Akibat Mengerikan Bagi Orang Yang Melanggar Jalan Yang Diharamkan

Setiap orang yang berakal jangan sampai meniti suatu jalan sebelum dia mengetahui apakah jalan itu memberinya keselamatan atau bencana, atau bisa menghantarkannya ke tujuan tertentu, tujuan yang membuatnya selamat atau tujuan yang mencelakakan dirinya. Inilah jalan yang membawa kehancuran orang-orang terdahulu maupun sekarang, menghela orang yang menitinya ke tujuan yang buruk dan sumber kerusakan. Oleh karena itu Allah menjadikan ina sebagai jalan yang paling buruk. Firman-Nya,

ولا تقربوا الزنى إنه كان فاحشة وساء سبيلا (الإسراء: 32)

“Dan, janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk,” (Al-Isra’: 32)

Jika ini gambaran jalan zina, lalu bagaimana dengan jalan homoseks,yang dosa dan hukumannya dua kali lipat dari zina? Masalah ini akan dikupas lebih jauh di bagian mendatang. Yang pasti jalan zina adalah jalan yang paling buruk. Tempat kembali orang yang melakukannya adalah neraka Jahim, tempat yang paling buruk. Tempat tinggal bagi ruh mereka di alam Barzakh adalah tungku api, yang apinya terus-menerus menyala dari bagian bawahnya. Jika apinya dinyalakan, maka dia menggelinjang, lalu kembali lagi seperti semula. Begitu terus keadaannya hingga kiamat tiba, seperti kejadian yang dilihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam mimpinya. Padahal mimpi para Nabi merupakan wahyu yang tidak disangsikan kebenarannya.

Al-Bukhary meriwayatkan di dalam Shahihnya, dari hadits Samurah bin Jundab Radiyallahu Anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seringkali bertanya kepada para shahabat, “Adakah di antara kalian yang bermimpi?” Lalu mimpi mereka itu diceritakan kepada beliau seperti yang dikehendaki Allah. Suatu sore beliau bersabda kepada kami, “Semalam aku didatangi dua orang yang diutus kepadaku. Keduanya berkata kepadaku, “Lanjutkan!” Maka akupun pergi bersama keduanya. Kami melewati seorang laki-laki yang tidur miring. Tiba-tiba ada orang lain yang berdiri di dekatnya sambil membawa batu yang besar, lalu menjatuhkan batu itu ke kepalanya, hingga kepalanya pecah dan batu itujuga berhamburan ke sana-sini. Orang kedua itu mengumpulkan lagi pecahan-pecahan batu, dan tidak menghampiri orang yang pertama melainkan kepalanya sudah kembali seperti semula. Kemudian orang kedua menghampirinya lagi dan berbuat seperti yang dia perbuat pertama kali.

Beliau bertanya, “Subhanallah, siapakah dua orang itu?”

Keduanya berkata, “Lanjutkan, Lanjutkan!” Maka kamipun pergi lagi. Lalu kami melewati seorang laki-laki yang tidur terlentang pada punggungnya, dan ada orang lain yang berdiri di dekatnya sambil membawa sebatang besi yang ujungnya bengkok. Orang kedua ini mendekati sebelah wajah orang yang pertama,mencabik-cabik ujung mulutnya hingga ke tengkuk, hidungnya hingga ke tengkuknya, matanya hingga ke tengkuknya. Kemudian beralih ke belahan wajah satunya lagi dan berbuat seperti yang dia perbuat pertama kali. Belum selesai dengan perbuatannya di satu belahan wajah, maka wajah yang satunya lagi kembali seperti semula. Kemudian dia beralih ke belahan wajah satunya lagi dan berbuat seperti yang dia perbuat pertama kalinya.

Beliau bersabda, “Aku berkata, Subhanallah! Siapakah dua orang itu?”

Keduanya menjawab Lanjutkan! Lanjutkan!”

Maka kamipun pergilagi. Lalu kami melewati sesuatu seperti tungku api, yang ternyata di atas tungku itu terdengar suara gaduh dan jeritan. Kami menengok ke dalamnya.di san ada beberapa orang laki-laki dan wanita yang telanjang.jika ada nyala api dari bagian bawah mereka, maka suara mereka pun gaduh.

Beliau bersabda, “Aku bertanya kepadakeduanya, Siapakahmereka itu?”

Keduanya menjawab, “Lanjutkan! Lanjutkan!”

Maka kami pun pergi lagi, lalu kami melewati sungai yang airnya berwarna merah seperti darah. Di sungai itu ada seorang laki-laki yang berenang, dan di pinggir sungai ada orang lain yang membawa bebatuan yang banyak. Jika orang yang berenang itu berenang menurut kemampuannya, kemudian mendekati orang yang telah mengumpulkan bebatuan itu sambil membuka kedua bibirnya, maka orang yang kedua memasukkan batu ke mulutnya, lalu dia berenang menjauhinya. Kemudian kembali lagi mendekatinya dan membuka kedua bibirnya dan dia pun memasukkan batu ke mulutnya.

Beliau bersabda, ‘Aku bertanya, “Siapa dua orang itu?”

Keduanya menjawab, “Lanjutkan! Lanjutkan!

Maka kami pun pergi lagi. Lalu kami melewati seorang laki-laki yang rupanya sangat menjijikan, seperti rupa orang yang paling menjijikan yang pernah engkau lihat. Di sampingnya ada api yang dia kobarkan dan dia besarkan.

Beliau bersabda, “Aku bertanya, Siapakah orang itu?”

Keduanya menjawab, “Lanjutkan! Lanjutkan!”

Maka kami pun pergi lagi lalu kami melewati kebun yang terang benderang. Cahaya musim semi menyinari kebun itu. Di kedua sisi kebun itu ada seorang laki-laki yang sangat tinggi badannya. Hamper-hampir aku tak bisa melihat kepalanya, karena tingginya menjulang hingga ke langit. Di sekitarnya banyak sekali anak-anak, yang tidak pernah kulihat jumlahnya sebanyak itu.

Beliau bersabda, “Aku bertanya, Siapakah orang itu?”

Keduanya menjawab, “ Lanjutkan!, Lanjutkan!”

Maka kami pergi lagi, lalu kami melewati sebuah bangunan yang sangat besar, yang sebelumnya aku tidak pernah bangunan yang besar seperti itu sama sekali. Keduanya berkata kepadaku, “Naiklah ke sana!”

Maka kami naik ke sana, hingga kami tiba ke sebuah kota yang bangunannya terbuat dari bata emas dan perak. Kami tiba di pintu gerbang kota. Kami minta untuk dibukakan. Maka pintunya dibukakan untuk kami. Kami memasuki kota itu dan kami melewati beberapa orang yang separoh badannya elok, seelok yang pernah engkau lihat, dan separoh badannya lagi buruk, seburuk yang pernah engkau lihat.

Beliau bersabda, “Keduanya berkata kepada mereka, Pergilah dan menceburlah ke sungai itu!” Di sana ada sebuah sungai yang lebar mengalir, yang airnya sangat jernih. Mereka pun pergi dan mencebur ke dalam sungain itu. Tatkala mereka sudah kembali menghampiri kami, maka keburukan rupa mereka telah sirna dan rupa .mereka menjadi sangat elok.

Beliau bersabda, “Tatkala pandanganku tertuju ke arah atas, ternyata ada sebuah istana seperti awan putih.

Beliau bersabda, “Keduanya berkata kepadaku, Ini adalah tempat tinggalmu.”

Aku berkata, “Semoga Allah memberkahimu. Biarkan aku memasukinya!”

“Belum sekarang. Toh nanti pun engkau akan memasukinya,” kata keduanya.

Aku bertanya kepada keduanya, “Sejak malam ini aku telah melihat keajaiban. Lalu apa makna yang telah kulihat ini?”

Keduanya menjawab, “Sekarang kami akan memberitahukannya kepadamu. Tentang orang pertama yang engkau lewati, yang kepalanya dijatuhi batu besar, adalah orang yang membaca Al-Qur’an dan menolak isinya serta tidur dan ketinggalan mengerjakan shalat wajib. Tentang orang yang engkau lewati, yang ujung mulutnya dicabik-cabik hingga tengkuknya, hidungnya hingga tengkuknya, matanya hingga tengkuknya, adalah orang yang keluar dari rumahnya pada sore hari, lalu membuat kedustaan, yang kedustaannya mencapai angkasa. Tentang para laki-laki dan wanita yang telanjang, yang berada di suatu bangunan seperti tungku api, adalah para laki-laki dan wanita pezina. Tentang orang yang berenang di sungai lalu mulutnya dimasuki batu adalah orang yang mengambil riba. Tentang orang yang rupanya sangat menjijikkan dan yang mengobarkan api serta membesarkannya adalah malaikat penjaga neraka Jahannam. Tentang orang yang sangat tinggi yang berada di taman, maka dia adalah Ibrahim. Tentang anak-anak yang ada di sekitarnya adalah setiap anak kecil yang mati berdasarkan fitrah.

Sebagian orang-orang muslim bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan anak orang-orang musyrik?”

Beliau menjawab, “Begitu pula anak orang-orang musyrik. Tentang orang-orang yang separoh badannya elok dan separohnya lagi buruk adalah mereka yang mencampur amal shalih dengan amal buruk, namun Allah mengampuni dosa mereka.”

Demikianlah mimpi yang dialami Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mimpi Rasulullah adalah benar adanya.

*************

Ditulis ulang dari buku Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah versi terjemahan yang diterbitkan oleh Darul Falah

Posted on 3 Juni 2011, in Fawa'id, Tazkiyatun Nufus and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. oke.. Ana sebarin ya… baarokAllaahu fiyk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: