Melahirkan dengan Operasi Caesar (Anugerah, Musibah, Peringatan, dan Motivasi)

Oleh: Abu Haitsam Buldan Taufik
  hamsaTak terbetik sebelumnya keinginanku mencari tahu pandangan syari’at mengenai operasi caesar untuk seorang ibu yang melahirkan, juga apa dampak yang akan terjadi setelahnya. Mungkin karena aku sendiri tak pernah menghadapi permasalahan tersebut, atau tak menemukan momentum hingga perlu mempelajarinya.  Anakku yang pertama lahir tahun 2005 yang lalu secara normal (qadarallah ia telah meninggal dunia saat masih berusia 9 bulan-an), begitu pula anak kedua lahir tahun 2007 dengan normal. Barulah anak yang ketiga lahir dengan operasi caesar tahun 2009. Bukan, bukan karena istriku ingin menghindari fitrah sakitnya melahirkan, atau mengejar tanggal tertentu yang dianggap ‘cantik’, seperti lahir tanggal 8 bulan 8 tahun 2008 jam 8 lebih 8 menit, atau karena ingin bertepatan dengan kemeriahan tahun baru tertentu. Belakangan aku pun mendapati hukum orang yang melahirkan caesar dengan alasan-alasan semacam itu adalah haram. Bahkan Syaikh Utsaimin menyebut orang yang sengaja datang ke rumah sakit untuk melakukannya telah mendapat wahyu dari syaithan, wal’iyadzu billah. Saat melahirkan anak ketiga, istriku didiagnosa bayinya terlilit tali pusar, akibatnya saat kontraksi hebat ia merasakan sakit yang tak terkira seolah tali pusarnya ditarik-tarik sang jabang bayi namun bayinya sendiri tak kunjung keluar (istilah bidan: tak ada kemajuan pembukaan jalan lahir), dan itu berlangsung selama dua malam; Satu malam bersama Bidan di rumah mertuaku, dan satu malam lagi bersama dokter kandungan di rumah sakit atas rujukan dari Bidan. Ketegangan saat itu mungkin tak terdefinisikan bahkan oleh kamus bahasa yang paling besar sekalipun. Qadarallah anakku yang ketiga itu harus lahir dengan operasi caesar (tepatnya di RS dr. Slamet Garut). Tak ada yang paling membuatku bersyukur selain anugerah Allah yang masih memberiku keselamatan istri tercinta dan anakku yang baru lahir. Duhai, adakah kebahagiaan di atas kebahagiaan itu!! Peringatan bagi Anda yang Mencari Musibah Musibah bukan untuk dicari, namun kita dituntut siap jika qadar Allah mengharuskan kita menghadapinya. Operasi caesar pada dasarnya adalah musibah. Aku tak habis pikir kenapa ada orang yang sengaja mencarinya bukan karena alasan medis yang dibenarkan syari’at. Coba Anda searching di situs-situs kesehatan banyak sekali pemaparan para ahli tentang dampak buruk operasi caesar. Aku sedikit berbagi di antaranya saja:

  1. Perawatan di rumah sakit lebih lama
  2. Pendarahan hebat & pembekuan darah
  3. Gangguan usus besar
  4. Pemulihan luka yang lebih lama yang tentunya menjadikan sang ibu lebih repot merawat diri dan anaknya pasca persalinan
  5. Infeksi pada bekas luka bedah dan sakit pada selangkangan
  6. Lebih rentan terhadap penyakit stroke.
  7. Berkurangnya kesuburan kehamilan
  8. Gangguan plasenta dan kerusakan rahim
  9. Potensi caesar pada kelahiran selanjutnya
  10. Pembatasan kehamilan tidak boleh lebih dari tiga kali operasi caesar
  11. Yang tak kalah penting, biayanya berkali-kali lipat lebih besar dari pada persalinan normal (bagi orang yang sengaja mencari musibah itu mungkin bukan masalah, karena rata-rata mereka orang berduit)
  12. Dst…

Tentu aku tak berharap istriku mengalami aneka dampak buruk yang disebutkan para ahli medis itu. Kepada Allah jualah kita berlindung dari berbagai keburukan. Hasbunallah wa ni’mal wakîl.. Harap-Harap Cemas Saat Kelahiran Putera (i) Keempat Tiga setengah tahun setelah operasi caesar anak ketiga , istriku hamil lagi (sengaja diberi jarak agak lama atas nasihat dari dokter kandungan). Awalnya, hanya satu hal yang paling diharapkan; ingin punya anak perempuan karena tiga anak sebelumnya laki-laki semua. Pada usia kehamilan 8-9 bulan aku dan istriku baru tahu kalau bidan tidak boleh melayani persalinan ibu yang punya riwayat caesar,  tapi harus dirujuk ke rumah sakit mengingat resiko persalinan yang besar. Resiko medis yang paling serius adalah robekan rahim sempurna di lokasi bekas bedah caesar. Jika hal ini terjadi, bayi harus dilahirkan segera dengan bedah caesar lagi karena aliran darah ke bayi akan terganggu, dan menurut penelitian 85% ibu yang melahirkan dengan operasi caesar maka pada kelahiran selanjutnya dioperasi kembali. Allahul musta’an. Ini yang tidak kami inginkan terjadi lagi, Cukuplah operasi caesar yang lalu sebagai musibah yang pertama sekaligus yang terakhir. Mulailah hal yang paling diharapkan adalah bagaimana caranya bisa melahirkan dengan normal meskipun sebelumnya pernah dicaesar (istilah medisnya: vaginal birth after cesarean [VBAC]). Masalah jenis kelamin bayi bergeser menjadi harapan yang kedua. Kami banyak searching pengalaman orang yang pernah menjalani operasi caesar, yang rata-rata memang dicaesar kembali pada kelahiran selanjutnya. Namun ada juga yang bisa melahirkan normal, meskipun tak banyak namun cukup memberi motivasi besar kepada kami agar tak berputus asa dari rahmat Allah. Hal pertama dalam usaha kami adalah mencari bidan yang mau melayani persalinan istriku. Kami berasumsi, pergi ke rumah sakit adalah titik awal menyerahkan diri kepada persalinan tak normal karena peralatan bedah memang hanya ada di rumah sakit. Pun kami banyak mendengar tak sedikit dokter kandungan di rumah sakit yang terlalu mudah mengarahkan pasiennya untuk operasi caesar. Di bidan tentu tak ada potensi itu karena mereka tak punya peralatan bedah (mungkin asumsi ini terlalu naïf ya, hehe) Nyatanya, para bidan tak mau menerima kami. Barangkali itu kode etik profesinya. Bahkan bidan yang biasa kami kunjungi membesarkan hati kami agar mantap melangkah menuju rumah sakit jika kelak sudah muncul tanda-tanda persalinan. Bukannya besar malah ciut hati kami yang sedang berharap bidan tersebut mau melayani kami. Sempat pula kami mencoba konsultasi ke dua dokter kandungan di dua rumah sakit yang berbeda di Sukabumi. Rata-rata yang disampaikan justru resiko melahirkan normal bagi ibu yang punya riwayat caesar. Duh, inikah yang disebut dengan beban sejarah; membuat ciut generasi selanjutnya (ehm, kaya kata-kata orang bijak ya..) Kami berangan-angan seandainya ada bidan atau dokter kandungan yang berkata: “Jangan kuatir Pak/Bu, semua atas kehendak Allah, saya siap membantu ibu untuk melahirkan normal.” Sungguh kata-kata yang akan memberi kesejukan nyata, tak seperti fatamorgana di padang pasir. Memang ada salah satu dokter kandungan yang mengatakan, “ya nanti dicoba aja dulu,” saat kami menyampaikan harapan persalinan normal kepadanya. Namun itu tak cukup menguatkan kami untuk datang lagi kepadanya. Seolah solusi utama sang dokter adalah operasi caesar sedangkan persalinan normal hanya “coba-coba” saja. Informasi yang kami dapatkan dari sang dokter, jika ingin “coba-coba” persalinan normal harus memenuhi syarat-syarat utama, di antaranya:

  1. Bayi tidak sungsang
  2. Berat bayi tidak boleh melebihi berat bayi sebelumnya
  3. Persalinan tidak melewati hari perkiraan lahir (HPL)
  4. Air ketuban tidak pecah dini

Syarat yang pertama sudah terlampaui setelah sebelumnya sempat sungsang pada usia kehamilan 8 bulan. Syarat yang kedua sempat terjadi ikhtilaf (kaya pembahasan fiqih aja ya) antara bidan dengan dokter kandungan. Perkiraan dokter beratnya tidak melebihi berat bayi sebelumnya, sedangkan bidan menduga lebih berat karena fundus yang tampak tinggi. Beberapa hari sebelum HPL bahkan ada pernyataan kekhawatiran dari bidan, anak kami diduga kembar olehnya, dan lagi-lagi ia mengarahkan sebaiknya langsung ke rumah sakit saja. Karena tak mau terjebak dalam kekhawatiran yang berlebihan, kami abaikan saja dugaan bidan tersebut bagaikan angin lalu saja. Istriku berupaya melakukan diet karbohidrat supaya bayinya tidak besar. Hingga tibalah masanya menjelang HPL, tak ada tanda-tanda mau melahirkan sama sekali. Bahkan hingga satu hari melewati HPL belum ada juga kontraksi tanda persalinan. Pun setelah dua hari melewati HPL belum ada tanda-tanda itu. Sebagaimana sering disarankan bidan, istriku hanya memperbanyak jalan kaki supaya bayi cepat turun. Sedangkan doa yang senantiasa kami panjatkan kepada Ar-Rahman adalah persalinan normal bagi istriku, dan tidak sampai dirujuk ke rumah sakit. Yang membuat kami tenang kembali adalah informasi di beberapa situs, yang disebut melewati HPL adalah apabila telah melewati 7 hari dari HPL itu. “Tenang aja Mi, baru juga lewat dua hari,” begitu ucapanku menyemangati istriku. Barulah malam ketiga sejak HPL, istriku merasakan kontraksi sejak ba’da Maghrib. Kontraksi itu semakin rutin kemunculannya dengan interval yang semakin lama semakin pendek. Setiap aku ajak segera berangkat ke bidan, istriku menjawab: “Tenang aja Bi, kalau sekarang berangkat ke bidan pasti dirujuk ke rumah sakit karena terlihat keadaanku belum payah.” Ya kami memang tetap berkomitmen mau meminta bantuan ke bidan terlebih dahulu. Tapi kami pun telah menyiapkan diri berpaling ke rumah sakit seandainya bidan memang tetap menolak. Semalaman kami tak tidur, setiap datang gerakan bayi yang semakin lama semakin hebat itu aku hanya bisa memijit-mijit punggung istriku untuk mengurangi rasa sakitnya; Rasa sakit semua wanita yang hendak melahirkan. Entahlah apa sakit itu punya definisi?! Ba’da Shubuh barulah kami berangkat dengan meminjam mobil Al-Ma’tuq yang sopirnya sudah dikontak sejak semalam. Kami tidak berangkat ke rumah sakit, tidak pula ke bidan yang biasa kami kunjungi yang nyata-nyata sudah menyatakan penolakannya. Tapi kami pergi ke bidan yang lain di sebuah klinik. Tiba di klinik pukul 6.00, keadaan istriku lemah sekali. Saat  turun dari mobil, air ketuban pecah. Teringatlah informasi yang pernah aku baca jika air ketuban pecah dan bayi tidak lahir dalam 24 jam maka bayi harus dilahirkan dengan operasi caesar (lagi-lagi caesar yang ditakutkan itu, hiii) Diperiksalah istriku oleh salah seorang bidan, “Kepala bayi sudah di bawah,” katanya, “tapi baru pembukaan empat,” lanjutnya. Istriku berkali-kali meringgis kesakitan. Untuk menambah tenaganya dia hanya meminta disuapin sari kurma saja yang memang sudah dibekal dari rumah. Kami telah siap mendengarkan seandainya bidan merujuk ke rumah sakit ketika ia tahu istriku punya riwayat caesar. Sambil menunggu perkembangan, pertanyaan-pertanyaan standar diajukan bidan kepadaku: Nama lengkap, usia, alamat, dan anak ke berapa. Dengan lancar aku menjawabnya. Namun saat ditanya riwayat kelahiran sebelumnya, aku hampir tercekat menerangkan kelahiran anak ketiga. Namun tak mungkin pula aku berbohong, “Yang ketiga di-caesar,” jawabku jujur. Terlihat rona kaget bidan yang tampak segera ditutupinya. Lalu datanglah bidan yang kedua dan ketiga (rupanya di klinik tersebut ada tiga orang bidan yang melayani). Bidan yang kedua sempat bertanya juga dengan pertanyaan-pertanyaan seperti yang pertama. Saat dijawab bahwa anak sebelumnya dicaesar, ia tampak kaget pula dan sontak berucap, “oh riwayat caesar ning, harusnya kan ke rumah sakit,” ujarnya sambil melirik ke bidan yang pertama. Aku pura-pura tak mendengarnya sambil menunggu apa sikap mereka selanjutnya, “Huss.. jangan bicara di depan pasien seperti itu,” begitu jawab bidan yang pertama setengah berbisik ke bidan yang kedua. Bagiku ini sebuah pertanda yang baik; bidan yang pertama cukup bijaksana dan tak ingin menciutkan nyali istriku yang hendak melahirkan (belakangan aku baru tahu ternyata istriku pun mendengarkan percakapan itu meskipun matanya sedang merem melek menahan sakit) Kemudian ketiga bidan itu meninggalkan kami, kata mereka hendak sarapan dulu di ruangan sebelah dan dua jam kemudian baru akan memeriksa lagi perkembangan istriku. Namun baru sekitar satu jam, aku tak tahan melihat istriku yang berulang kali meringgis dan bergantian menarik dan mengeluarkan nafas panjang. Duhai, itukah sakit seorang ibu yang, kata Umar bin Khattab, tak akan terbalaskan oleh kebaikan anaknya sekalipun dengan menggendong ibu itu di atas punggungnya untuk pergi naik haji?? Lalu kupanggil bidan-bidan itu supaya memeriksa keadaan istriku. Dengan sigap ketiganya berdatangan, dan terjadilah apa yang terjadi, ternyata memang sudah waktunya lahir. Dengan bimbingan mereka, melalui perjuangan dan pengorbanan berdarah-darah istriku yang senilai jihad itu, dengan izin Allah anakku lahir normal tepat pukul 07.30 tanggal 31 Mei 2013 yang lalu. Subhanâllâh, wal hamdulillâh, wa lâ ilâha illallâh, wallâhu Akbar. Tercapailah apa yang diharapkan; harapan agar istriku dapat melahirkan normal, tidak dirujuk ke rumah sakit, juga anak kami berjenis kelamin perempuan. Tiada syukurku kecuali hanya kepada Allah. Tiada yang kami lakukan kecuali tahmîd, takbîr, tasbîh dan tahlîl. Serta merta ku berlari mencari tempat yang bersih, tersungkur sujud kepada Rabb Yang telah menunjukkan kuasa-Nya, diiringi air mata yang tak kuasa kubendung…

Tidaklah kutulis pengalaman pribadi ini kecuali untuk tahadduts bin ni’mah, sekaligus peringatan dan bahan motivasi bagi siapa saja yang membutuhkan. Aku teringat saat menghadapi permasalahan yang sama, cerita dan pengalaman orang lain bisa menjadi ilmu dan inspirasi bagiku, paling tidak menjadi second opinion dari ilmu dan pengalaman orang sebelumnya.

 “Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” Maka tak lupa aku ucapkan terima kasih kepada tim bidan di Klinik Alami Cisaat yang telah melayani kami dengan baik, walaupun awalnya kaget saat mengetahui riwayat kelahiran sebelumnya. Wabil-khusus pimpinan atau pemilik klinik, dr. Leny Novitasari, yang konon memberi support kepada para bidan melalui SMS untuk menerima dan memperlakukan istriku dengan baik. Juga terima kasihku untuk bidan yang [meskipun] menolak persalinan istriku, namun jasa-jasa, kebaikan dan nasehat-nasehatnya selama pemeriksaan kehamilan selama ini tak patut kami lupakan. Jazâkumullâh ahsanal jazâ.    Wallâhu a’lam bi as-shawâb  Villa Al-Ma’tuq, 23/06/2013 [hari pertama liburan akhir semester]  Hamba Allah Yang Lemah,  Buldan Taufik (suami dari Aisyah Ummu Haitsam, dan ayah 4 orang anak: Haikal Abdullah [2005, wafat:2006], Haitsam Sayyaf [2007], Humam Fayyadh [2009], dan Hamsa’ Mazaya [2013]) Tulisan ini saya reshare  dari catatan facebook suami. Semoga bermanfaat…

Artikel:  https://asya84.wordpress.com/

Posted on 24 Juni 2013, in Coretan Penaku, Renungan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. sungguh pengalaman yg luar biasa… menginspirasi… saya sdg hamil 8bulan anak kedua… dimana riwayat anak pertama sesar dan usianya baru 2tahun… tiap kontrol dokter mmg sll bilang “kita coba normal dulu ya bu”… dimana riwayat SC pertama krna lwt 3minggu dari HPL dengan bb bayi 3,9kg tdk masuk panggul/CPD/panggul sempit, hb rendah hingga hrs transfusi 3kantong dan gawat janin (detak jantung bayi serta gerakan melemah akibat air ketuban yg sdh kehijau2an… diagnosa dokter kondisi bayi yg lemah tdk mngkin dilakukan induksi krna resiko tinggi bayi bs meninggal jk tdk segera dikeluarkan… akh sepertinya tdk ada pilihan lain selain segera menyelamatkan anak kami… mmg setelah lahirpun anak kami hrs dirawat diruang khusus dan menjalani teraphy selama satu minggu didlm ruang dengan sinar biru (kadar bilirubin jg sangat tinggi) krna kondisinya yg lemah… dan saat ini saya msh dilema antara melahirkan normal dan sesar krna resiko2 tsb… saya mmg tdk tau hukum sesar sprti apa dlm kondisi saya… tapi suami saya bersikukuh untuk sesar lg saja sesuai anjuran dokter krna khawatir dengan resiko2 tsb… dimana hamil kedua inipun saya kena HEG, anemia, tekanan darah rendah hingga harus berkali2 dirawat dirumah sakit… mudah2an ada jalan yg terbaik saja untuk saya dan bayi saya… dan mudah2an saya tdk termasuk wanita yg mengingkari kodrat saya krna hrs melahirkan dengan cara sesar… apapun saya hanyalah seorang ibu yg hanya ingin terbaik untuk anak2 saya…

  2. sungguh pengalaman yg luar biasa… menginspirasi… saya sdg hamil 8bulan anak kedua… dimana riwayat anak pertama sesar dan usianya baru 2tahun… tiap kontrol dokter mmg sll bilang “kita coba normal dulu ya bu”… dimana riwayat SC pertama krna lwt 3minggu dari HPL dengan bb bayi 3,9kg tdk masuk panggul/CPD/panggul sempit, hb rendah hingga hrs transfusi 3kantong dan gawat janin (detak jantung bayi serta gerakan melemah akibat air ketuban yg sdh kehijau2an… diagnosa dokter kondisi bayi yg lemah tdk mngkin dilakukan induksi krna resiko tinggi bayi bs meninggal jk tdk segera dikeluarkan… akh sepertinya tdk ada pilihan lain selain segera menyelamatkan anak kami… mmg setelah lahirpun anak kami hrs dirawat diruang khusus dan menjalani teraphy selama satu minggu didlm ruang dengan sinar biru (kadar bilirubin jg sangat tinggi) krna kondisinya yg lemah… dan saat ini saya msh dilema antara melahirkan normal dan sesar krna resiko2 tsb… saya mmg tdk tau hukum sesar sprti apa dlm kondisi saya… tapi suami saya bersikukuh untuk sesar lg saja sesuai anjuran dokter krna khawatir dengan resiko2 tsb… dimana hamil kedua inipun saya kena HEG, anemia, tekanan darah rendah hingga harus berkali2 dirawat dirumah sakit… mudah2an ada jalan yg terbaik saja untuk saya dan bayi saya… dan mudah2an saya tdk termasuk wanita yg mengingkari kodrat saya krna hrs melahirkan dengan cara sesar… apapun saya hanyalah seorang ibu yg hanya ingin terbaik untuk anak2 saya…

    • Maaf… sy br sempat balas komen bunda, slm punya baby sy vakum dr nge-blog dan fokus mengurus anak-anak. mungkin sekarang bunda sdh melahirkan ya..?🙂 semoga bunda & bayinya sehat, Semoga bunda mendapat limpahan pahala atas perjuangannya. in sya Alloh bunda tdk termasuk wanita yg ingin menghindari fitrah sakitnya melahirkan, krn memang secara medis bunda termasuk beresiko melahirkan normal. bunda benar setiap ibu pasti ingin memberikan yg terbaik utk buah hatinya, begitu juga sy, saat dulu divonis hrs sesar, yg terlintas di benakku adalah hanya ingin buah hatiku lahir dlm keadaan selamat. tak terbetik sedikitpun dlm lintasan pikiranku mengangankan sesar, tp qodarullah, Alloh punya skenario lain dlm hidupku, sy hrs sabar & ikhlas menerimanya. tp saat itu ada sebait doa yg aku panjatkan kpd Rabb pemelihara alam rahim ” Rabbi..janganlah engkau hapuskan pahala melahirkan untukku, dan anugerahkan kembali padaku persalinan normal”. tiga thn kemudian alhamdulillah Alloh kembali menitipkan janin dlm rahimku, dr awal memasuki trimester 1 kondisiku sbgaimana wanita hamil pd umumnya yaitu aku mengalami ‘morning sickness’, kemudian ketika memasuki trimester 2, kondisiku alhamdulillah berangsur fit, baru pas memasuki trimester 3 sy sering mengalami kondisi tubuh yg lebih lemas di bandingkan dg kondisi kehamilanku sebelumnya.Ketika di cek ke dokter kandungan, hemoglobin aku rendah sekali smpai menyentuh level 8,9 padahal normalnya Hb Perempuan dewasa : 12-16 gram/dl, ternyata ngeri juga saat mengetahui resiko ibu hamil yang Hb nya rendah itu bisa berdampak buruk pd pertumbuhan janin dan yg lbh mengerikan bisa berakibat pada kematian si ibu saat melahirkan. akhirnya sy rajin mengkonsumsi makanan dg asupan zat besi tinggi. (memang slm kehamilan porsi mknku sedikit sekali di tambah mungkin kurang asupan makanan yg mengandung zat besi). selang beberapa minggu aku cek lg ke laboratorium, alhamdulillah Hb ku kembali normal. dan yg lebih membuatku bersyukur adalah alhamdulillah Allah mengijabah do’aku, Allah jalla wa ‘alaa kembali menganugerahiku persalinan normal. ّ
      ّاللهم إني أشكرك بنعمتك الّتي أنعمت علي

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: