Terapi Lemah Iman

Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrak, juga At-Tabrani di dalam Al-Mu’jam meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya beliau bersabda:

إِنَّ الِإيْمَانَ لَيَخْلُقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلُقُ الثَّوْبُ, فَسَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الِإيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ

“Sesungguhnya, iman di dalam hati kalian, akan usang, seperti usangnya pakaian; maka mohonlah kepada Allah agar Dia senantiasa membarukan keimanan itu di hati kalian!”[1]

Maksudnya, bahwa iman di dalam hati itu akan menjadi rapuh, sebagaimana rapuhnya pakaian apabila umurnya telah tua dan kuno. Demikian pula hati itu pada suatu saat akan tertutup segumpal awan di antara awan-awan kemaksiatan, lalu ia merasakan kegelapan; ini adalah gambaran yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalan suatu hadits shahih:

مَا مِنَ الْقُلُوْبِ قَلْبٌ إِلَّا وَلَهُ سَحَابَةٌ كَسَحَابَةِ الْقَمَرِ, بَيْنَا الْقَمَرُ مُضِيْئٌ إِذْ عَلَّتْهُ سَحَابَةٌ فَأَظْلَمَ, إِذْ تَجَلَّتْ عَنْهُ فَأَضَاءَ

“Tidak ada satu hati pun di antara hati-hati manusia, kecuali baginya ada satu gumpalan awan, seperti gumpalan awan bagi bulan. Ketika sebuah bulan bercahaya, tiba-tiba segumpal awan naik kepadanya, maka bulan pun meredup; dan jika awan itu terbuka darinya, maka ia bersinar kembali.”[2]

Berikut ini, kami sebutkan sejumlah sarana syar’i yang dapat digunakan oleh seorang Muslim untuk mengobati kelemahan imannya serta menghilangkan kekerasan hatinya, setelah menyandarkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan memutuskan diri untuk bersungguh-sungguh:

Pertama: Mentadabburi Al-Quran

Mentadabburi Al-Quranul ‘adzim, yang Allah turunkan sebagai penjelas bagi segala sesuatu dan cahaya yang dapat menerangi hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki, tak ragu lagi di dalamnya terdapat obat yang agung dan terapi yang jitu; di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Isra’: 82)

Adapun metode pengobatannya adalah dengan cara mentadabburi dan menghayati ayat-ayatnya.

Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mentadabburi kitabullah dan membacanya berulang-ulang di kala shalat malam.

Kedua: Merasakan Keagungan Allah ‘Azza wa Jalla

Merasakan keagungan Allah, mengenali nama-nama dan sifat-sifat-Nya, juga merenungkan dan memahami makna-maknanya, serta mempertahankan perasaan itu  di dalam hati dan menyalurkannya ke segenap anggota badan agar mencuat dalam bentuk amalan, sesuai dengan kecenderungan hatinya; Sebab hati adalah raja dan tuannya, sedangkan anggota badan adalah tentara-tentara dan pengikut setianya; Jika hati telah baik, maka baiklah semua anggota badan, namun jika hati rusak maka rusaklah seluruh anggota badan.

Nash-nash dari Al-Quran dan as-sunnah tentang kebesaran Allah demikian banyaknya, diantaranya bahwa ilmu-Nya meliputi segala sesuatu; Ia mengetahui ketidakjujuran mata dan hal-hal yang tersembunyi di dalam dada; Ia menyifati keluasan ilmu-Nya dengan firman-Nya:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ(59)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Al-An’am: 59)

Di antara keagungan Allah juga, apa yang Dia informasikan sendiri di dalam Al-Quran;

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ(67)

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. Az-Zumar: 67)

Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَقْبِضُ اللَّهُ الْأَرْضَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ

“Allah akan menggenggam bumi di hari kiamat, dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia berkata: ‘Akulah Sang Raja, di manakah raja-raja bumi’?[3]

Setiap jiwa akan melemah, dan semua hati akan bergoncang manakala merenungkan kisah Musa ‘alaihissalam ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Lalu Allah menjawab: “Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikan-Nya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. (Qs. Al-A’raf: 143)

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan ayat ini, ia membacanya, lalu memberi isyarat dengan tangannya, “Hanya sebegini…,” sabda beliau  –seraya menempelkan ibu jarinya ke persendian bagian atas jari kelingkingnya–. Lalu beliau bersabda: “Maka gunung itu terbenam.”[4]

Maksudnya, gunung itu tidak nampak lagi kecuali seukuran itu (sendi bagian atas jari kelingking), dan gunung itu langsung terbenam; sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala, “tabir-Nya adalah cahaya; Seandainya tabir itu terbuka, niscaya keagungan wajah-Nya mampu menghancurkan setiap makhluk yang mengarahkan pandangan kepada-Nya.”[5]

 

Ketiga: Menuntut Ilmu Syar’i

Yaitu, ilmu yang dapat membawa seseorang kepada rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mempertebal keimanan kepada-Nya, sebagaimana Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (ulama).” (Qs. Fathir: 28)

Maka, tidaklah sama orang-orang yang punya ilmu dan orang-orang yang tidak punya ilmu di dalam keimanan mereka. Bagaimana bisa sama orang yang mengetahui syari’ah secara detail, mengetahui makna syahadatain dan segala tuntutannya, juga mengetahui adanya fitnah kubur setelah kematian, mengetahui kengerian-kengerian di padang mahsyar, situasi-situasi di hari kiamat, kenikmatan surga, dan kepedihan neraka. Juga, mengetahui hikmah syari’ah di dalam hukum halal dan haram, mengetahui sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta ilmu-ilmu lainnya yang beraneka ragam; bagaimana mungkin orang yang berilmu seperti itu akan sama dengan orang yang bodoh terhadap agama, bodoh terhadap hukum-hukumnya, serta informasi-informasi syari’ah tentang perkara-perkara yang ghaib; di mana perolehannya dalam perkara agama sekedar ikut-ikutan, dan kepemilikan ilmunya hanya sedikit saja, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs. Az-Zumar: 9)

Keempat: Menghadiri Halaqoh-halaqoh Dzikir

Menghadiri halaqah-halaqah dzikir akan mengantarkan seseorang kepada peningkatan keimanan karena beberapa faktor; di antaranya; aktifitas dzikrullah yang dapat ia lakukan di tempat itu, juga diperolehnya curahan rahmat, turunnya ketentraman jiwa, pengitaran malaikat terhadap orang-orang yang berdzikir, dan penyebutan Allah tentang mereka di atas langit yang tinggi, serta pembanggaan-Nya perihal mereka di hadapan para malaikat, juga ampunan-Nya akan dosa-dosa mereka, sebagaimana dalam suatu hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

 “Tidaklah suatu kaum duduk dalam keadaan berdzikir kepada Allah, kecuali para malaikat akan mengitari mereka, curahan rahmat akan mendatangi mereka, ketentraman jiwa akan diturunkan kepada mereka, juga Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat di sekitar-Nya.”[6]

Dari Sahl bin Handzalah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ عَلَى ذِكْرٍ فَتَفَرَّقُوْا عَنْهُ إِلَّا قِيْلَ لَهُمْ: قُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam dzikir, lalu mereka berpencar [beranjak] dari tempat dzikirnya, kecuali akan dikatakan kepada mereka: ‘Bangkitlah kalian, dalam keadaan telah diampuni’.”[7]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Berdzikir kepada Allah di dalam hadits ini bersifat mutlak (umum), sedangkan yang dimaksud adalah, ketekunan suatu kaum mengamalkan apa yang diwajibkan atau yang disunnatkan kepada mereka, seperti membaca Al-Quran, membaca hadits, dan mengkaji suatu ilmu.”[8]

Kelima: Memperbanyak Amal Shaleh

Di antara faktor-faktor yang menguatkan iman, adalah dengan memperbanyak amal-amal shaleh dan memenuhi waktu kita dengannya. Inilah di antara terapi penyembuhan yang paling agung; ia merupakan perkara yang agung, dan pengaruhnya terhadap penguatan iman sangatlah menonjol. Abu Bakar As-Shiddiq telah memberi contoh yang agung dalam hal ini; Ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyai para sahabatnya, “Siapakah di antara kalian yang pagi hari ini berpuasa?” Abu Bakar menjawab, “Aku!” Rasul bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini mengantarkan jenazah?” Abu Bakar menjawab, “Aku!” Rasul bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini menengok orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Aku!” Lalu Rasulullah berkata, “Tidaklah semua amalan itu terkumpul pada seseorang, kecuali ia akan masuk surga.”[9]

Kisah ini menunjukkan, bahwa Abu Bakar As-Shiddiq radhiallahu ‘anhu memiliki ketamakan di dalam mengambil setiap kesempatan dan berbagai macam ibadah; di mana munculnya pertanyaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tiba-tiba seperti itu, menandakan hari-hari Abu Bakar senantiasa dipenuhi dengan ketaatan-ketaatan. Sungguh, kaum salaf (umat Islam terdahulu) –rahimahumullah-  di dalam peningkatan amal-amal shaleh mereka, dan pemenuhan waktu mereka dengan ketaatan-ketaatan telah mencapai tingkat yang sangat agung.

Keenam: Melakukan Aneka Macam Ibadah

Di antara rahmat Allah dan kebijaksanaan-Nya, Dia menurunkan kepada kita ibadah-ibadah yang beraneka ragam; maka di antaranya ada yang berhubungan dengan badan seperti shalat, ada yang berhubungan dengan harta seperti zakat, dan ada yang berhubungan dengan kedua-duanya seperti haji; di antaranya juga ada yang berhubungan dengan lisan seperti dzikir dan do’a. Hingga, satu macam ibadah bisa terbagi lagi kepada beraneka ragam kewajiban dan sunnah-sunnah yang dianjurkan. Perkara-perkara yang fardhu bermacam-macam pula jenisnya, begitu pun yang sunnah bermacam-macam jenisnya. Sebagai contoh, ibadah shalat; ia mempunyai shalat-shalat rawatib dua belas rakaat dalam sehari; Lalu di antara shalat sunnah itu ada yang rendah derajatnya, seperti shalat empat rakaat sebelum Ashar dan shalat Dhuha, ada lagi yang tinggi derajatnya seperti shalat malam. Shalat malam ini pun memiliki beragam cara, di antaranya bisa dengan cara dua rakaat-dua rakaat, atau empat rakaat-empat rakaat kemudian berwitir, bisa juga dengan lima rakaat, atau tujuh rakaat, atau sembilan rakaat dengan satu kali tasyahud (tahiyat).

Begitulah, barangsiapa yang menekuni berbagai ibadah, niscaya ia akan menemukan keaneka ragaman yang banyak, dari sisi jumlah, waktu, kondisi, sifat dan hukum-hukumnya; Boleh jadi hikmahnya adalah agar jiwa kita tidak jemu, dan terus menerus mengalami penyegaran. Kemudian lagi, bahwa jiwa-jiwa manusia itu tidaklah sama kecenderungan dan potensi-potensinya, hingga terkadang sebagian jiwa merasa nikmat melakukan ibadah-ibadah yang lebih banyak dibanding yang lain. Maha suci Allah yang telah menjadikan pintu-pintu surga pada aneka ragam ibadah, sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ

“Barangsiapa yang berinfak kepada sepasang suami istri di jalan Allah, maka ia akan dipanggil dari semua pintu surga, ‘hai hamba Allah, ini pintu yang baik’; Barangsiapa yang keadaannya termasuk ahli shalat, maka ia akan dipanggil dari pintu shalat; Barangsiapa yang keadaannya termasuk ahli jihad, maka ia akan dipanggil dari pintu jihad; Barangsiapa yang keadaannya termasuk ahli shaum, maka ia akan dipanggil dari pintu ar-rayyan; dan barangsiapa yang keadaannya termasuk ahli shadaqah, maka ia akan dipanggil dari pintu shadaqah.”[10]

Yang dimaksud di sini, adalah orang-orang yang banyak melakukan ibadah-ibadah sunnat dalam setiap ibadah. Adapun ibadah-ibadah yang wajib, ia memang mesti menunaikan semuanya.

Ketujuh: Takut terhadap Keadaan Su’ul Khatimah (akhir hidup yang buruk)

Rasa takut ini akan mendorong seorang Muslim kepada ketaatan, serta dapat menyegarkan keimanan di hatinya. Adapun su’ul khatimah sendiri punya banyak sebab, di antaranya: lemah iman dan terbenamnya seseorang dalam kemaksiatan-kemaksiatan. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan salah satu gambaran su’ul khatimah itu, misalnya di dalam sabdanya:

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَتَوَجَّأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ شَرِبَ سَمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَرَدَّى فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا

“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sebuah pisau, maka sebuah pisau di tangannya akan terus menikam perutnya di neraka jahannam yang kekal benar-benar kekal selama-lamanya; dan barangsiapa yang meminum racun, hingga ia membunuh dirinya, maka ia akan terus meminum racun itu dengan santai di dalam neraka jahannam yang kekal benar-benar kekal selama-lamanya; Dan barangsiapa yang menjatuhkan diri dari sebuah gunung, hingga ia membunuh dirinya, maka ia akan terus menjatuhkan diri di dalam neraka jahannam, yang kekal benar-benar kekal selama-lamanya.”[11]

Sungguh, pernah terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam peristiwa bunuh diri semacam itu; di antaranya, kisah tentang seorang lelaki yang turut serta bersama pasukan kaum Muslimin dalam memerangi kaum kuffar, dan tidak ada seorang pun yang sebanding dengan lelaki ini di dalam kegesitan serangannya; namun Nabi bersabda tentangnya, “Sesungguhnya, orang ini termasuk ahli neraka.” Lalu, salah seorang di antara kaum Muslimin mencari-cari lelaki itu, ternyata orang itu telah terluka amat parah dan menginginkan dirinya segera mati, lantas ia letakkan pedangnya di antara kedua dadanya dan menekannya, hingga ia membunuh dirinya sendiri.”[12]

Kedelapan: Memperbanyak Mengingat Kematian

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Banyak-banyaklah kalian mengingat-ingat hadzim al-laddzat (pemutus segala kelezatan); yakni kematian.”[13] Mengingat-ingat kematian akan mencegah seseorang dari berbuat kemaksiatan, serta akan melembutkan hati yang keras. Tidaklah seseorang mengingat-ingatnya dalam kesumpekan hidupnya, kecuali ia akan melapangkannya; dan tidaklah seseorang mengingatnya di dalam kelapangan hidup kecuali ia akan menyempitkannya. Di antara langkah yang paling agung untuk mengingat-ingat kematian adalah dengan berziarah ke kuburan-kuburan. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk berziarah ke tempat-tempat itu, beliau bersabda:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ, أَلَا فَزُورُوهَا فَإَِنَّهَا تُرِقُّ الْقَلْبَ وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا

“Aku pernah melarang kalian dari berziarah ke kuburan-kuburan; Ingat, [sekarang] berziarahlah kalian ke kuburan-kuburan, karena sesungguhnya ia akan melembutkan hati, mencucurkan air mata, dan mengingatkan kalian akan akhirat; Dan janganlah kalian mengucapkan kata-kata keji dan kotor.”[14]

Menjiarahi kuburan termasuk sarana yang paling agung untuk melembutkan hati, dan seorang penziarah akan memperoleh manfaat berupa rasa ingat terhadap kematian, demikian pula si mayat akan memperoleh manfaat berupa do’a kita untuk mereka; sedangkan di antara do’a yang diajarkan oleh sunnah ketika berziarah ke kuburan adalah:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ

“Salam sejahtera bagi kalian, wahai penghuni kubur dari kalangan kaum Mukiminin dan Muslimin, dan semoga Allah merahmati orang-orang yang lebih dulu meninggal dan yang akan meninggal di antara kami; dan sesungguhnya kami, insya Allah, pasti akan menyusul kalian.”[15]

Bagi orang yang akan berziarah, hendaknya ia memperhatikan adab-adabnya, menghadirkan hati ketika melakukannya, dan mengharapkan ridha Allah melalui amal itu, serta bertujuan memperbaiki hatinya yang rusak. Kemudian, ia mengambil pelajaran dari orang yang telah berada di balik tanah, yang telah meninggalkan keluarga dan orang-orang yang dicintainya.

Kesembilan: Memikirkan Persinggahan-Persinggahan di Akhirat

Di antara perkara-perkara yang bisa membarukan keimanan di dalam hati, adalah dengan memikirkan persinggahan-persinggahan akhirat. Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata: “Apabila pikiran seseorang itu sehat, maka ia pasti memiliki bashirah (pandangan yang jernih), dan itulah cahaya di dalam hati. Ia akan memikirkan janji Allah dan ancaman-Nya, memikirkan surga dan neraka serta apa yang Allah sediakan di dalam surga bagi para wali-Nya, dan di dalam neraka bagi musuh-musuh-Nya, lalu ia pun memikirkan bagaimana keadaan manusia ketika bangkit dari kuburan-kuburan mereka dalam keadaan bergegas-gegas menghadap Allah dengan rasa takut, sementara malaikat-malaikat langit mengitari mereka; kemudian Allah datang dan memancangkan kursi-Nya untuk menjatuhkan keputusan; Bumi memancarkan sinarnya, kitab (kumpulan amal manusia) ditampakkan, para nabi dan para syuhada’ dihadirkan, timbangan dipersiapkan, shuhuf (lembaran-lembaran) dtebarkan, perselisihan-perselisihan terhimpun, dan setiap yang berutang berperkara dengan utangnya; Lalu, sebuah telaga air dan gelas-gelasnya tampak dari dekat, sementara orang-orang yang kehausan demikian banyak, dan peluang menggapainnya begitu kecil; maka sebuah jembatan dipancangkan untuk penyeberangan, dan manusia berdesak-desakkan menuju telaga; cahaya-cahaya ditebarkan dalam kegelapan jembatan agar mereka dapat menyeberanginya, sedangkan api menyala-nyala di bawahnya; dan orang-orang yang terpeleset darinya berlipat-lipat ganda banyaknya dari pada orang-orang yang selamat. Maka, akan terbukalah mata hatinya untuk melihat semua itu, dan akan tercanang di dalam jiwanya satu bukti di antara bukti-bukti akhirat yang memperlihatkan kepadanya akhirat beserta sifatnya yang langgeng, dan dunia beserta sifatnya yang cepat berlalu.”[16]

Oleh karena, di antara perkara yang dapat mempertebal keimanan seseorang, adalah mengetahui fenomena-fenomena hari kiamat seperti adanya kebangkitan, penggiringan, syafa’at, hisab, pahala, qishas, timbangan, telaga air, shirath, ruang pengadilan, serta adanya surga dan neraka.

Kesepuluh: Berinteraksi dengan Ayat-Ayat Kauniyyah

Imam Bukhari dan Imam Muslim serta yang lainnya pernah meriwayatkan suatu hadits, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau melihat awan atau angin, maka bisa diketahui dari [perubahan] rona wajahnya. Maka Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, aku melihat orang-orang, apabila mereka menyaksikan awan atau angin, mereka langsung bergembira seraya berharap akan turunnya hujan; Namun, aku melihat engkau, apabila menyaksikannya, maka di wajahmu tampak aura kesuraman.” Rasulullah menjawab, “Wahai Aisyah, tidaklah membuatku tenteram hal-hal yang di dalamnya ada adzab; Sungguh, suatu kaum pernah diadzab dengan angin; dan suatu kaum pernah menyaksikan [mendapatkan] suatu adzab, padahal [sebelumnya] mereka berkata: ‘ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’.”[17]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga langsung bergetar apabila melihat gerhana, sebagaimana di sebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Apabila terjadi gerhana matahari, maka bangkitlah Rasulullah dalam keadaan bergetar, karena beliau takut akan terjadinya kiamat.”[18]

Beliau juga memerintahkan, agar kita berlindung diri dengan shalat ketika terjadi gerhana matahari atau bulan, dan beliau mengabarkan bahwa kedua gerhana itu merupakan ayat-ayat Allah untuk menanamkan rasa takut pada hamba-hamba-Nya. Tak ragu lagi, bahwa interaksi hati dengan fenomena-fenomena semacam ini, juga rasa takut kita terhadapnya, akan berguna dalam memperbaharui keimanan di dalam hati, juga mengingatkan kita akan adzab Allah dan kedahsyatan-Nya, keagungan dan kekuasaan-Nya, serta kekuatan dan ketegasan-Nya. Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menarik tanganku, kemudian ia memberi isyarat ke arah bulan seraya berkata: ‘wahai Aisyah, berlindunglah engkau kepada Allah dari keburukan bulan, karena sesungguhnya inilah [yang dinamakan] kejahatan malam apabila telah gelap gulita’.”[19]

Di antara contoh interaksi hati dengan ayat-ayat kauniyyah, adalah tergugahnya hati ketika melewati lokasi-lokasi bencana, tempat yang terkena adzab atau kuburan-kuburan orang yang dzalim. Sungguh, Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma telah meriwayatkan, bahwasannya Rasulullah pernah bersabda kepada para sahabatnya; “Janganlah kalian memasuki tempat-tempat mereka yang terkena adzab, kecuali dalam keadaan menangis; Apabila kalian tidak dapat menangis, maka janganlah kalian memasuki tempat-tempat itu; niscaya kalian tidak akan ditimpa adzab, seperti yang telah menimpa mereka.”[20] Begitulah, sedangkan orang-orang di zaman ini senang bepergian ke lokasi-lokasi semacam itu untuk berekreasi dan mengambil gambar, coba bayangkan!!

Kesebelas: Berdzikir kepada Allah Ta’ala

Di antara perkara yang sangat-sangat penting di dalam menangani lemah iman adalah berdzikir kepada Allah Ta’ala; Dzikir adalah penjernih hati, pemulihnya, dan obat jitu di kala hati tertimpa penyakit. Dzikir juga merupakan ruh amal-amal shaleh. Sungguh, Allah telah memerintahkan amalan ini dengan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah, dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. (Qs. Al-Ahzab: 41) Dia pun menjanjikan kebahagiaan bagi orang yang memperbanyak dzikir, dengan firman-Nya, “Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu berbahagia. (Qs. Al-Anfal: 45)” Dzikir pun merupakan perkara terbesar di antara segala perkara, “Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar [keutamaannya dari pada perkara-perkara yang lain]. (Qs. Al-Ankabut: 45)”

Dzikir juga merupakan wasiat Nabi kepada seorang laki-laki (orang Arab baduwi, penj-) yang mana dirinya merasa syari’at Islam ini terlalu banyak baginya. Beliau bersabda kepada lelaki itu: “[Cukuplah] lisanmu senantiasa basah dengan dzikrullah.”

Kedua belas: Bermunajat kepada Allah dan Menghinakan Diri di hadapan-Nya

Setiap kali seorang hamba kian besar perasaan hina diri dan ketundukannya kepada Allah, maka posisinya akan kian dekat dengan-Nya; Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Paling dekat posisi seorang hamba dengan Tuhannya, adalah di saat ia bersujud; maka perbanyaklah oleh kalian do’a [di saat sujud].”[21] Oleh karena, dalam posisi sujud terdapat muatan perasaan hina dan ketundukan diri, tidak seperti dalam posisi-posisi yang lainnya. Sehingga, ketika seorang hamba menempelkan keningnya di bumi –padahal kening itu sesuatu yang paling tinggi di antara anggota tubuhnya–, maka jadilah sang hamba demikian dekat dengan Rabb-nya.

Dalam kaitan ini, Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah pernah mengungkapkan kata-kata indah dengan lidah kehinaan dan perasaan lemah seseorang yang bertaubat di hadapan Allah; katanya: “Demi Allah, alangkah manisnya ucapan orang yang berucap dalam posisi taubat kepada Allah ini: ‘Aku memohon kepada-Mu dengan keagungan-Mu dan kehinaanku, kecuali bila Engkau merahmatiku; Aku memohon kepada-Mu dengan kekuatan-Mu dan kelemahanku, serta dengan ketidakbutuhan-Mu kepadaku dan kebutuhanku terhadap-Mu[22]; Inilah ubun-ubunku yang mendustakan lagi durhaka kepada-Mu; sementara banyak orang yang beribadah kepada-Mu selain diriku; Tidak ada tempat bersandar, dan tak ada tempat mengadu dari-Mu kecuali terhadap-Mu; aku hendak meminta seperti permintaan seorang yang miskin, aku akan memohon kepada-Mu sepenuh ketundukkan dan kehinaan diri, dan aku ingin berdo’a kepada-Mu dengan do’a seorang yang jiwanya ketakutan, berupa permohonan seseorang yang menekukkan bahunya di hadapan-Mu, tunduk dan patuh terhadap segala perintah-Mu, sedangkan kedua matanya mencucurkan air mata, dan hatinya menjulai ke haribaan-Mu…” Ketika seorang hamba menancapkan kalimat-kalimat semacam ini di dalam bermunajat kepada Rabb-nya, maka keimanan di hatinya akan meningkat berlipat-lipat ganda.

Demikian pula menampakkan kefakiran di hadapan Allah termasuk perkara yang dapat menguatkan keimanan, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala sungguh telah menyatakan kefakiran kita dan betapa butuhnya kita terhadap-Nya, Dia berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ(15)

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; sedangkan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Qs. Fathir: 15)

 

Ketiga belas: Memendekkan Angan-angan

Ini perkara yang sangat penting di dalam memperbaharui keimanan; Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah  pernah mengatakan: “Di antara ayat yang paling agung dalam kaitan ini adalah firman Allah:

أَفَرَأَيْتَ إِنْ مَتَّعْنَاهُمْ سِنِينَ(205)ثُمَّ جَاءَهُمْ مَا كَانُوا يُوعَدُونَ(206)مَا أَغْنَى عَنْهُمْ مَا كَانُوا يُمَتَّعُونَ(207)

“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka keni`matan hidup bertahun-tahun, Kemudian datang kepada mereka adzab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Qs. As-Syu’ara’: 205-207)

Ke-sesaat-an ini adalah untuk keseluruhan dunia –maka manusia tak perlu berpanjang angan-angan, misalnya ia mengatakan: aku akan hidup begini, aku akan hidup begini–. Seorang ulama salaf pernah berkata kepada seorang laki-laki: “Marilah kamu shalat Dzuhur bersama kami” Laki-laki itu menjawab: “Jika aku shalat Dzuhur bersama kalian, maka aku tidak akan shalat Ashar bersama kalian.” Maka ulama itu menjawab: “Kamu seolah-olah berpikir akan hidup sampai Ashar; kami berlindung kepada Allah dari sifat panjang angan-angan.”

Keempat belas: Memikirkan Kehinaan Dunia

Di antara perkara yang dapat memperbaharui keimanan, adalah dengan memikirkan betapa hinanya dunia, hingga dengan cara ini akan hilanglah ketergantungan hati seorang hamba kepada dunia, di mana Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ(185)

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Qs. Ali-Imran: 185)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مَطْعَمَ ابْنِ آدَمَ قَدْ ضُرِبَ لِلدُّنْيَا مَثَلًا, فَانْظُرْ مَا يَخْرُجُ مِنْ ابْنِ آدَمَ –وَإِنْ قَزَّحَهُ وَمَلَّحَهُ– قَدْ عَلِمَ إِلَى مَا يَصِيرُ

“Sesungguhnya, tempat makanan anak Adam, seumpamanya mampu menampung dunia, maka lihatlah apa yang keluar dari Anak Adam –sekalipun telah dibumbui dan digarami–; sungguh ia telah tahu ke mana makanan itu akan pergi.[23]

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah mendegar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ أَوْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا

“Dunia itu terkutuk, dan terkutuk pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikrullah dan apa-apa yang Allah perkenankan, juga seorang ‘alim (yang berilmu) atau seorang muta’allim (yang mencari ilmu).”[24]

Kelima belas: Mengagungkan Syi’ar-syi’ar Allah

Di antara perkara yang dapat memperbaharui keimanan di dalam hati, adalah mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, di mana Allah Ta’ala telah berfirman:

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ(32)

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Qs. Al-Haj: 32)

Syi’ar-syi’ar Allah itu merupakan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang boleh jadi ada pada pribadi-pribadi, boleh jadi ada pada tempat, dan boleh jadi ada ada waktu. Di antara bentuk pengagungan akan syi’ar-syi’ar Allah pada pribadi, umpamanya dengan menunaikan hak-hak pribadi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam; sedangkan di antara pengagungan akan syi’ar-syi’ar Allah pada tempat, umpamanya pengagungan terhadap tanah haram (Mekah-Madinah); dan di antara pengagungan Akan syi’ar-syi’ar Allah pada waktu, umpamanya dengan mengagungkan bulan Ramadhan; “Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.” (Qs. Al-Hajj: 30)

Begitu pula, di antara bentuk pengagungan akan syi’ar-syi’ar Allah, adalah dengan tidak menyepelekan dosa-dosa kecil; di mana Abdullah bin Mas’ud pernah meriwayatkan, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ, كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا أَرْضَ فَلَاةٍ فَحَضَرَ صَنِيعُ الْقَوْمِ فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَنْطَلِقُ فَيَجِيءُ بِالْعُودِ وَالرَّجُلُ يَجِيءُ بِالْعُودِ حَتَّى جَمَعُوا سَوَادًا فَأَجَّجُوا نَارًا وَأَنْضَجُوا مَا قَذَفُوا فِيهَا

“Hati-hatilah kalian terhadap dosa-dosa yang disepelekan; karena sesungguhnya dosa-dosa yang disepelekan itu akan menumpuk pada diri seseorang, hingga akan membinasakannya; Seumpama suatu kaum yang turun ke sebuah lembah, lalu datanglah pemuka kaum itu, lantas seorang laki-laki bolak-balik membawa kayu bakar, dan seorang yang lain membawa kayu bakar juga, hingga mereka mampu mengumpulkan setumpuk batang kayu, lantas mereka menyalakan api, hingga dapat mematangkan makanan yang mereka lemparkan kepadanya.”[25].

 

“Hindarilah dosa-dosa yang kecil dan yang besar; Itulah taqwa.

Dan berbuatlah, seperti seseorang yang berjalan di atas tanah berduri; niscaya ia berwaspada dengan apa yang ada di depannya.

Janganlah sekali-kali meremehkan yang kecil, karena sesungguhnya gunung-gunung itu terdiri dari batu-batu kerikil.”

Ibnu al-Jauzy berkata di dalam kitab Shaid al-Khathir: “Banyak di antara manusia yang menggampangkan perkara-perkara yang mereka duga remeh, padahal nyatanya ia sangat tercela; contohnya, membiarkan pandangan tertuju kepada perkara-perkara yang haram, dan seorang thalibul ilmi (penuntut ilmu) meminjam sesuatu tapi tidak mengembalikannya.”

Seorang ulama salaf berkata: “Aku telah menyepelekan sesuap (makanan haram) hingga aku mencicipinya; maka hari ini keadaanku mundur empat puluh tahun ke belakang.” Ini merupakan bentuk ke-tawadhu-an sang ulama, semoga Allah merahmatinya.

Keenam belas: Al-Wala wa al-Bara’

Al-wala wa al-bara’ maksudnya, menjalin kedekatan dengan orang-orang Mukmin, dan mengambil jarak dengan orang-orang kafir. Oleh karena, hati itu apabila berhubungan dengan musuh-musuh Allah, maka ia akan melemah sekali, dan muatan aqidahnya akan memburuk. Apabila kedekatannya semata-mata dengan Allah, ia akan mendekati hamba-hamba-Nya yang beriman dan menolong mereka, serta membenci musuh-musuh-Nya dan merasa jijik terhadap mereka; Maka hati itu akan hidup dengan cahaya keimanan.

Ketujuh belas: Tawadhu’ (Rendah Hati)

Sifat tawadhu’ punya peran penting di dalam memperbaharui keimanan dan membersihkan hati dari karat kesombongan. Oleh karena, ke-tawadhu’-an seseorang di dalam omongan, perbuatan, dan penampilan, menunjukkan kerendahan hatinya di hadapan Allah. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Kelusuhan itu bagian dari iman.”[26]

Nabi bersabda juga:

مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا

“Barangsiapa yang meninggalkan pakaian [bagus] karena kerendahan hatinya kepada Allah, padahal ia mampu [untuk memakainya], maka Allah akan memanggilnya di hari kiamat di antara pemuka-pemuka makhluk, kemudian Dia mempersilahkannya untuk memilih pakaian keimanan (pakaian surga) yang hendak dipakainya.”[27]

Sungguh, Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu tak dikenal mewah di kalangan hamba-hamba Allah (padahal ia seorang konglomerat, penj-)

Kedelapan belas: Memperhatikan Amalan-Amalan Hati

Amalan-amalan hati, penting juga di dalam proses memperbaharui keimanan; seperti rasa cinta kepada Allah, rasa takut dan harap kepada-Nya, berbaik sangka, bertawakkal, serta ridha kepada Allah dan segala ketetapan-Nya, bersyukur terhadap-Nya, membenarkan, meyakini dan mempercayai-Nya, bertaubat kepada-Nya serta amalan-amalan hati yang lainnya.

Dalam kaitan ini, ada martabat-martabat yang seyogyanya seorang hamba berusaha mencapainya, demi kesempurnaan penanganan lemah iman, seperti sifat istiqamah, inabah (kembali kepada Allah), pengagungan kepada-Nya, berpegang teguh kepada Al-Quran dan as-sunnah, senantiasa khusuk dan zuhud (tidak tamak terhadap dunia), wara’ (berhati-hati terhadap dosa), dan merasa selalu diawasi-Nya. Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah sungguh telah memerinci martabat-martabat ini di dalam kitabnya, Madarij as-Salikin.

Kesembilan belas: Muhasabah (Instrospeksi Diri)

Muhasabah juga penting di dalam memperbaharui keimanan, di mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Qs. Al-Hasyr: 18)

Umar bin Khatthab radhillahu ‘anhu berkata: “Hisablah oleh kalian diri-diri kalian, sebelum kalian dihisab [kelak]!”

Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Kamu tidak akan menjumpai seorang Mukmin, kecuali dia senantiasa dalam keadaan menghisab dirinya.”

Maimun bin Mahran berkata, “Sesungguhnya, orang yang bertaqwa sangat kuat muhasabah-nya terhadap diri dari pada kawan yang rakus.”

Sedangkan Ibnu al-Qayyim berkata: “Kebinasaan diri disebabkan oleh pengabaiannya terhadap muhasabah dan kecocokannya dengan nafsu serta ketaatannya terhadap segala gejolak syahwatnya.”

Maka, seorang Muslim mestilah meluangkan waktunya untuk menelusuri diri, menghitung-hitungnya, dan memperhatikan kondisinya, serta apa bekal yang telah ia persiapkan untuk hari akhirat.

Kedua puluh: Berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Sesungguhnya, berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla merupakan faktor yang paling kuat, di mana seorang hamba seyogyanya tekun menjalankannya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ الِإيْمَانَ لَيَخْلُقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلُقُ الثَّوْبُ, فَسَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الِإيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ

“Sesungguhnya, iman di dalam hati kalian, akan usang, seperti usangnya pakaian; maka mohonlah kepada Allah agar Dia senantiasa membarukan keimanan itu di hati kalian!”[28]

*****

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, dengan nama-nama-Mu yang baik, dan sifat-Mu yang tinggi, untuk membarukan keimanan di hati-hati kami. Ya Allah, berilah kami kecintaan pada keimanan, dan hiasilah ia di dalam hati-hati kami; berilah kami kebencian terhadap kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan, serta jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang memperoleh petunjuk. Maha suci Allah, Tuhan yang maha agung dari segala apa yang mereka sifatkan, dan semoga keselamatan bagi para rasul, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

****—–****—–****

Diringkas dari oleh Aisyah Ummu Haitsam dari kutaib karya syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerjemah  Abu Haitsam Buldan

Artikel: https://asya84.wordpress.com/

Penulis


[1]Riwayat Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrak (1:4), lihat di dalam kitab Al-Silsilah As-Shahihah (1585), Al-Haitsami di dalam kitab Majma’ Az-Zawa’id (1:52), juga riwayat At-Thabrani di dalam kitab Mu’jam Al-Kabir dengan sanad hasan.

[2] Riwayat Abu Nu’aim di dalam kitab Al-Hilyah (2:196), lihat di dalam kitab Al-Silsilah As-Shahihah (2268).

[3] Riwayat Bukhari (6947), cet. Al-Bugha.

[4] Riwayat Tirmidzi (3074), riwayat Ahmad (3:125 & 209), dan diuraikan pula jalan-jalan hadits ini oleh Ibnu Katsir di dalam kitab Tafsir-nya (3:466) cet. Dar as-Syi’b. Sementara Ibnu al-Qayyim mengatakan: “Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Imam Muslim. Juga, hadits ini diulas dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Takhrij as-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim, hadits nomor: 480.

[5] Riwayat Muslim (197).

[6] Riwayat Muslim (2700).

[7] Lihat kitab Shahih Al-Jami’ (5507).

[8] Lihat kitab Fath Al-Bari (11:209) cet. Dar Al-Fikr.

[9] Riwayat Muslim, di dalam kitab Fadhail as-Shahabat bab I, hadits nomor: 12.

[10] Riwayat Bukhari (1798).

[11] Riwayat Muslim (109).

[12] Kisah ini ada dalam Shahih Al-Bukhari, lihat Al-Fath (7:471)

[13] Riwayat Tirmidzi (2307), lihat di dalam kitab Shahih Al-Jami’ (1210).

[14] Riwayat Al-Hakim (1:376), lihat di dalam kitab Shahih Al-Jami’ (4584).

[15] Riwayat Muslim (974).

[16] Lihat kitab Madarij as-Salikin (1:123)

[17] Riwayat Muslim (899).

[18] Lihat kitab Fath al-Bary (2:545).

[19] Riwayat Ahmad (6:237), lihat di dalam kitab Al-Silsilah as-Shahihah (372).

[20] Riwayat Bukhari (423).

[21] Riwayat Muslim (482).

[22] Permohonan seorang hamba terhadap Tuhannya, dengan perasaan hina  di hadapan-Nya, dan perasaan sangat butuh terhadap-Nya, termasuk kategori ber-tawassul (penggunaan perantara) dengan amal-amal shaleh; Dan ini dibenarkan oleh syari’at.

[23] Riwayat Tirmidzi di dalam Al-Kabir (1:198), lihat di dalam Al-Silsilah As-Shahihah (382).

[24] Riwayat Ibnu Majah (4112), lihat di dalam kitab At-Targhib wa at-Tarhib (71).

[25] Riwayat Ahmad (1:402), lihat di dalam Al-Silsilah As-Shahihah (389).

[26] Riwayat Ibnu Majah (4118), lihat di dalam Al-Silsilah As-Shahihah (341). [Maksud bertawadhu’ di dalam penampilan dan cara berpakaian, lihat di dalam An-Nihayah karya Ibnu Al-Atsir, jilid 1 hal. 110]

[27] Riwayat Tirmidzi (2481), lihat di dalam Al-Silsilah As-Shahihah (718).

[28]. Takhrij hadits ini telah disebutkan pada bab terdahulu.

Posted on 6 Juli 2012, in Fawa'id, Tazkiyatun Nufus and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: