Monthly Archives: Januari 2011

Tidak Layak Seorang Wanita Memperdengarkan Bacaan al-Qur’an Disertai Tajwid di Hadapan Laki-Laki Non Mahram

Oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani Rahimahullah

Sesungguhnya apabila seorang pengajar al-Qur’an (laki-laki) mengajari seorang wanita melalui telepon, kemudian wanita itu membaca Qur’an dan memperdengarkan suaranya kepada pengajar (laki-laki) tadi, maka hukumnya sama dengan mendengarkannya di balik tabir di mana sang guru tidak melihat fisik wanita tersebut. Kedua cara ini sama-sama menimbulkan fitnah, baik dia mendengar suara wanita itu lewat udara yang tanpa kabel, ataupun melalui kabel (telepon), sebab yang jadi masalah adalah suara wanita itu sendiri. Read the rest of this entry

Nasi Kebuli Kambing Pakai Rice Cooker

Setiap kali ada stock daging kambing di dalam kulkas, aku selalu teringat untuk membuat nasi kebuli, seperti pada waktu ‘idul adha tempo lalu, daging kambing yang menjadi bagian keluargaku, aku masak semuanya dalam dua resep berbeda yaitu; nasi kebuli dan tongseng, akan tetapi kali ini aku akan berbagi resep nasi kebuli aja.

Sebenarnya bikin nasi kebuli itu gampang banget, soalnya aku masaknya menggunakan rice cooker, memang aslinya harus dibikin nasi aron dulu, kemudian dikukus, tapi kalau punya dua balita laki-laki  yang lagi aktif-aktifnya begini, pengennya masak yang super cepat, soal rasa, zauji sih bilangnya mantappp…! apalagi kalau ditambah acar nanas, hmm…segerr…! Makanya tak heran kalau aku bikin nasi kebuli, ia bisa berkali-kali nambah, lahap banget, ”wah..bisa-bisa aku jadi gemuk nih kalau dimasakin nasi kebuli kayak gini…!” candanya…

Read the rest of this entry

Bolehkah Wanita Belajar Tajwid kepada Guru Laki-Laki?

Pertanyaan:

Bolehkah seorang wanita belajar ilmu tajwid dan hukum-hukum bacaan al-qur’an secara lisan serta memperdengarkan bacaannya kepada seorang guru (laki-laki) yang mutqin (kokoh hafalan dan keilmuannya) dengan tetap memakai  hijab (penghalang) dan tidak berkhalwat (berdua-dua an, pent-). Jika hal ini terlarang maka apa nasihat Anda terhadap para guru yang mengajarkan (tajwid) kepada para wanita, yang mana aktifitas itu tidak aman dari fitnah? Read the rest of this entry

10 Kerusakan Perayaan Tahun Baru yang Harus Anda Ketahui

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat ini bisa menjawabnya. 

Sejarah Tahun Baru Masehi

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.[Sumber bacaan: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru%5D

Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.

Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru. Read the rest of this entry