PENGHAPUS-PENGHAPUS DOSA

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat serta salam untuk Nabi kita Muhammad yang tiada lagi nabi setelahnya. Amma ba’du:

Sesungguhnya, hal-hal yang dapat menghapus dosa itu banyak dan beragam jenisnya. diantaranya, sebagai berikut:

Pertama: Istighfar (Permohonan Ampun)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Istighfar termasuk penghapus dosa.” Beliau menyebutkan hal ini di dalam kitabnya, Majmu’al-Fatawa. Beliau pun pernah berwasiat kepada Abu al-Qasim al-Maghribi: “Sesungguhnya, istighfar itu bisa saja menghapus dosa, tanpa disertai taubat.” Pendapat beliau ini memang berbeda dengan pandangan sebagian ulama lainnya, di mana mereka mengatakan: “Sesungguhnya, istighfar tanpa taubat itu tak ada gunanya.”

Padahal, di belakang amal istighfar itu terdapat keutamaan, di belakangnya terdapat faedah, dan di belakangnya terdapat manfaat yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut lafadz istighfar dan lafadz taubat, di dalam Al-Quran, dengan tiga keadaan: Kadang-kadang, Dia menyebut lafadz istighfar dan taubat secara bersamaan; kadang-kadang menyebut lafadz taubat saja tanpa disertai istighfar; dan kadang-kadang, menyebut lafadz istighfar saja tanpa disertai taubat.

Atas dasar itulah, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkesimpulan, bahwasannya memohon ampun dengan istighfar itu bermanfaat bagi orang yang melakukan dosa, sekalipun tanpa taubat. Maka, beliau pun senantiasa beristighfar pada setiap waktunya. Karena istighfar itu, walaupun tanpa taubat tetap berguna dari sisi peluangnya untuk dikabulkan.

Kedua: Sabar dalam Menghadapi Musibah-musibah

Diantara keberuntungan hidup sebagai seorang Mukmin, dan diantara kasih-sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya yang dha’if ini, adalah bahwasannya Dia menjadikan setiap penderitaan, kesedihan, dan kesumpekan hidup seorang Mukmin sebagai sarana kafarat (penghapus) dosa dan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya.

Berikut ini akan disebutkan beberapa dalil yang dapat menguatkan prinsip ini, serta membuktikan kebenarannya:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا(123)

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (Qs. An-Nisa’: 123)

Firman-Nya dalam surat An-Nisa’ ini, sungguh luar biasa keagungannya.

Sebab turunnya ayat ini, adalah ketika sekelompok kaum Anshar berdialog dengan sekelompok orang Yahudi. Berkatalah orang-orang Yahudi: “Kami tak akan disiksa, karena kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihnya.” Mereka mengada-ada dan berdusta terhadap Allah;

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: ‘Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya’. Katakanlah: ‘Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?’ (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya.” (Qs. Al-Maidah: 18)

Jika kamu benar, mengapakah kamu disiksa  di dalam neraka?

Jika apa yang kamu nyatakan itu benar, mengapakah malapetaka, musibah-musibah, dan tragedi-tragedi buruk menimpamu?

Sesungguhnya, kalian berdusta atas nama Allah, dan mengada-ada dalam syari’at-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian menurunkan ayat ini, sebagai pembelaan terhadap orang-orang Anshar;

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا(123)

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (Qs. An-Nisa’: 123)

Maka, ganjaran Allah tak akan didapatkan dengan angan-angan kalian, wahai kaum Anshar, dan tidak pula oleh angan-angan orang-orang Yahudi ahli kitab itu.

Para mufassir (ahli tafsir) dari ahlussunnah, menyebutkan perihal Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, bahwasannya beliau membaca ayat ini dalam shalat malamnya yang sangat panjang, di masjidil haram Mekah. Sungguh, beliau menangis sejak ba’da shalat Isya hingga fajar, sambil mengulang-ulang bacaan ayat ini;

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا(123)

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (Qs. An-Nisa’: 123)

Imam Mujahid berkata: “Seandainya kalian melihat Ibnu ‘Abbas tempo hari, yang shalat sambil menangis, pastilah kalian akan mengatakan: ‘Sungguh, dirinya (seolah) baru ditinggal mati oleh seseorang’.”

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan.” (Qs. An-Nisa’: 123)

Para mufassir menyebutkan; Balasan Allah itu, adakalanya diberikan waktu di dunia ini, atau diberikan-Nya di akhirat kelak. Karena itulah, menurut madzhab ahlussunnah wal jama’ah, ayat ini menunjukkan bahwa musibah-musibah yang menimpa kita di dunia, adakalanya merupakan balasan Allah akan dosa-dosa kita, sehingga ia termasuk diantara penghapus-penghapus dosa.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan pula kaedah ini; bahwa segala musibah dan malapetaka, baik yang paling besarnya seperti kematian; ataupun yang paling kecilnya; seperti tertusuk duri, terkena panas matahari, atau adanya kegundahan di hati, dan kesukaran hidup lainnya, sesungguhnya semua itu termasuk diantara penghapus-penghapus dosa.

Suatu waktu, Rasulullah memicingkan tepi matanya ke langit, seraya tersenyum hingga tampak gigi-gigi taringnya.

Para sahabat pun bertanya; “Ada apakah, wahai Rasulullah!”

Rasulullah menjawab:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَلَيْسَ ذَالِكَ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ

“Sungguh mengagumkan perkara seorang Mukmin itu. Sesungguhnya, semua perkaranya menjadi kebaikan baginya. Jika ia ditimpa kesenangan, ia bersyukur. Maka, itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ditimpa marabahaya, ia bersabar. Maka, itupun menjadi kebaikan baginya. Tidaklah ada kebaikan-kebaikan itu, kecuali untuk seorang Mukmin.” [1]

Ya, begitu mengagumkan urusan orang Mukmin itu. Sesungguhnya ia senantiasa berada di atas kebaikan, ketepatan hidup, dan berada dalam jarak yang semakin dekat dengan Allah; Kedekatannya itu terus menerus meningkat, baik karena kenikmatan-kenikmatan, maupun karena musibah-musibah yang menimpanya.

Ketiga: Dahsyatnya Sakaratul maut

Termasuk penghapus dosa juga, adalah pedihnya dicabut nyawa dan dahsyatnya sakaratul maut. Tahukah kamu apa itu sakaratul maut? Ia adalah peristiwa yang akan dilalui oleh setiap orang.

Seorang ulama berkata: “Itulah peristiwa kematian, di mana orang-orang lalim dihinakan karenanya, orang berdosa direndahkan, orang yang sombong ketakutan, orang kaya akan merasa miskin, dan orang besar akan merasa kecil.”

Peristiwa yang pasti terjadi ini mesti dilalui setiap orang. Kebenarannya disebut-sebut dalam Al-Quran dan as-sunnah.

Dalam Al-Quran disebutkan secara selintas, sedangkan dalam as-sunnah dijelaskan secara gamblang.

Seandainya ada seorang manusia yang selamat dari pedihnya kematian, tentu Muhammad-lah yang pantas untuk selamat. Karena beliau adalah makhluk Allah yang paling mulia.

Di dalam sebuah hadits, ‘Aisyah berkata: “Ketika kematian menjemput Rasulullah, di  hadapan beliau terdapat sebuah bejana. Mulailah beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam air, kemudian mengusap wajah dengannya, seraya berkata: ‘Tidak ada Tuhan selain Allah. Sesungguhnya, orang mati akan mengalami pedihnya sakarat’. Kemudian beliau mengangkat tangannya, dan berkata: ‘Ya Allah, jadikanlah aku bersama pendamping yang paling tinggi’. Lalu beliau pun meninggal, sedang tangannya telah diturunkan.” [2]

Dalam riwayat lain, beliau berdo’a: “Ya Allah, tolonglah aku dalam menghadapi kepedihan sakaratul maut.” [3]

Dalam riwayat lainnya lagi; “Ketika tiba sakaratul maut kepada Rasulullah, mulailah beliau menutupkan sebuah kain ke wajahnya. Hingga, ketika beliau terlihat merasa sesak, beliau pun membukanya, kemudian berkata: ‘Laknat Allah untuk orang-orang Yahudi dan Nashrani, karena mereka menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid’.” [4]

Rasulullah mewanti-wanti umatnya dari melakukan seperti yang mereka perbuat itu.

Ahli sejarah berkata; Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, apabila berkumpul dengan para sahabat, ia berkata; “Marilah kita mengingat kematian”,  Kemudian ia pun berkata kepada Ka’ab Al-Ahbar; “Sampaikan kepada kami tentang kematian, dan terangkan bagaimana sifat-sifatnya.”

Ka’ab pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin, aku tak mendapatkan perbandingan kematian, kecuali ia bagaikan sebuah pohon berduri yang dipukulkan kepada manusia, hingga setiap durinya menancap pada semua urat di badannya. Kemudian pohon itu ditarik paksa, hingga ia pun tercerabut, dan bersamanya tercerabut pula semua uratnya.”

Mendengar itu, Umar langsung menangis. Begitu pula semua sahabat selainnya. Semoga ridha Allah untuk mereka semua.

Karena itu, jika Anda menyaksikan sendiri orang yang ditimpa penyakit anjing gila, orang yang ditimpa kematian, orang yang sedang menghadapi sakaratul maut atau yang sedang dicabut nyawanya, niscaya Anda mendapatkan banyak pelajaran, jika Anda masih memiliki nurani dan akal yang sehat. Serta, jika Anda memang menginginkan ridha Allah dan kebahagiaan di kampung akhirat. Ya, Anda akan menyaksikan bagaimana maut itu memperlakukan kulit luar manusia.

Abdullah bin ‘Amr berkata kepada ayahnya, Amr bin ‘Ash –yang saat itu sedang merasakan pedihnya sakaratul maut yang semakin dahsyat–: “Wahai ayah, jujurlah kepadaku, saat ini engkau berada pada saat yang tak mungkin lagi berdusta; katakan kepadaku bagaimana kau merasakan kematian ini?”

‘Amr bin ‘Ash menarik nafas, kemudian berkata: “Wahai anakku, demi Allah, rasanya diriku seperti ditusuk-tusuk jarum, dan seolah-olah aku bernafas dari lubang jarum itu. Juga, gunung-gunung yang ada di dunia ini, rasanya ditimpakan ke atas dadaku.”

Namun, Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman;

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ(27)

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim, dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim: 27)

Maka, barangsiapa yang ingin Allah kokohkan keimanannya, dan Allah tepatkan langkahnya serta Allah bimbing lidahnya dalam berucap, maka hendaknya ia mengokohkan diri dengan beramal shaleh. Para ulama mengatakan: “Permulaan itu menjadi tanda penghabisannya.”

Dalam riwayat Tirmidzi, dengan sanad hasan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ

“Sesungguhnya, seorang Mukmin itu meninggal, dengan keningnya yang berkeringat.” [5]

Para ulama, diantaranya Ibnu Hajar, berkata: Maksud “meninggal dengan kening berkeringat” itu, bisa jadi karena Allah memberatkan proses sakaratul mautnya, sehingga keningnya berkeringat, dan jadilah peristiwa sakaratul maut yang berat itu, sebagai penghapus dosanya.

Shalawat serta salam untuk nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, beserta sahabat-sahabat beliau semuanya…

***********———-***********

Dinukil dari kutaib mukkafirat ad-dzunub, penerjemah Abu Haitsam Buldan

Artikel: https://asya84.wordpress.com/


1)       Riwayat Muslim nomor: 7449 dari Shuhaib bin Sinan, serta rwayat Ahmad nomor: 18579, 18584 dan 23533.

2)       Riwayat Bukhari nomor: 4339 dan 6363.

3)       Riwayat Ahmad nomor: 23963, riwayat Trmidzi nomor: 974, riwayat Ibnu Majah nomor: 1672, dan lihat dalam Al-Musykat nomor: 1564.

4)       Riwayat Bukhari nomor: 5682, dan riwayat Muslim nomor: 1139.

5)       Riwayat Ahmad nomor: 22582 dan 22665, riwayat Tirmidzi nomor: 976, riwayat An-Nasa’i nomor: 1829, riwayat Ibnu Majah nomor: 1499, dan lihat di dalam Al-Musykat nomor: 1610.

Posted on 12 Februari 2013, in Aqidah, Tazkiyatun Nufus and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. jadi misal mau dosa apapun dengan kit sabar dalam menghadapi cobaan insya allah dosa akn di hpus gitu pk ustdz? terimkasih😉

  2. taubatan nasuha itu contohnya seperti apa bu?
    terimakasih😉

    • TAUBAT NASHUHA

      Oleh
      Syaikh Salim bin Id Al Hilali

      Manusia tidak lepas dari kesalahan, besar maupun kecil, disadari maupun tanpa disengaja. Apalagi jika hawa nafsu mendominasi jiwanya. Ia akan menjadi bulan-bulanan berbuat kemaksiatan. Ketaatan, seolah tidak memiliki nilai berarti.

      Meski manusia dirundung oleh kemaksiatan dan dosa menumpuk, bukan berarti tak ada lagi pintu untuk memperbaiki diri. Karena, betapapun menggunung perbuatan maksiat seorang hamba, namun pintu rahmat selalu terbuka. Manusia diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Yaitu dengan bertaubat dari perbuatan-perbuatan yang bisa mengantarkannya ke jurang neraka. Taubat yang dilakukan haruslah total, yang dikenal dengan taubat nashuha. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

      كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَاءٌ وَ خَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّبُوْنَ. رَوَاهُ التِّرْمـِذِيُّ

      Setiap anak adam (manusia) berbuat kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah yang bertaubat. [2]

      لَوْ أَنَّ الْعِبَادَ لَمْ يُذْنِبُوْا لَخَلَقَ اللهُ الْخَلقَ يُذْنِبُوْنَ ثُمَّ يَغْفِرُ لَهُمْ رَواه الْحَاكِمُ

      Seandainya hamba-hamba Allah tidak ada yang berbuat dosa, tentulah Allah akan menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa kemudian mengampuni mereka.[3]

      Dengan bertaubat, kita dapat membersihkan hati dari noda yang mengotorinya. Sebab dosa menodai hati, dan membersihkannya merupakan kewajiban. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya seorang mukmin bila berbuat dosa, maka akan (timbul) satu titik noda hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, meninggalkan (perbuatan tersebut) dan memohon ampunan (kepada Allah), maka hatinya kembali bersih. Tetapi bila menambah (perbuatan dosa), maka bertambahlah noda hitam tersebut sampai memenuhi hatinya. Maka itulah ar raan (penutup hati) yang telah disebutkan Allah dalam firmanNya “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. [Al Muthaffifin:14] [4]

      Allah juga menganjurkan kita untuk segera bertaubat dan beristighfar, karena hal demikian jauh lebih baik daripada larut dalam dosa. Allah berfirman.

      ۚ فَإِن يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَّهُمْ ۖ وَإِن يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

      Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. [At Taubah : 74]

      Rasulullah sendiri telah memberikan contoh dalam bertaubat ini. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak bertaubat dan beristighfar, sampai-sampai para sahabat menghitungnya sebanyak lebih dari seratus kali dalam satu majlis, sebagaimana Nafi’ maula Ibnu Umar telah menyatakan :

      كَانَ انْنُ عُمَرُيُعَدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةُ مَرَّةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَقُومَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ رَوََاهُ التِّرْمِذِي

      Ibnu Umar pernah menghitung (bacaan istighfar) Rasulullah n dalam suatu majlis sebelum bangkit darinya seratus kali, (yang berbunyi) : Ya Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat lagi Maha pengampun. [5]

      PENGERTIAN TAUBAT NASHUHA
      Yang dimaksud dengan taubat nashuha, adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah dari dosa yang pernah dilakukannya, baik sengaja ataupun karena ketidaktahuannya, dengan jujur, ikhlas, kuat dan didukung dengan ketaatan-ketaatan yang mengangkat seorang hamba mencapai kedudukan para wali Allah yang muttaqin (bertakwa) dan (ketaatan) yang dapat menjadi pelindung dirinya dari setan.

      HUKUM DAN ANJURAN TAUBAT NASHUHA
      Hukum taubat nashuha adalah fardhu ‘ain (menjadi kewajiban setiap individu) atas setiap muslim. Dalilnya :

      1. Firman Allah :

      وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

      Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [An Nuur : 31].

      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

      Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. [At Tahriim : 8].

      2. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ إِلَى اللهِ فِيْ الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّة.ٍ رَوَاهُ مُسْـلِمٌ

      Wahai, kaum mukminin. Bertaubatlah kepada Allah, karena saya juga bertaubat kepada Allah sehari seratus kali.[6]

      Umat Islam juga telah bersepakat tentang kewajiban bertaubat, sebagaimana dinyatakan Imam Al Qurthubi : “(Para ulama) umat telah ijma’ (bersepakat) bahwa hukum bertaubat adalah fardhu (wajib) atas seluruh mukminin” [7]. Ibnu Qudamah juga menyatakan demikian [8].

      KELUASAN RAHMAT ALLAH DAN KEUTAMAAN TAUBAT NASHUHA
      Manusia hendaklah jangan khawatir jika taubatnya tidak diterima, karena rahmat Allah sangat luas, sebagaimana do’a para malaikat yang dijelaskan dalan firmanNya :

      رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

      Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala. [Al Mu’min:7].

      SYARAT TAUBAT NASHUHA
      Agar taubat nashuha bisa diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala, ada beberapa syarat yang harus dipenuhinya :

      1. Islam.
      Taubat yang diterima hanyalah dari seorang muslim. Adapun orang kafir, maka taubatnya ialah dengan masuk memeluk Islam. Allah berfirman.

      وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

      Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang “. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. [An Nisaa’ : 18].

      2. Ikhlash.
      Taubat yang diterima secara syari’at, hanyalah yang didasari dengan keikhlasan. Taubat karena riya` atau tujuan duniawi, tidak dikatakan sebagai taubat syar’i. Allah berfirman.

      إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

      Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. [An Nisaa’ : 146].

      3. Mengakui dosanya.
      Taubat tidak sah, kecuali setelah mengetahui perbuatan dosa tersebut dan mengakui kesalahannya, serta berharap selamat dari akibat buruk perbuatan tersebut.

      4. Penuh penyesalan.
      Taubat hanya bisa diterima dengan menunjukkan penyesalannya yang mendalam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

      النَّدَمُ تَوْبَةٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه

      Penyesalan adalah taubat.[9]

      5. Meninggalkan kemaksiatan dan mengembalikan hak-hak kepada pemiliknya.
      Orang yang bertaubat wajib meninggalkan kemaksiatannya dan mengembalikan setiap hak kepada pemiliknya, jika berupa harta atau yang sejenisnya. Kalau berupa tuduhan fitnah atau yang sejenisnya, maka dengan cara meminta maaf. Apabila berupa ghibah (menggunjing), maka dengan cara memohon dihalalkan (ditoleransi) selama permohonan tersebut tidak menimbulkan pengaruh buruk yang lain. Bila ternyata berimplikasi buruk, maka cukuplah dengan mendoakannya untuk meraih kebaikan.

      6. Masa bertaubat sebelum nafas berada di kerongkongan (sakaratul maut) dan sebelum matahari terbit di arah barat.
      Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

      إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ. رَوَاهُ التِرْمِذِي

      Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba sebelum nafasnya berada di kerongkongan [10].

      الْهِجْرَةُ لاَ تَنْقَطِعُ حَتَّى تَنْقَطِعَ الْتَوْبَةُ وَلاَ تَنْقَطِعُ الْتَوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا. رَوَاهُ أبو دَاوُد وَأَحْمَدُ

      Hijrah tidak terputus sampai terhentinya (masa untuk) taubat, dan taubat tidak terputus sampai matahari terbit dari sebelah barat [11].

      7. Istiqamah setelah bertaubat.
      Allah berfirman.

      فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

      Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. [Huud : 112].

      8. Mengadakan perbaikan setelah taubat.
      Allah berfirman.

      وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِن بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

      Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah “Salaamun-alaikum. Rabb-mu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al An’am : 54].

      YANG HARUS DIINGAT KETIKA BERTAUBAT
      1. Meyakini bahwa Allah Maha mengetahui dan Maha melihat. Allah mengetahui segala yang tersembunyi dan yang disembunyikan di dalam hati. Meskipun kita tidak melihatnya, tetapi Dia pasti melihatnya.

      2. Lihat keagungan Dzat yang Anda durhaai, dan jangan melihat kepada kecilnya obyek maksiat, sebagaimana firmanNya.

      نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ

      Kabarkan kepada hamba-hambaKu, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azabKu adalah azab yang sangat pedih. [Al Hijr : 49- 50].

      3. Ingatlah, bahwa dosa itu semuanya jelek dan buruk, karena ia menjadi penghalang dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

      4. Meninggalkan tempat-tempat kemaksiatan dan teman-teman yang berperangai buruk, yang biasa membantunya berbuat dosa, serta memutus hubungan dengan mereka selama mereka belum berubah menjadi baik.

      HAL-HAL YANG MENGHALANGI TAUBAT
      Di antara hal-hal yang menghalangi dosa ialah :
      1. Bid’ah dalam agama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

      إِنَّ اللهَ حَجَبَ اَلتَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ

      Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah. [Ash-Shahihah No. 1620]

      2. Kecanduan minuman keras. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

      مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَإِنْ عَادَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ نَهَرِ الْخَبَالِ قِيلَ وَمَا نَهَرُ الْخَبَالِ قَالَ صَدِيدُ أَهْلِ النَّارِ رَوَاهُ أَحْمَد

      Barangsiapa yang minum khamr (minuman keras), maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam. Jika ia bertaubat, maka Allah akan menerimanya. Namun, bila mengulangi lagi, maka pantaslah bila Allah memberinya minuman dari sungai Khibaal. Ada yang bertanya: “Apa itu sungai Khibaal?” Beliau menjawab,”Nanah penduduk neraka.[12]

      Demikianlah secara ringkas risalah tentang taubat nashuha. Semoga dapat menjadi pengingat kita untuk senantiasa bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

      [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun IX/1426H/2005M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
      _______
      Footnote
      [1]. Risalah ini diringkas oleh Ustadz Kholid Syamhudi dari At Taubah An Nashuh, karya Syaikh Salim bin Id Al Hilali, Penerbit Al Maktabah Al Islamiyah Yordania dan Dar Ibnu Hazm Beirut, Cet. III, Th. 1413 H.
      [2]. HR At Tirmidzi, no.2499 dan dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir, no. 4391.
      [3]. HR Al Hakim, hlm. 4/246 dan dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 967.
      [4]. Hadits riwayat Ibnu Majah, no. 4244 dan dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ no. 1666.
      [5]. HR At Tirmidzi, no. 3434 dan dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Shahihah, no.556.
      [6]. HR Muslim (17/24) dengan Syarh Nawawi, dari hadits ‘Abdullah bin ‘Umar.
      [7]. Al Jaami’ Li Ahkam Al Qur`an (5/90).
      [8]. Mukhtashar Minhaaj Al Qashidin, hlm. 322.
      [9]. HR Ibnu Majah, no. 4252 dan Ahmad no. 3568 dan yang lainnya. Hadits ini dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ Al Shaghir, no. 6678.
      [10]. HR At Tirmidzi no. 3537 dan dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir no.1899.
      [11]. HR Abu Dawud, no. 2479 dan Ahmad dalam Musnad (3/99) dan dishahihkan dalam Shahih Al Jami’, no. 7469.
      [12]. HR Ahmad (2/189) dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ Ash Shaghir, no. 6188

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: