Bolehkah Wanita Yang Sedang Haidh Berdiam Diri Di Masjid?

Oleh: Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin

Bagaimana hukum seorang wanita berada di Masjid al-Haram, sedangkan dia dalam keadaan haidh, untuk mendengarkan hadits-hadits dan khutbah?

Jawaban Syaikh Utsaimin Rahimahullah:

Tidak diperbolehkan bagi wanita haidh untuk berdiam lama di dalam Masjid Al-Haram dan masjid-masjid yang lain. Akan tetapi diperbolehkan lewat di masjid dan mengambil keperluannya dari dalamnya, atau untuk tujuan sejenisnya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ‘Aisyah, tatkala beliau memerintahnya untuk datang dengan membawa khumrah (semacam sajadah). ‘Aisyah berkata, ”Barang itu ada di dalam masjid sedangkan saya haidh” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya haidhmu bukan berada di tanganmu”.

Maka jika perempuan yang sedang haidh lewat di masjid sedangkan dia merasa aman dari tetesan darah haidh di lantai masjid maka tiada dosa atasnya. Adapun jika dia berkehendak untuk masuk dan duduk maka tidak diperbolehkan.

Dalilnya adalah bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para wanita di kala shalat ‘ied untuk mengajak keluar para wanita dewasa, para wanita pingitan danperempuan haidh ke tempat shalat ‘ied. Tetapi beliau memerintahkan para wanita yang haidh untuk menyingkir dari  tempat shalat. Dalil itu menunjukkan bahwa perempuan yang haidh tidak diperbolehkan berdiam di dalam masjid untuk mendengarkan khutbah atau mendengarkan pelajaran atau hadits-hadits.

************

Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al‘Utsaimin dalam Kitab Al-Fataawa An-Nisaaiyah

Artikel: https://asya84.wordpress.com/

Posted on 3 Juni 2011, in Fatawa and tagged . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. assalamu’alaikum…
    ummi, saya ingin bertanya, bagaimana jika di kaitkan dengan pendapat yang meyebutkan bahwa di perbolehkan wanita yang sedang haidh berdiam dalam mesjid, tapi dalam keadaan aman dari tetesan darah haidh..karena seiring berjalannya teknologi sekarang sudah banyak alat untuk menghindari menetesnya darah haid..
    mohon penjelasannya ummi…
    syukran…

    • wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh
      ukhty hal ini adalah masalah khilafiyah, yg di antara para ulama sendiri terjadi perbedaan pendapat, silahkan anti ambil hujjah para ulama yg sekiranya anti yakini ketsiqohannya, saat ini hujjah yg ana ikuti adalah ini, kalaupun ana menemukan hujjah yg lbh tsiqoh lg maka ana akan berlapang dada untuk menerima kebenaran, krn masalah fiqh itu waasi’ (luas).
      kalo kita baca penjelasan syaikh Utsaimin di atas, maka kurang lebih intinya spt ini: Masalah aman dari tetesan darah adalah sebagai syarat dari toleransi diperbolehkannya wanita haidh masuk masjid hanya untuk sekedar lewat saja, akan tetapi kalau untuk berdiam diri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengharamkan masjid bagi orang yang sedang haid dan junub, sebagaimana hadits berikut ini:
      عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ إِنِّي لا أُحِلُّ اَلْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَة
      Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi orang yang sedang haid dan junub.” Riwayat Abu Dawud dan hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.
      Dan di dalam al-Qur’an juga ada ayat yang melarang orang yang sedang junub (janabah) untuk masuk ke dalam masjid, dan wanita yang sedang haidh termasuk orang yang junub,
      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىَ تَغْتَسِلُواْ
      Wahai orang yang beriman! janganlah kamu mendekati shalat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub, kecuali sekedar melewati jalan saja, hingga kamu mandi (mandi junub). (QS. An-Nisa` : 43)
      Dan dari fatwa syaikh ‘Utsaimin di atas telah jelas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan wanita yang sedang haidh untuk keluar di hari ‘ied dengan catatan menjauhi tempat shalat. Dan di sini tidak disebutkan kecuali kalau bisa memastikan aman dari tetesan darah maka boleh mendekati tempat shalat berarti wanita haidh memang terlarang berdiam diri di masjid.
      biar lebih jelas anti boleh merujuk kesini: http://www.binbaz.org.sa/mat/2355#_ftn1
      Wallahu a`lam bishshawab.

  2. begitu ya Ummi…syukran jiddan atas jawabannya.. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: