TIGA JENIS TYPE TEMAN

 

IMG-20150410-WA0002Seorang ulama berkata: “Teman itu ada tiga macam; Teman yang bagaikan udara, teman yang bagaikan obat, dan teman yang bagaikan penyakit.

Adapun teman yang seperti udara, adalah ketika Anda tak bisa berlepas diri darinya; apabila ia tiada, maka Anda akan mati. Itulah teman yang mendekatkanmu kepada Allah, menunjukimu jalan menuju-Nya, serta mengarahkanmu untuk selalu berdzikir kepada-Nya. Maka, janganlah Anda berpisah dengannya, selamanya. Kunjungilah ia, duduklah bersamanya, tanyalah ia, cintailah ia, dan berdo’alah untuknya.

Teman yang bagaikan obat; yakni mereka yang berperan menjadi pelengkap saja, dan tidak diperlukan kecuali pada saat-saat tertentu.

Jika Anda terus menerus duduk bersamanya, lalu Anda katakan kepadanya; Aku mencintaimu karena Allah, dan tak bisa berlepas diri darimu! Dari pagi hingga sore, tentu ini sikap yang salah. Sebab, sebagian teman, ada yang Anda perlukan di saat-saat tertentu saja, bukan untuk berlama-lama dengannya.

Dan teman yang seperti penyakit; Mereka akan menganiayamu. Mereka adalah racun yang mematikan. Merekalah yang mendekatkanmu ke neraka, dan membawamu kepada kesedihan di dunia dan akhirat, wal’iyadzu billah.

Menjauhlah Anda dari teman yang seperti ini. Dan larilah darinya seperti larimu dari kejaran singa….

Seorang ulama shaleh mengatakan: “Apabila Anda melihat seseorang tidak bersungguh-sungguh melakukan takbiratul ihram di dalam shalat jama’ah, maka cucilah kedua tanganmu darinya.”

Maksudnya, hendaklah Anda bertaubat karena berteman dengannya.

Ulama yang lain berkata: “Apabila Anda melihat seseorang menyepelekan kewajiban-kewajiban Allah, maka janganlah Anda berteman dengannya, seujung jari pun.”….

Ja’far As-Shadiq menasehati anaknya; “Wahai anakku, janganlah engkau berteman dengan tiga kelompok manusia: Yakni, jangan berteman dengan orang yang menyakiti orang tuanya, sebab Allah telah melaknatnya. Jangan pula berteman dengan orang yang durhaka, sebab ia akan mencelakakanmu dengan kedurhakaannya. Dan jangan berteman dengan seorang pendusta, karena ia akan mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat!”

Inilah nasehat yang terbaik….

Maka, aku ingatkan diriku dan saudara-saudaraku sekalian, dari berteman dengan orang-orang yang buruk, yang akan memalingkan kita dari manhaj Allah.

Seseorang yang shaleh berkata tentang temannya yang bernama Muhammad, yang juga orang yang shaleh:

“Aku berteman dengan Muhammad, maka aku memperoleh darinya

tabi’at yang baik, hingga malam pun tersenyum melihat pesona kebaikannya.

Kukatakan kepadanya; demi Allah sesungguhnya aku

amat mencintaimu, wahai saudaraku yang mulia.

Ia pun berkata; Orang-orang banyak  terhinakan di dalam kehidupan yang megah.

Maka, barangsiapa yang berkawan dengan orang yang shaleh, ia akan memuliakannya.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Seekor anjing menemani ashab al-kahfi, di mana mereka adalah orang-orang yang shaleh. Maka Allah pun menyebut-nyebut anjing itu di dalam Al-Quran.”

Sedangkan Abu Thalib berteman dengan orang-orang yang hina, seperti Abu Jahal dan kawan-kawannya, maka teman-temannya itu berhasil membawanya masuk ke neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi Abu Thalib di saat ia menghadapi syakaratul maut, dengan maksud mendakwahinya pada kesempatan yang terakhir itu. Abu Thalib adalah seorang pembela Nabi yang siap mengorbankan hartanya untuk keselamatan Nabi. Ia pun seorang tokoh pemberani diantara tokoh-tokoh yang ada, di mana ia pernah berkata kepada orang-orang Quraisy, dengan syairnya;

“Kalian berdusta, demi baitullah, Muhammad tak akan dikalahkan,

tak akan disakiti, dan tak akan terpukul.

Kami takkan menyerahkannya, sampai kami tersungkur di sekitarnya,

walau kami berpisah dengan anak dan istri.”

Dalam syair ini Abu Thalib mengatakan; “demi Allah, kami tak akan menyerahkan Muhammad kepada kalian, walaupun terputus dengan orang-orang selainnya.

Ketika Nabi mendatangi Abu Thalib di saat syakaratul maut-nya itu, ternyata Abu Jahal telah berada di samping kanannya, dan Abdullah bin Umayyah di samping kirinya.

Rasulullah bergerak untuk mendekatinya. Namun si buruk Abu Jahal pun segera bergerak menempati tempat kosong di samping Abu Thalib.

Rasulullah berkata: “Wahai pamanku, ucapkanlah la ilaha illallah, sebagai ucapan yang dapat aku jadikan hujjah untuk menyelamatkanmu di hadapan Allah.”

Abu Thalib pun bermaksud mengucapkannya.

Namun, si najis, si keji, dan si penjahat yang berbahaya, yaitu Abu Jahal la’natullah ‘alaih, segera berkata pula kepadanya;

“Apakah kamu ingin mati di luar agama Abdul Muthallib?”

Abu Thalib berkata: “Tidak, dia dalam agama Abdul Muthallib.” (inilah kata-kata terakhir Abu Thalib yang diucapkannya berulang-ulang, hingga tak sempat mengucapkan La ilaha illallah, pent.)

Lalu ia pun meninggal, dan dipastikanlah dirinya masuk ke dalam neraka….

Para ulama mengatakan: “Shahib (teman) itu sahib (penyeret). Maka, ia akan menyeretmu.”

Abdullah bin Mubarak berkata:

“Jika engkau berteman, maka bertemanlah dengan orang yang mulia,

yang punya harga diri, rasa malu, dan keramahan.

Dia akan berkata tidak terhadap sesuatu, jika kau katakan tidak.

Dan jika kau katakan ya, ia akan berkata ya…”

Beliau pun berkata:

“Apabila engkau berteman dengan suatu kaum yang memiliki rasa cinta,

maka jadilah engkau seperti orang yang penuh  kasih sayang.

Janganlah menghitung semua kesalahan setiap orang,

sebab engkau akan menetap sepanjang waktumu tanpa seorang teman.”

Para penyair juga mengatakan:

“Janganlah engkau bertanya tentang seseorang, namun tanyakanlah tentang kawannya.

Sebab semua orang akan mengikuti jejak kawannya.”

Manfaat bagi orang yang berteman dengan orang-orang shaleh, ada tiga:

  1. Allah akan menambahkan baginya ilmu, pemahaman, dan taufiq.
  2. Orang-orang shaleh itu akan mendo’akannya di dunia.
  3. Kita pun akan mendapatkan syafa’at mereka di akhirat, sebagaimana firmannya;

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Az-Zukhruf: 67)

Para ulama berkata; “yakni, sebagian mereka akan memberi manfaat kepada sebagian yang lain.”

Sedangkan orang-orang yang menyeleweng, akan berkata;

فَمَا لَنَا مِنْ شَافِعِينَ(100)وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ(101)

“Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa`at seorangpun, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab.” (Qs. As-Syu’ara: 100-101)

Mafhum mukhalafah (makna sebaliknya) yang bisa diambil dari ayat ini; bahwasannya jika mereka mempunyai teman-teman yang baik, maka teman-temannya itu akan memberinya syafa’at, dengan izin Allah.

_-_-_-_*********_-_-_-_

Artikel:  https://asya84.wordpress.com/

Posted on 20 November 2012, in Fawa'id and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Assalamu’alaikum

    Izin copas ya ustadz

    Jazakallahu khairan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: