Monthly Archives: Juli 2012

Bolehkah Guru Menerima Hadiah dari Wali Murid?

Bolehkah seorang guru menerima hadiah dari murid-muridnya? Jika tidak boleh, bagaimana bila hadiah itu diberikan setelah selesai tahun ajaran dan setelah hasil belajar (rapor) diserahkan? Kalau tidak boleh juga, bagaimana dengan hadiah yang diberikan oleh murid setamatnya dia dari sekolah tersebut atau ingin pindah ke sekolah yang lain? Jawab: Read the rest of this entry

Duhai Wanita Mukminah Engkau Adalah Ratu…!

Duhai para wanita, di dalam islam kalian adalah ratu…!

Rumahmu adalah singgasanamu…!

Malumu adalah mahkotamu…!

Wahai para wanita..sungguh kalian adalah ratu dalam islam, betapa berharganya kalian.. sampai  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berwasiat kpd para orang tua untuk merawat kalian. Sebagaimana  sabdanya yg diriwayatkan oleh Imam Muslim,

من عال جاريتين حتى تبلغا جاء يوم القيامة أنا وهو وضّم أصابعه

“Barangsiapa yg merawat dua anak wanitanya dg baik, samapai mrk dewasa, maka aku dan dia dating pada hari qiamat, sambil perpegangan tangan.

Begitu pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berwasiat kpd anak untuk berbakti kepada kalian, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Shahihain; bahwasannya ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi; “Siapakah yang paling berhak untuk diperlakukan dengan baik?” Rasul menjawab: “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu; kemudian ayahmu.”

Bahkan, Rasul pun berwasiat kepada para suami agar bersikap baik terhadap istrinya; dan beliau pun mencela suami yang memarahi istrinya atau bersikap buruk terhadapnya. Dalam riwayat Muslim dan At-Tirmidzi disebutkan; bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda; “Ingatlah, hendaknya kalian berlaku baik terhadap para istri! Ingatlah, hendaknya kalian berlaku baik terhadap para istri!” Read the rest of this entry

Terapi Lemah Iman

Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrak, juga At-Tabrani di dalam Al-Mu’jam meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya beliau bersabda:

إِنَّ الِإيْمَانَ لَيَخْلُقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلُقُ الثَّوْبُ, فَسَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الِإيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ

“Sesungguhnya, iman di dalam hati kalian, akan usang, seperti usangnya pakaian; maka mohonlah kepada Allah agar Dia senantiasa membarukan keimanan itu di hati kalian!”[1]

Maksudnya, bahwa iman di dalam hati itu akan menjadi rapuh, sebagaimana rapuhnya pakaian apabila umurnya telah tua dan kuno. Demikian pula hati itu pada suatu saat akan tertutup segumpal awan di antara awan-awan kemaksiatan, lalu ia merasakan kegelapan; ini adalah gambaran yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalan suatu hadits shahih:

مَا مِنَ الْقُلُوْبِ قَلْبٌ إِلَّا وَلَهُ سَحَابَةٌ كَسَحَابَةِ الْقَمَرِ, بَيْنَا الْقَمَرُ مُضِيْئٌ إِذْ عَلَّتْهُ سَحَابَةٌ فَأَظْلَمَ, إِذْ تَجَلَّتْ عَنْهُ فَأَضَاءَ

“Tidak ada satu hati pun di antara hati-hati manusia, kecuali baginya ada satu gumpalan awan, seperti gumpalan awan bagi bulan. Ketika sebuah bulan bercahaya, tiba-tiba segumpal awan naik kepadanya, maka bulan pun meredup; dan jika awan itu terbuka darinya, maka ia bersinar kembali.”[2]

Berikut ini, kami sebutkan sejumlah sarana syar’i yang dapat digunakan oleh seorang Muslim untuk mengobati kelemahan imannya serta menghilangkan kekerasan hatinya, setelah menyandarkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan memutuskan diri untuk bersungguh-sungguh: Read the rest of this entry