Menikah dengan Lelaki Buruk Rupa

  • Para wanita shalehah yang siap menggenggam bara api, apabila datang perintah syari’at kepada mereka, maka ia akan senantiasa ta’at, menerima, dan menurutinya; tidak menentang, menyelisihi, atau mencari-cari alasan untuk menghindar. Perhatikan kisah seorang wanita yang mulia lagi menjaga kesucian diri di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;Dikisahkan, ada seorang pemuda yang bernama Julaibib, ia memiliki rupa yang buruk. Rasulullah menawarinya untuk menikah. Tapi Julaibib menjawab: “Engkau lihat sendiri aku orang yang buruk rupa.” Rasulullah menjawab: “Tapi engkau tidaklah buruk dalam pandangan Allah.” Begitulah, Rasul pun kemudian senantiasa mencari-cari peluang untuk mendapatkan wanita yang mau dinikahkan dengan Julaibib.Hingga, datanglah kepadanya seorang lelaki dari kaum Anshar pada suatu hari; ia menawarkan anak wanitanya yang janda untuk dinikahi Rasulullah.

  • “Ya, wahai fulan. Nikahkan untukku anak perempuanmu,” kata Rasulullah kepada lelaki itu.“Ini suatu berkah dan kemulian bagi kami, wahai Rasulullah,” ujar lelaki itu.“Sesungguhnya, bukan aku yang hendak menikahinya.” Jawab Rasulullah lagi.

    “Lalu, siapa?”

    “Julaibib.”

    “Julaibib, wahai Rasulullah?! Aku ingin bermusyawarah dulu dengan istriku.”

    Pergilah lelaki itu kepada istrinya, kemudian menceritakan keinginan Rasulullah tadi;

    “Wahai istriku, sesungguhnya Rasulullah meminang anak wanitamu.”

    “Ini suatu berkah dan kemulian yang besar; menjadi istri Rasul,” jawab istrinya.

    “Tidak, dia bukan meminang untuk dirinya.”

    “Lalu, untuk siapa?”

    “Beliau meminangnya untuk Julaibib.”

    “Anak kesayanganku menikah dengan Julaibib? Tidak, demi Allah. Aku tak mau menikahkannya dengan Julaibib, sedangkan kita telah menolak si fulan dan si fulan.”

    Ayahnya cukup risau dengan tragedi ini, kemudian ia beranjak hendak menemui Rasulullah lagi. Tiba-tiba, anaknya berteriak dari dalam kamar;

    “Siapa yang meminangku kepada kalian?”

    “Rasulullah,” jawab mereka berdua.

    “Apakah kalian hendak menentang perintah Rasul? Terimalah pinangan beliau. Karena sesungguhnya ia tak mungkin menelantarkanku.”

    Nampaknya, jawaban sang anak lebih mulia dari pada jawaban orangtuanya. Pergilah sang ayah kepada Rasulullah, kemudian berkata:

    “Sesuai kehendakmu, nikahkanlah anakku dengan Julaibib.”

    Rasul pun menikahkannya dengan Julaibib, kemudian beliau mendo’akan mereka dengan do’a ini: “Ya Allah tetapkanlah terus menerus kebaikan pada mereka berdua, dan janganlah Engkau jadikan dalam kehidupan mereka kesusahan sedikit pun.”

    Selang beberapa hari setelah resepsi pernikahan mereka, terjadilah peperangan. Rasulullah pergi berperang, begitu pula Julaibib bergabung bersamanya. Ketika peperangan telah usai, mulailah sebagian mereka mengecek keberadaan sebagian yang lainnya. Rasulullah bertanya kepada mereka; “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka pun menjawab: “Ya, kami kehilangan si fulan dan si fulan.

    Kemudian Rasulullah sendiri mengatakan: “Adapun aku kehilangan Julaibib.”

    Berdirilah para sahabat untuk mencari Julaibib di tempat pertempuran, kemudian mereka menemukan jasadnya tergeletak tak jauh dari tujuh mayat orang musyrik; artinya, Juaibib membunuhi mereka, dan mereka membunuh Julaibib.

    Rasulullah bergeming memperhatikan jenazah Julaibib, lalu beliau bekata: “Dia membunuh tujuh orang musuh, kemudian musuh-musuh itu membunuhnya. Dia membunuh tujuh orang musuh, kemudian musuh-musuh itu membunuhnya. Aku bagian dari Julaibib, dan Julaibib bagian dariku.” Kemudian, beliau memikul tubuh Julaibib pada kedua pundaknya, seraya memerintahkan para sahabat untuk menggalikan kuburannya.

    Anas berkata: “Mulailah kami menggali kuburnya. Sedangkan Julaibib, tak ada tilam yang mengalasi jasadnya kecuali kedua pundak Rasulullah, sampai kuburannya selesai digali, dan jasadnya dimasukkan ke dalamnya.”

    “Demi Allah,” masih kata Anas, “tak ada satu orang pun di antara kaum Anshar, yang lebih laku dari pada janda Julaibib; dirinya menjadi rebutan setiap lelaki; semuanya berusaha meminangnya, setelah kematian Julaibib.”

    وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ(52)

    “Dan barangsiapa yang ta’at kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Qs. An-Nur: 52)

    Sedangkan Nabi bersabda, dalam hadits shahih:

    كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ أَبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

    “’Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan’.” Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan masuk surga?’ Rasulullah menjawab: ‘Barangsiapa yang menta’atiku maka ia akan masuk surga; dan barangsiapa yang menentangku, sungguh ia telah enggan masuk surga’.”
    )****(_-_-_)****(

    Disadur dari kutaib Innaha Malikah yang diterjemahkan oleh Abu Haitsam Buldan

 

Posted on 21 November 2012, in Fawa'id, Oase Kehidupan, Renungan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: