Mengaku Muslim tapi Setia kepada Kafirin

Akhir-akhir ini Ummat Islam diliputi keadaan yang menuntut kehati-hatian yang sangat. Kalau tidak hati-hati, maka akan terjerumus sangat dalam, karena kemungkinan yang diucapkan oleh lisan, diperbuat oleh anggota badan, dan diyakini oleh hati, kemungkinan justru hal-hal yang sangat dilarang Islam. Dalam hal ini yang akan kita bicarakan adalah merajalelanya gejala setia kepada orang kafir, yang dalam Islam sangat dilarang, namun di masyarakat justru tampak semakin berkembang.

Untuk mengetahui bagaimana gejala mencintai atau setia atau loyal terhadap orang kafir, mari kita simak uraian ulama terkemuka saat ini yakni Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, dalam bab مظاهر موالاة الكفار Madhaahiru Muwaalatil Kuffaar – gejala-gejala setia kepada orang-orang kafir berikut ini.

Di antara gejala setia terhadap Kafirin

bentuk-bentuk kesetiaan atau loyalitas atau bahasa Islamnya wala’ terhadap kafirin sungguh telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, di antaranya akan diuraikan 10 gejala sebagai berikut:

1. Menyerupai kafirin dalam berpakaian, ucapan, sikap dan lainnya. Itu menunjukkan kecintaan pada mereka, karena Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ * (أبو داود)

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Daud, dan At-Thabrani dalam Al-Awsath, dari Hudzaifah, berderajat hasan)

Oleh karena itu diharamkan menyerupai orang-orang kafir dalam hal yang menjadi ciri khusus mereka, yang berupa tradisi atau adat kebiasaan, ibadah, symbol dan akhlak mereka seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, berbicara dengan bahasa mereka kecuali ada kebutuhan yang mendesak, demikian juga dengan mode berpakaian mereka, makan, minum dan sebagainya.

2. Tinggal di negeri kafir dan tidak pindah ke negeri Muslimin untuk menyelamatkan ad-dien. Berdiamnya di negeri kafir menunjukkan loyalitasnya terhadap orang kafir. Allah Ta’ala mengharamkan bermukimnya orang Muslim di antara orang-orang kafir apabila ia mampu untuk berhijrah.

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (النساء : 97)

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab, ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).’ Para malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’ [4] : 97)

إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا (النساء:98)

“Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).” (QS. An-Nisaa’ [4] : 98)

فَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا (النساء:99)

“Mereka itu, mudah-mudahan Allah mema`afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisaa’ [4] : 99)

Allah Ta’ala tidak menerima alasan setiap Muslim yang bermukim di negara orang kafir kecuali mereka yang lemah, yang tidak mampu untuk berhijrah, juga orang-orang yang bermukimnya ada kemaslahatan ad-dien, misalnya berda’wah dan menyebarkan Islam di negeri mereka.

3.Bepergian ke negeri kafir dengan tujuan wisata dan rekreasi. Hal yang demikian haram hukumnya kecuali untuk hal yang sangat diperlukan, seperti berobat, berdagang, studi tentang sesuatu yang bermanfaat yang tidak dapat tercapai kecuali dengan mengadakan perjalanan ke negeri mereka, maka hal itu diperbolehkan sesuai dengan kebutuhan. Jika kebutuhannya telah terpenuhi, ia wajib kembali ke negeri kaum muslimin.

Dan disyaratkan pula untuk diperbolehkannya mengadakan perjalanan semacam ini, ia mampu menampakkan agamanya, bangga dengan keislamannya, menjauhi tempat-tempat kejahatan, waspada terhadap penyelinapan musuh-musuhnya dan tipu daya mereka. Dan diperbolehkan juga untuk bepergian atau wajib pergi ke negeri mereka apabila dimaksudkan untuk berdakwah di jalan Allah.

4. Membantu kafirin untuk mengalahkan Muslimin, memuji-muji dan membela mereka. Ini merupakan bagian dari rusaknya aqidah, dan penyebab kemurtadan.

5. Meminta bantuan kepada kaum kafir, mempercayakan urusan kepada mereka, memberikan kekuasaan kepada mereka agar menduduki jabatan yang di dalamnya ada banyak perkara yang menyangkut urusan kaum muslimin, serta menjadikan mereka sebagai kawan terdekat dan teman dalam bermusyawarah.

Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ(ال عمران:118)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran [3] : 118)

هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ(ال عمران:119)

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata, ‘Kami beriman’; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka), ‘Matilah kamu karena kemarahanmu itu’. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” (QS. Ali Imran [3] : 119)

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ (ال عمران: 120)

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran [3] : 120)

Ayat-ayat yang mulia ini mengungkapkan hakekat kaum kafir dan apa yang mereka sembunyikan dari kaum muslimin yang berupa kebencian dan siasat untuk melawan kaum muslimin seperti tipu daya dan pengkhianatan. Dan ayat ini juga mengungkapkan tentang kesenangan mereka bila kaum muslimin mendapat musibah. Dengan berbagai cara mengganggu ummat Islam. Bahkan kaum kuffar tersebut memanfaatkan kepercayaan ummat Islam kepada mereka dengan menyusun rencana untuk memojokkan dan membahayakan ummat Islam.

وَرَوَى الْإِمَامُ أَحْمَد بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ : قُلْت لِعُمَرِ : إنَّ لِي كَاتِبًا نَصْرَانِيًّا قَالَ : ما لَك قَاتَلَك اللَّهُ أَمَا سَمِعْت اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ : { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ } أَلَا اتَّخَذْت حَنِيفِيًّا قَالَ : قُلْت : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لِي كِتَابَتُهُ وَلَهُ دِينُهُ قَالَ : لَا أُكْرِمُهُمْ إذْ أَهَانَهُمْ اللَّهُ وَلَا أُعِزُّهُمْ إذْ أَذَلَّهُمْ اللَّهُ وَلَا أُدْنِيهِمْ إذْ أَقْصَاهُمْ اللَّهُ

Imam Ahmad telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhu, dia berkata kepada ‘Umar radhiyallahu anhu, “Saya memiliki sekretaris yang beragama Nashrani”. ‘Umar berkata, “Mengapa kamu berbuat demikian? Celakalah engkau. Tidakkah engkau mendengar Allah Ta’ala berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ …) (المائدة: 51)

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain…” (QS. Al-Ma’idah [5] : 51)

Kenapa tidak engkau ambil seorang muslim sebagai sekretarismu?’ Abu Musa menjawab, ‘Wahai amirul mukminin, saya butuhkan tulisannya dan urusan agama terserah dia’. Umar berkata:

لَا أُكْرِمُهُمْ إذْ أَهَانَهُمْ اللَّهُ وَلَا أُعِزُّهُمْ إذْ أَذَلَّهُمْ اللَّهُ وَلَا أُدْنِيهِمْ إذْ أَقْصَاهُمْ اللَّهُ

‘Saya tidak akan memuliakan mereka karena Allah telah menghinakan mereka, saya tidak akan mengangkat derajat mereka karena Allah telah merendahkan mereka dan saya tidak akan mendekati mereka karena Allah telah menjauhkan mereka’.”

Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى بَدْرٍ حَتَّى إِذَا كَانَ بِحَرَّةِ الْوَبَرَةِ لَحِقَهُ رَجُلٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ يَذْكُرُ مِنْهُ جُرْأَةً وَنَجْدَةً فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَسْتَ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ لَا قَالَ ارْجِعْ فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ. (مسلم)

Bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam keluar menuju Badar. Tiba-tiba seseorang dari kaum musyrikin menguntitnya dan berhasil menyusul beliau ketika sampai di Harrat alwabarah, lalu dia berkata, “Sesungguhnya aku ingin mengikuti kamu dan aku rela berkorban untuk kamu”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berimankah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya?” dia berkata, “Tidak”. Beliau bersabda:

ارْجِعْ فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ.

“Kembalilah, karena saya tidak akan meminta pertolongan kepada orang musyrik”. (HR Ahmad dan Muslim)

Dari nash-nash tersebut di atas, jelas bagi kita tentang haramnya mengangkat kaum kafir untuk menduduki jabatan pekerjaan kaum muslimin yang mereka nanti akan mengokohkan kedudukannya dengan sarana yang ada padanya untuk mengetahui keadaan kaum muslimin dan membuka rahasia-rahasia mereka atau menipu dan menjerumuskan ummat Islam ke dalam kerugian dan kebinasaan. Namun sayang hal ini banyak terjadi pula di negeri kaum muslimin, negeri Haramain Syarifain (Saudi Arabia) yang menjadikan kaum kuffar sebagai pekerja-pekerja, sopir-sopir, pelayan-pelayan, guru-guru di rumah-rumah yang bergaul bersama mereka keluarga muslim atau membaur dengan kaum muslimin di negerinya.

6. Menggunakan kalender kafirin, khususnya yang mencatat hari-hari suci dan hari-hari besar mereka, seperti kalender Masehi yang menyebutkan peringatan hari Kelahiran Al-Masih ‘alaihissalam yang hari raya itu adalah bid’ah yang mereka ada-adakan, dan bukanlah dari ajaran Al-Masih (Nabi ‘Isa) ‘alaihissalam. Karena itu menggunakan kalender ini berarti ikut berpartisipasi dalam menghidupkan syi’ar dan hari raya mereka. Hendaknya kita menghindari masalah ini, karena para sahabat radhiyallahu ‘anhum pun berpaling dari kalender orang-orang kafir dan mereka membuat kalender sendiri yang dimulai dengan peristiwa hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu. Hal tersebut menunjukkan wajibnya menyelisihi kaum kuffar dalam masalah ini dan ciri-ciri khas mereka. Semoga Allah Ta’ala menolong kita.

7. Ikut serta di hari-hari besar kafirin, membantu penyelenggaraan upacara mereka, mengucapi selamat pada hari itu, mendatangi undangan upacara mereka pada hari itu. Firman Allah:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ (الفرقان:72)

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu.” (QS. Al-Furqon [25] : 72); telah ditafsirkan bahwa dari sifat hamba-hamba adalah sesungguhnya mereka tidak mendatangi hari-hari besar orang kafir.

8. Memuji, terpesona, kagum terhadap kafirin.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى (طه:131)

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thoha [20] : 131)

Yang demikian itu bukan berarti orang Islam tidak boleh mencari tahu tentang sebab-sebab kekuatan mereka, seperti: kemajuan teknologi, teknik militer dan keberhasilan ekonomi mereka, akan tetapi yang demikian itu justru dituntut.

Allah Ta’ala berfirman:

{ وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ }

“Bersiaplah untuk menghadapi mereka dengan kekuatan apa yang kamu sanggupi.”(QS. Al-Anfaal [8] : 7)

Pada dasarnya beberapa hal yang bermanfaat dan rahasia-rahasia alam semesta yang ada adalah untuk kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِيَ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالْطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِي لِلَّذِينَ آمَنُواْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ )الأعراف:32)

“Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan juga rejeki yang baik?’. Katakanlah, ‘Semua itu disediakan bagi orang-orang yang beriman di dunia dan khusus untuk mereka saja di hari kiamat’.” (QS. Al-A’raf [7] : 32)

Firman Allah Ta’ala:

وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لَّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ  (الجاثية:13).

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-Jatsiyah [45] : 13)

Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً  (البقرة:29)

“Dialah yang telah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al-Baqoroh [2] : 29)

Oleh karena itu kaum muslimin wajib saling berlomba dalam usaha memperoleh beberapa teknologi dan potensi yang ada, jangan sampai ditemukan orang kafir agar muslimin tidak tergantung kepada orang kafir dalam memperoleh teknologi tersebut. Bahkan dianjurkan agar Muslimin memiliki industri-industri dan menciptakan perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan.

9.Memberi nama dengan nama-nama orang kafir.

Banyak di antara kaum muslimin yang memberi nama kepada anak-anaknya baik laki-laki maupun perempuan dengan nama-nama asing dan meninggalkan nama bapaknya, ibunya, kakeknya, neneknya dan nama-nama yang dikenal di masyarakatnya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ خَيْرَ الأَسْمَاءِ عَبْدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَالْحَارِثُ.

“Sesungguhnya sebaik-baiknya nama adalah Abdullah, Abdur Rahman, dan Al-Harits”. (HR Ahmad, shahih menurut Syaikh Syu’aib Al-Anauth)

Perubahan nama-nama tersebut berakibat hilangnya kesatuan dengan generasi sebelumnya, juga menghapus identitas nama keluarga tertentu yang biasa dikenal dengan nama-nama khas mereka.

10. Berdoa memintakan ampun dan rahmat bagi kafirin. Allah telah mengharamkan hal yang demikian ini dalam firman-Nya:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيم ِ(التوبة:113).

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam.” (QS. At-Taubah [9] : 113)

Karena dalam permasalahan ini mengandung adanya suatu rasa kecintaan terhadap mereka dan membenarkan sesuatu yang ada pada mereka.

Demikianlah penjelasan Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, ulama terkemuka abad ini, dalam bab مظاهر موالاة الكفار Madhaahiru Muwaalatil Kuffaar —gejala-gejala setia kepada orang-orang kafir— dalam buku:

الإرشاد إلى صحيح الاعتقاد والرد على أهل الشرك والإلحاد

Al-Irsyadu isla shahiihil I’tiqaad warraddi ‘alaa ahlis syirki wal ilhaad.

Perlu sangat diperhatikan, terutama dua gejala ini, yaitu gejala keempat dan kelima:

4. Membantu kafirin untuk mengalahkan Muslimin, memuji-muji dan membela mereka. Ini merupakan bagian dari rusaknya aqidah, dan penyebab kemurtadan.

5. Meminta bantuan kepada kaum kafir, mempercayakan urusan kepada mereka, memberikan kekuasaan kepada mereka agar menduduki jabatan yang di dalamnya ada banyak perkara yang menyangkut urusan kaum muslimin, serta menjadikan mereka sebagai kawan terdekat dan teman dalam bermusyawarah.

Dua gejala itu disamping mengancam hancur leburnya keimanan pelakunya, masih pula sangat merugikan kaum muslimin pada umumnya. Maka wajib dihindari sama sekali. Adapun seandainya telah menggejala di masayarakat, maka mari kita berantas sekuat-kuatnya secara tolong menolong dalam kebaikan untuk memberantas kemunkaran. Apalagi masalah ini sangat membahayakan Ummat Islam secara keseluruhan.

Semoga Allah subahanahu wa ta’ala berkenan memberi hidayah kepada kita semua sehingga kita mampu memahamainya dengan baik dan menghindarinya sejauh-jauhnya, karena gejala-gejala itu sangat membahayakan keimanan kita namun tampaknya justru memang menggejala di mana-mana. Hanya Allah lah tempat kita berlindung dari segala bahaya terutama bahaya mencintai kekafiran yang seolah menggoda manusia setiap saat dan bahkan dihiasi dengan kata-kata indah nan menawan sehingga banyak menjerumuskan orang. Na’udzubillahi min dzalik. Kami berlindung dari hal yang demikian.

**************

Oleh: Ust. Hartono Ahmad Jaiz

 

Posted on 10 Desember 2011, in Fawa'id, Tazkiyatun Nufus and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: