Jeratan Lagu-Lagu Melankolis!

Sebagian pemudi digiring oleh syaitan ke jalan yang buruk, untuk mendengarkan lagu-lagu dan terjebak dalam kungkungan dosa. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.” (Qs. Luqman: 6)

Ibnu Mas’ud berani bersumpah atas nama Allah, bahwa yang dimaksud dengan “Lahw al-Hadits” (perkataan yang tidak berguna) itu adalah lagu-lagu.

Dalam hadits shahih, Rasulullah bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Akan ada di kalangan umatku, orang-orang yang menghalalkan perzinaan, pakaian sutera, khamr, dan alat-alat musik.”

Tercatat pula dalam hadits riwayat At-Tirmidzi, beliau bersabda:

لَيَكُونَنَّ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ خَسْفٌ وَقَذْفٌ وَمَسْخٌ وَ ذَالِكَ إِذَا شَرِبُوْا الخُمُوْرَ وَاتَّخَذُوا الْقَيْنَاتِ وَضَرَبُوْا بِالْمَعَازِفِ

“Akan terjadi pada umatku orang yang dibenamkan ke dalam tanah, diterpa angin dahsyat, dan diburukkan rupanya; yaitu apabila mereka meminum khamr, mengambil penyanyi-penyanyi, dan menabuh alat-alat musik.”

Para ulama juga memfatwakan haramnya alat-alat musik dan peralatan hura-hura. Keharaman musik itu semakin kuat lagi apabila disertai dengan lagu-lagunya, serta petakanya lebih dahsyat lagi jika lagu-lagu yang dilantunkannya itu seputar percintaan, lagu kasmaran, kegombalan, dan mengelu-elukan kekasih. Yang demikian adalah seruling syaitan; ditiup oleh syaitan itu, lalu diikuti oleh para sahabat setianya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ

“Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki.” (Qs. Al-Isra: 64)

Ibnu Mas’ud berkata: “Lagu merupakan promosi perzinaan.” Maksudnya, lagu-lagu itu termasuk satu sarana yang mengarahkan manusia kepada perzinaan. Luar biasa! Ini dikatakan oleh Ibnu Mas’ud dikala lagu-lagu yang ada saat itu hanya dilantunkan oleh budak-budak wanita dengan menggunakan alat musik rebana serta sya’ir-sya’ir yang fasih.

“Lagu merupakan promosi perzinaan,” kata Ibnu Mas’ud.

Lalu bagaimanakah seandainya beliau menyaksikan lagu-lagu yang ada saat ini? Sungguh, lagu-lagu saat ini semakin bervariasi saja jenisnya; semakin banyaklah penolong-penolong syaitan itu. Maka, lagu-lagu itu terus menerus mengalun, baik di dalam mobil, di atas pesawat, di darat, di laut; bahkan pada bunyi jam, bel rumah, permainan anak-anak, komputer, ataupun pesawat telepon, semuanya diiringi suara musik.

****************

Dikutip dari kutaib “Innahaa Malikah” Karya: Dr. Muhammad ibn ‘Abdurrahman Al-‘Arifi, versi terjemahan oleh: Abu Haitsam Buldan Muhammad Fattah

Artikel: https://asya84.wordpress.com/

Posted on 4 Oktober 2011, in Renungan, Tazkiyatun Nufus and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: