Sebab-Sebab Lemah Iman

Sesungguhnya, lemah imam mempunyai sekian banyak penyebab, yang di antaranya bersatu dengan gejala-gejala lemah iman, seperti, terjatuhnya seseorang kepada kemaksiatan, dan kesibukannya dengan urusan dunia. Berikut ini adalah sebagian penyebab lemah iman dikaitkan dengan gejala-gejala lemah iman yang telah dipaparkan pada postingan yang telah lalu (Gejala-Gejala Lemah Iman).
Pertama: Jauh dari Iklim Keimanan dalam Waktu Yang Panjang

Hal ini merupakan faktor pendorong lemahnya keimanan di dalam diri, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ(16)

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. Al-Hadid: 16)

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa menjauhnya seseorang dari iklim keimanan dalam rentang waktu yang panjang akan memicu kelemahan iman di dalam hatinya. Misalnya, seseorang yang berpisah dengan saudara-saudaranya seiman sekian lama, karena dirinya bepergian, bekerja, atau yang lainnya, maka ia akan kehilangan  atmosfir keimanan yang sebelumnya benar-benar ia nikmati, dan hal itu sangat berpengaruh kepada keteguhan hatinya. Seorang Mukmin itu kecil bersama dirinya, dan besar bersama saudara-saudaranya, seperti kata Hasan Al-Bashri rahimahullah: “Saudara-saudara kita seiman lebih berharga dari pada keluarga-keluarga kita; Oleh karena, keluarga-keluarga kita mengingatkan kita terhadap urusan dunia, sedangkan saudara-saudara kita mengingatkan kita akan urusan akhirat.”

Perpisahan seseorang dengan iklim keimanan ini, apabila terus berlangsung, maka akan menyebabkan keliaran dirinya, yang pada gilirannya dapat membuatnya menjadi benci terhadap iklim yang baik itu, dan selanjutnya akan membuat hatinya mengeras dan berlaku aniaya, lalu mereduplah cahaya keimanan yang ada padanya. Inilah yang bisa menjelaskan peristiwa-perstiwa kemerosotan moral yang dialami sebagian orang, ketika mereka bepergian pada masa liburan-liburan mereka, atau setelah migrasi mereka ke negeri-negeri orang untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan.

Kedua: Jauh dari Tauladan Yang Baik

Seseorang yang menuntut ilmu kepada seorang lelaki yang shaleh, maka ia tengah menggabung ilmu yang bermanfaat, amal shaleh, sekaligus kekuatan iman; karena ia sedang mengikatkan diri kepadanya dan meneladani keilmuan, akhlak, dan keutamaan yang dimiliki sang guru. Seandainya ia menjauh dari teladannya itu sekian waktu, maka ia akan merasakan hatinya mengeras. Karena itulah, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan dimakamkan, seorang sahabat berkata: “Hati-hati kami sendiri mengingkari kami.” Para sahabat pun dilanda kesunyian, oleh karena sang pendidik, guru, dan tauladan yang agung itu telah meninggal. Sebagian atsar menyifati keadaan para sahabat saat itu, “ibarat seekor kambing di malam hari yang penuh rintik hujan.” Namun demikian, Nabi ‘alaihi as-shalatu wa as-salam telah meninggalkan gunung-gunung kokoh untuk orang-orang yang ditinggalkannya, yang mana setiap mereka layak menempati kepemimpinan, dan sebagian mereka mampu menjadi tauladan bagi sebagian yang lain. Adapun di zaman ini, orang Islam demikian butuh kepada seorang tauladan yang dekat dengannya.

Ketiga: Enggan Menuntut Ilmu Syar’i

Di antara penyebab lemah iman juga, apabila seseorang enggan menuntut ilmu syar’i dan mengkaji kitab-kitab ulama terdahulu atau kitab-kitab keimanan yang mampu menghidupkan hati. Padahal, telah ada beraneka ragam kitab yang mampu membuat pembacanya merasakan keimanan di dalam hatinya bangkit, dan potensi keimanan di dalam jiwanya bergerak. Yang paling berpengaruh, adalah kitab Allah Ta’ala dan kitab-kitab hadits nabawi, kemudian kitab-kitab para ulama yang baik tutur bahasa dan muatan nasihatnya. Di antara kitab yang dianggap baik pemaparannya tentang akidah, dengan gaya khas menghidupkan hati, adalah kitab-kitab karya Al-‘Allamah Ibnu al-Qayyim dan Ibnu Rajab, serta yang lainnya.

Di samping itu, jangan sampai kita terbenam membaca kitab-kitab yang melulu buah pikiran belaka, atau kitab-kitab hukum yang kosong dari dalil-dalil syar’i, atau kitab-kitab bahasa dan kitab-kitab ushul seumpamanya; yang semua itu terkadang menyebabkan kerasnya hati. Ini tidak dimaksudkan untuk mencela kitab-kitab bahasa, atau kitab-kitab ushul, juga kitab-kitab yang lainnya, namun sekedar peringatan bagi orang yang enggan membuka kitab-kitab tafsir dan hadits, di mana mereka nyaris tak tergerak hatinya untuk membaca kitab-kitab ini, padahal kitab-kitab semacam inilah yang dapat mengantarkan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika engkau membaca hadits-hadits di dalam kitab Shahihain (Bukhari dan Muslim) umpamanya, maka engkau akan merasa tengah berada di dalam lingkungan generasi awal Islam bersama Rasulullah dan para sahabatnya, engkau pun akan memperoleh hembusan keimanan dari tingkah laku dan sejarah kehidupan mereka, juga peristiwa-peristiwa yang terjadi di zaman mereka:

“Ahli hadits adalah pengikut Rasul, meskipun mereka tak pernah menemani beliau, namun hembusan-hembusan beliau mereka temani.” (Sya’ir)

Penyebab lemah iman ini –keengganan untuk membaca kitab-kitab keimanan– nyata sekali pengaruhnya terhadap orang-orang yang mempelajari ilmu-ilmu yang tidak ada kaitannya dengan keilmuan Islam, seperti filsafat, ilmu jiwa, ilmu sosial, dan ilmu-ilmu lainnya yang dipandang terpisah dari Islam. Begitu juga terlihat jelas pada orang-orang yang sangat senang membaca kisah-kisah takhayyul, kisah-kisah kasmaran dan percintaan, atau gemar mengikuti informasi-informasi yang tiada berguna dari koran-koran, majalah-majalah, buku-buku biografi, atau yang lainnya, dengan penuh minat dan rutin membacanya.

Keempat: Keberadaan Seorang Muslim di Lingkungan Yang Penuh Gelombang Maksiat

Di antara penyebabnya juga, apabila seorang Muslim tinggal di tengah lingkungan yang sarat aroma kemaksiatan. Di sekitarnya ada orang yang bangga dengan kedurhakaan, ada lagi yang senang mendendangkan lagu-laguan, ada yang suka merokok, ada yang mengedarkan majalah mesum, ada yang lidahnya selalu mengeluarkan cacian dan kata-kata kasar dan lain sebagainya. Begitu juga kebiasaan menggunjing, adu domba, dan cerita-cerita persaingan di masyarakat, tidak terhitung lagi banyaknya.

Sebagian lingkungan, ada yang tidak mengingatkan apapun kecuali kepada permasalahan dunia semata, seperti yang terjadi di banyak perkumpulan manusia atau perkantoran-perkantoran di zaman ini. Pembicaraan-pembicaraan tentang bisnis, jabatan, harta benda, proyek-proyek, kendala-kendala pekerjaan, bonus-bonus, promosi-promosi, akreditasi-akreditasi, dan yang lainnya adalah perkara-perkara yang paling mengemuka dalam perhatian kebanyakan orang dan isi pembicaraan mereka.

Begitupun di rumah-rumah, berbagai bencana dan kemungkaran-kemungkaran di dalamnya membuat tercengang kening seorang Muslim dan mampu mencabik-cabik hati mereka; Ada nyanyian-nyanyian cabul, film-film yang tak senonoh, ikhtilath (berkumpulnya pria dan  wanita) yang diharamkan, serta berbagai jenis kemungkaran memenuhi rumah-rumah kaum Muslimin; maka dalam lingkungan semacam ini hati akan dilanda penyakit, dan tak ragu lagi ia akan berubah menjadi keras.

Kelima: Larut dalam Kesibukan Mengurusi Dunia

Di antara penyebab lemah iman juga, apabila seseorang terbenam dalam kesibukan mengurusi dunia, hingga hatinya rela menghamba kepadanya, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Celakalah hamba dinar, dan hamba dirham.”[1]

Beliau juga bersabda: “Sesungguhnya, cukup bagi salah seorang di antara kalian, apa yang ada di dunia ini, seperti perbekalan orang yang bepergian.”[2]

Yakni, cukup baginya sesuatu yang sederhana, yang dapat menyampaikannya ke tempat tujuan.

Fenomena –penyebab lemah iman– ini telah begitu kentara di zaman ini, di mana sifat materialistis dan ketamakan manusia untuk menumpuk-numpuk harta duniawi telah begitu merata, dan jadilah manusia senantiasa berpacu dalam perniagaan, perindustian, dan perseroan. Keadaan ini menjadi bukti yang membenarkan apa yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (dalam hadits qudsi);

إِنَّا أَنْزَلْنَا الْمَالَ لِإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَلَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادٍ لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ إِلَيْهِ ثَانٍ وَلَوْ كَانَ لَهُ وَادِيَانِ لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ إِلَيْهِمَا ثَالِثٌ وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Sesungguhnya, Kami menurunkan harta agar shalat ditegakkan dan zakat dikeluarkan. Dan, seandainya anak Adam mempunyai satu bukit, niscaya ia ingin mendapatkan bukit yang kedua, dan seandainya ia mempunyai dua bukit, niscaya ia ingin mendapatkan bukit yang ketiga, dan tidak ada yang bisa memenuhi perut anak Adam kecuali tanah, lalu Allah akan mengampuni orang-orang yang bertaubat kepada-Nya.”[3]

Keenam: Sibuk Bersama Harta, Istri dan Anak

Di antara penyebab lemah iman juga, apabila seseorang sibuk dengan harta, istri dan anaknya, sementara Allah berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ(28(

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. Al-Anfal: 28)

Juga firman-Nya,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ(14(

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali-Imran: 14)

Makna ayat ini, bahwa kecintaan terhadap sesuatu –yang pada permulaannya adalah terhadap istri dan anak-anak–, apabila posisinya lebih dipentingkan dari pada ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, maka pelakunya demikian buruk dan tercela; Adapun jika kecintaan itu sejalan dengan aturan syari’at, hingga bisa mendorongnya untuk taat kepada Allah, maka pelakunya sungguh mulia dan terpuji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Dalam perkara dunia, aku diberi rasa cinta terhadap wanita dan wangi-wangian, sedang penenteram jiwaku ada pada shalat.”[4]

Kebanyakan manusia berhanyut-hanyut dalam perkara-perkara haram di belakang istri, dan berhanyut-hanyut pula di belakang anak-anaknya dalam keadaan lalai dari ketaatan kepada Allah. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

الْوَلَدُ مُحْزِنَةٌ مُجْبِنَةٌ مُجْهِلَةٌ مُبْخِلَةٌ

“Anak itu membuat sedih, membuat takut, membuat bodoh, dan membuat pelit.”[5]

Maksud sabda Nabi, “membuat pelit”: yaitu apabila seorang manusia bermaksud mengeluarkan infak di jalan Allah, maka syaitan mengingatkannya akan nasib anak-anaknya, hingga berkatalah ia: “anak-anakku lebih berhak dengan harta ini, aku akan meninggalkannya untuk mereka, karena mereka memerlukannya sepeninggalku,” maka ia pun menjadi kikir dari berinfak di jalan Allah.

Maksud sabda beliau, “membuat takut”: yakni apabila seseorang bermaksud untuk berjihad di jalan Allah, maka syaitan mendatanginya seraya berkata: “engkau akan terbunuh dan tewas, lalu anak-anakmu menjadi yatim dan terlantar,” maka ia pun tak jadi keluar untuk berjihad.

Maksud sabda beliau, “membuat bodoh”: yaitu seorang ayah akan mengabaikan aktifitas mencari ilmu dan upaya untuk memperolehnya, serta untuk menghadiri majelis-majelis taklim maupun untuk membaca buku-buku keislaman.

Sedangkan sabda beliau, “membuat sedih”: yaitu apabila anaknya sakit, maka sang ayah akan merasa sedih, juga apabila sang anak meminta sesuatu, sementara ia tidak mampu memberinya, maka sang ayah akan merasa sedih pula, lalu anak itu beranjak besar dan berbuat durhaka kepada sang ayah, maka itulah kesedihan yang abadi dan kenestapaan yang pasti.

Yang dituju di sini bukanlah agar kita menghindari pernikahan dan mempunyai anak, bukan pula agar kita lari dari membina anak-anak, hanya saja hal ini untuk memperingatkan agar kita tidak larut ke dalam perkara-perkara yang diharamkan, disebabkan oleh mereka.

Adapun ujian berupa harta, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya bagi setiap umat ada ujian, dan ujian bagi umatku adalah harta.”[6]

Kerakusan seseorang terhadap harta jauh lebih membahayakan terhadap agama, dari pada seekor serigala yang menjajal kandang kambing. Inilah yang dimaksud oleh hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dikirimkan kepada seekor kambing hingga mengancam keselamatan kambing itu, lebih berbahaya dari pada ketamakan seseorang terhadap harta dan kehormatan yang mengancam keagamaannya.”[7]

Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong umatnya agar mengambil harta secukupnya, dan tidak mengumpulkan lebih banyak lagi harta yang mampu melalaikan dirinya dari dzikrullah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا يَكْفِيكَ مِنْ جَمْعِ الْمَالِ خَادِمٌ وَمَرْكَبٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Sesungguhnya, cukuplah bagimu seorang pembantu dan sebuah kendaraan di jalan Allah di antara segenap harta dunia.”[8]

Bahkan, beliau mengancam kepada orang-orang yang senang mengumpulkan banyak harta, kecuali para ahli shadaqah, dengan sabdanya:

وَيْلٌ لِلْمُكْثِرِينَ إِلَّا مَنْ قَالَ بِالْمَالِ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا أَرْبَعٌ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ وَمِنْ قُدَّامِهِ وَمِنْ وَرَائِهِ

“Celakalah orang yang menumpuk-numpuk harta, kecuali yang mau mengeluarkan sejumlah hartanya begini, begini, begini, dan begini; beliau mengisyaratkan sebanyak empat kali ke arah kanan, kiri, depan dan belakangnya.”[9]

Maksudnya, orang yang mengeluarkan sejumlah harta untuk setiap pintu shadaqah dan jalan-jalan kebaikan.

Ketujuh: Panjang Angan-angan

Allah Ta’ala berfirman:

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ(3(

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (Qs. Al-Hijr: 3)

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah mengatakan: “Sesungguhnya, hal yang paling aku takuti menimpa kalian, adalah: menuruti terhadap hawa nafsu dan panjang angan-angan. Oleh karena, menuruti hawa nafsu akan memalingkan seseorang dari kebenaran, sedangkan sifat panjang angan-angan akan membuatnya lupa terhadap urusan akhirat.”[10]

Dalam suatu atsar disebutkan, “Ada empat ciri kemalangan hidup: beku pikiran, keras hati, panjang angan-angan, dan ketamakan terhadap dunia.”

Dari sifat panjang angan-angan akan lahirlah kemalasan untuk menjalankan ketaatan, suka menunda-menunda taubat, penuh minat terhadap dunia, lupa terhadap akhirat, dan hati mengeras. Oleh karena, kelembutan dan kebersihan hati akan diperoleh dengan mengingat kematian, mengingat kuburan, mengingat pahala, siksa, dan kengerian-kengerian hari kiamat, sebagaimana firman Allah:

فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ

“kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras.” (Qs. Al-Hadid: 16)

Disebutkan juga dalam atsar yang lain: “Barangsiapa pendek angan-angannya, maka akan berkurang kegundahannya, dan hatinya jadi bercahaya. Oleh karena, apabila seseorang menghadirkan kematian di hadapannya, maka dirinya akan bersunguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan.”[11]

Kedelapan: Berlebih-lebihan dalam Makan, Minum, Tidur, Begadang, Berbicara dan Bergaul

Banyak makan akan mendungukan akal dan melemahkan badan dari beribadah kepada Ar-Rahman (Allah), juga akan memudahkan jalan-jalan syaitan dalam menggoda manusia, sebagaimana disebutkan dalam suatu atsar: “Barangsiapa banyak makan, maka akan banyak minum, lalu banyak tidur, dan akhirnya kehilangan banyak pahala.”

Berlebih-lebihan di dalam berbicara akan mengeraskan hati, sedangkan berlebih-lebihan di dalam bergaul dengan manusia, akan merenggangkan seseorang dengan aktifitas muhasabah dan berkhalwat (menyendiri untuk beribadah), juga mengurangi perhatiannya terhadap perencanaan diri yang baik. Adapun banyak tertawa akan mengikis unsur kehidupan di dalam hatinya, hingga mati sama sekali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits shahih:

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa itu akan mematikan hati.”[12]

Begitupun waktu yang tidak diisi dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, akan mengakibatkan kerasnya hati, hingga segala peringatan Al-Quran dan berbagai nasihat keimanan tidak lagi berpengaruh baginya.

Sebab-sebab kelemahan iman itu banyak sekali, dan tidak bisa dibatasi. Namun kiranya dengan apa yang telah disebutkan di atas kita dapat memperoleh petunjuk akan hal-hal lainnya yang belum disebutkan. Orang bijak akan mampu menemukan sebab-sebab kelemahan iman pada dirinya. Dan kita memohon kepada Allah, agar Dia menyucikan setiap hati kita dan melindungi kita dari keburukan jiwa-jiwa kita.


[1] Riwayat Bukhari (2730).

[2] Riwayat Thabrani di dalam kitab Al-Kabir (4:78), dan lihat di dalam kitab Shahih Al-Jami’ (2384).

[3] Riwayat Ahmad (5:219), lihat di dalam kitab Shahih Al-Jami’ (1781).

[4] Riwayat Ahmad (3:128), lihat di dalam kitab Shahih Al-Jami’ (3124).

[5] Riwayat Thabrani di dalam Al-Kabir (24:241), lihat di dalam Shahih Al-Jami’ (1990).

[6] Riwayat Tirmidzi (2336), lihat di dalam kitab Shahih Al-Jami’ (2148).

[7] Riwayat Tirmidzi (2376), lihat di dalam kitab Shahih Al-Jami’ (5620).

[8] Riwayat Ahmad (5:290), lihat di dalam kitab Shahih Al-Jami’ (2386).

[9] Riwayat Ibnu Majah (4129), lihat di dalam kitab Shahih Al-Jami’ (7138).

[10] Lihat kitab Fath al-Bari (11:236).

[11] Lihat kitab Fath al-Bari (11:237).

[12] Riwayat Ibnu Majah (4193), lihat di dalam Shahih Al-Jami’ (7435).

_-_**_-_**_-_**_-_

Diterjemahkan oleh Abu Haitsam Buldan

dari kutaib Dzahirah Dha’f al-Iman karya syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid

Artikel: https://asya84.wordpress.com/

Posted on 25 Juni 2012, in Fawa'id, Renungan, Tazkiyatun Nufus and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: