah ratu…!

Rumahmu adalah singgasanamu…!

Malumu adalah mahkotamu…!

Wahai para wanita..sungguh kalian adalah ratu dalam islam, betapa berharganya kalian.. sampai  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berwasiat kpd para orang tua untuk merawat kalian. Sebagaimana  sabdanya yg diriwayatkan oleh Imam Muslim,

من عال جاريتين حتى تبلغا جاء يوم القيامة أنا وهو وضّم أصابعه

“Barangsiapa yg merawat dua anak wanitanya dg baik, samapai mrk dewasa, maka aku dan dia dating pada hari qiamat, sambil perpegangan tangan.

Begitu pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berwasiat kpd anak untuk berbakti kepada kalian, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Shahihain; bahwasannya ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi; “Siapakah yang paling berhak untuk diperlakukan dengan baik?” Rasul menjawab: “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu; kemudian ayahmu.”

Bahkan, Rasul pun berwasiat kepada para suami agar bersikap baik terhadap istrinya; dan beliau pun mencela suami yang memarahi istrinya atau bersikap buruk terhadapnya. Dalam riwayat Muslim dan At-Tirmidzi disebutkan; bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda; “Ingatlah, hendaknya kalian berlaku baik terhadap para istri! Ingatlah, hendaknya kalian berlaku baik terhadap para istri!” Read the rest of this entry

Sebab-Sebab Lemah Iman

Sesungguhnya, lemah imam mempunyai sekian banyak penyebab, yang di antaranya bersatu dengan gejala-gejala lemah iman, seperti, terjatuhnya seseorang kepada kemaksiatan, dan kesibukannya dengan urusan dunia. Berikut ini adalah sebagian penyebab lemah iman dikaitkan dengan gejala-gejala lemah iman yang telah dipaparkan pada postingan yang telah lalu (Gejala-Gejala Lemah Iman).
Pertama: Jauh dari Iklim Keimanan dalam Waktu Yang Panjang

Hal ini merupakan faktor pendorong lemahnya keimanan di dalam diri, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ(16)

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. Al-Hadid: 16)

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa menjauhnya seseorang dari iklim keimanan dalam rentang waktu yang panjang akan memicu kelemahan iman di dalam hatinya. Misalnya, seseorang yang berpisah dengan saudara-saudaranya seiman sekian lama, karena dirinya bepergian, bekerja, atau yang lainnya, maka ia akan kehilangan  atmosfir keimanan yang sebelumnya benar-benar ia nikmati, dan hal itu sangat berpengaruh kepada keteguhan hatinya. Seorang Mukmin itu kecil bersama dirinya, dan besar bersama saudara-saudaranya, seperti kata Hasan Al-Bashri rahimahullah: “Saudara-saudara kita seiman lebih berharga dari pada keluarga-keluarga kita; Oleh karena, keluarga-keluarga kita mengingatkan kita terhadap urusan dunia, sedangkan saudara-saudara kita mengingatkan kita akan urusan akhirat.” Read the rest of this entry