Ketabahan Sejati Saat Pertama Kali Musibah Terjadi

Oleh: Aisyah Ummu Haitsam 

عن أنس رضي الله عنه قال: مر البي صلى الله عليه وسلم بامرأة تبكي عند قبر فقال :اتقي الله واصبري, فقالت: إليك عني, فإنك لم تصب بمصيبتي, ولم تعرفه, فقيل لها إنه النبي  صلى الله عليه وسلم فأتت باب النبي صلى الله عليه وسلم فلم تجد عنده بوابين, فقالت: لم أعرفك, فقال: إنما الصبر عند الصدمة الأولى. متفق عليه

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dia berkata: telah lewat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  kepada seorang perempuan yang sedang menangis di samping kuburan, maka Rasulullah bersabda: “Bertakwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah.” Perempuan itu berkata: “Menjauhlah engkau dariku, karena sesungguhnya engkau tidak tertimpa musibah sebagaimana musibah yang menimpaku.” (Anas berkata): Perempuan itu tidak mengenal beliau, lalu dia diberitahu bahwa yang barusan bicara itu adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian dia mendatangi pintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak didapati padanya penjaga pintu, maka perempuan itu berkata: tadi aku belum mengenalmu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kesabaran itu saat tamparan (musibah) pertama kali dirasakan. Mutafaqun ‘alaih.

Banyak sekali faedah berharga yang bisa kita petik dari untaian hadits di atas:

  • Sebuah kesalahan yang dilakukan dengan tidak disengaja, maka hal itu tidak dihitung dosa.

seperti yang dikisahkan dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mencela perempuan itu atas apa yang telah dilakukannya.

Dan bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan menghukum seorang hamba yang melakukan dosa disebabkan kerena kekhilafannya.

…….ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا…. (البقرة:286)

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.

  • Seseorang tidak akan mendapatkan pahala disebabkan musibah yang menimpanya, akan tetapi seseorang akan mendapatkan pahala berdasarkan kebaikan niatnya, kesabarannya, dan keridhaannya akan takdir Allah ‘Azza wa Jalla.
  • Barangsiapa diperintahkan untuk berbuat baik, maka mesti menerimanya tanpa harus melihat siapa orang yang mengatakannya.

أنظر ما قال ولا تنظر من قال

Perhatikanlah apa-apa yang dikatakan (diucapkan) dan janganlah meperhatikan siapa yang mengatakan

  • Dorongan untuk menahan diri ketika mendapatkan gangguan atau ketidakenakan dari orang lain.
  • Tidak perlu marah apabila nasihat kita tidak diterima.

Di antara kemuliaan akhlaq Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tawadhu dan lemah lembut, perhatikanlah  ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan makian “إليك عني ” ( menjauhlah kau dariku) dengan rendah hati beliau langsung saja berlalu dan tidak mencela wanita itu, padahal beliau adalah seorang manusia pilihan dan pemimpin umat.

Da’wah bukanlah merubah orang dari ma’siat menjadi ta’at, dari kafir menuju muslim, dan dari bid’ah beralih sunnah, melainkan da’wah adalah menyampaikan kebenaran agar memudahkan orang untuk mendekatkan diri kepada Allah, perkara ada yang dengar atau tidak, maka hal itu bukanlah urusan kita lagi, Allah lah yang akan memberikan hidayah kepada mereka, dan Allah maha mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء… (القصص: 56)

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya,

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan: kalau niat kita dalam berda’wah tujuannya agar kita didengar, maka siap-siaplah untuk berhenti dalam berda’wah, siap-siaplah untuk kecewa, siap-siaplah untuk meyakini bahwa amal dan da’wah kita sia-sia.

  • Sesungguhnya Syari’at islam membolehkan kita menangis saat tertimpa musibah.

Menangisi orang yang meninggal dunia adalah salah satu bentuk kasih sayang atau menangis karena tertimpa musibah adalah hal yang manusiawi, akan tetapi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melarang kita menangis dengan disertai suara, atau sambil mengeluarkan kata-kata yang tidak diridhai Allah (ungkapan yang menandakan ketidakrelaan akan takdir Allah), atau amukan dan semacamnya.

Kesabaran yang akan mendapatkan pahala dari Allah adalah ketika kita mampu bersabar saat pertama kali musibah itu dirasakan, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

إنما الصبر عند الصدمة الأولى

“Sesungguhnya kesabaran itu adalah saat pertama kali musibah terjadi”.

Imam ath-Thayyibi menjelaskan, bila ketabahan dan keteguhan hati muncul saat pertama kali hati seseorang diserang oleh hal-hal yang menyusahkannya, itulah yang disebut ketabahan sempurna. Ketabahan itulah yang pasti mendapatkan pahala, adapun apabila gambaran musibah sudah mulai redup, sehingga jiwa seseorang mulai terhibur dan muncullah ketabahan hatinya, maka itu adalah ketabahan yang bersifat naluriah, tidak akan mendapatkan pahala lagi.[i]

Orang yang memiliki tingkat ketabahan seperti itu, tidak perlu terlalu banyak menela’ah masalah, sekedar untuk mengetahui substansi dan hakikatnya. Di samping itu, ketabahan juga sudah menjadi karakter yang mendarah daging dalam dirinya.

Seperti kata Ibnul Mubarak:

“Orang yang terlalu banyak meneliti, pasti sering merasa kehilangan, orang yang banyak bersiap siaga dengan ketabahan, pasti tidak akan pernah menyerah.”[ii]

Semoga kita termasuk orang yang senantiasa mampu bersabar dalam setiap musibah yang menimpa, sehingga bisa meraih pahala besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

**********

Catatan pribadi dari kajian rutin kitab Riyaadhu as-Shaalihin yang disampaikan oleh Ust. Ade Hermansyah,Lc, M.Pd.I & kajian Ust. Maududi Abdullah,Lc yang pernah disiarkan di Radio Rodja. (sayang tidak tersimak seutuhnya dan di Radio rodja belum tersedia rekaman ceramahnya yang bisa didownload)

Artikel:  https://asya84.wordpress.com/


[i] Lihat Tuhfatul Ahwadzi Iv:54

[ii] Lihat Az-Zuhd oleh Ibnul Mubarak 1:4

Posted on 19 Februari 2011, in Hadits, Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. baarakallaahu fiiki ya zaujatiy,
    suamimu mendukungmu untuk memposting catatan-catatan ilmu yang didapatkan dari pengajian2 biar ilmuNya semakin tersebar luas, sebagaimana kata Nabi kita:
    لِيُبَلِّغ الشَّاهِدُ مِنْكُمْ الْغَائِبَ
    “Hendaklah yang hadir dari kalian menyampaikan (ilmu) kepada yang tidak hadir.” (hr. Bukhariy)
    Udah dulu ya, mau ngelanjutin kerjaan, masih di kantor nih,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: