MENGISI DETIK YANG HAMPA DENGAN 9 FAEDAH SEPUTAR LUPA

1. Setan Buang Angin …! Lalu Membuat Lupa Orang Shalat

    Setan tidak  membiarkan seorang muslim melakukan shalat dengan khusyu’ dan penuh konsentrasi. Ia selalu berusaha membuat setiap orang lupa shalat dengan cara mengingatkannya dengan urusan yang sebelumnya terlupakan. Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu

    إِذَا أُذِّنَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ أَقْبَلَ فَإِذَا ثُوِّبَ أَدْبَرَ فَإِذَا سَكَتَ أَقْبَلَ فَلَا يَزَالُ بِالْمَرْءِ يَقُولُ لَهُ اذْكُرْ مَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى لَا يَدْرِيَ كَمْ صَلَّى

    Apabila dikumandangkan adzan shalat, maka syetan pergi sambil mengeluarkan kentut sehingga dia tidak mendengar adzan tersebut. Apabila muadzdzin selesai dari adzannya, maka  ia datang. Apabila dikumandangkan iqamah, maka ia pergi. Apabila orang yang beriqamah diam, maka syetan datang lagi, ia terus-menerus mengatakan kepada seseorang: “Ingatlah!” terhadap sesuatu yang sebelumnya tidak diingatnya, sampai dia tidak tahu berapa rakaat telah melakukan shalat?. (HR.al-Bukhari, no. 1222, dan Muslim, no. 389)

    2. Siasat Abu Hanifah Untuk mencari harta yang terlupakan

      Dari Hasan bin Ziyad, ia berkata: “ada seorang lelaki yang memendam hartanya dalam tanah di suatu tempat, kemudian ia lupa di tempat manakah ia telah memendamnya. Lalu ia mencarinya, akan tetapi  ia tidak mendapatkannya. Lalu ia datang menghadap Abu Hanifah rahimahullah dan mengadukan permasalahannya.

      Kemudian Abu Hanifah berkata: “Ini bukan masalah fiqih, maka aku akan berkilah (bersiasat) untukmu. Pergi dan kerjakanlah shalat malam ini sampai besok, karena sesungguhnya engkau akan mengingat tempat menyimpan hartamu!.”

      Selanjutnya orang itu pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Abu Hanifah. Maka belumlah ia melakukan shalat selama seperempat malam, melainkan ia telah mengingat tempat memendam hartanya. Setelah itu ia datang menghadap Abu Hanifah dan mengabarkannya apa yang telah ia lakukan, lalu beliau mengatakan: “ Sungguh aku tahu bahwa syetan itu tidak membiarkanmu melakukan shalat pada malam itu sampai ia mengingatkanmu.” (‘Uqud al-Juman Fi Manaqib al-Imam al-A’zham Abi Hanifah an-Nu’man, Muhammad bin Yusuf ad-Dimasyqi (wafat 942), hlm. 268)

      3. Lupa… Bencana Bagi Yang Kikir Ilmu

        Salah satu musibah yang akan menimpa orang yang tidak menyampaikan ilmunya kepada orang lain adalah lupa akan ilmunya tersebut.

        Ibnul Mubarak rahimahullah berkata: Barang siapa yang kikir dengan ilmunya, maka ia akan tertimpa tiga musibah: mungkin dia akan mati sehingga lenyaplah ilmunya, atau lupa, atau ia akan mengekor kepada penguasa. (al-Madkhal Ila as-Sunan al-Kubra, karya al-Baihaqi, no. 586, hlm. 351 dan Hilyah al-Auliya’, karya Abu Nu’aim, jilid 8, hlm. 165 dengan lapal yang sedikit berbeda).

        4. Lupa Yang Berbuah Berkah

          Lailatul qadar adalah malam yang mulia daripada seribu bulan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dahulu pernah diberi tahu oleh Allah tentang waktu jatuhnya lailatul qadar secara tepat. Akan tetapi, kemudian Allah membuat beliau lupa, sebagaimana sabda beliau berikut:

          إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا أَوْ نُسِّيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي الْوَتْر …

          Sesungguhnya aku pernah diperlihatkan lailatul qadar, kemudian aku dibuat lupa atau melupakannya, maka carilah pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir. (HR. al-Bukhari, no. 2016)

          salah satu hikmah dari lupanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ini adalah, agar kaum muslimin selalu mencarinya dengan giat beribadah. Sekiranya sudah diketahui kapan terjadinya secara tepat, tentu banyak orang yang hanya mau beribadah dengan sungguh-sungguh pada malam itu saja, sehingga akan kehilangan banyak keutamaan yang ada pada malam selainnya. (Fath al-Bari, jilid 4, hlm. 328)

          5.Lupa Hafalan al-Qur’an karena Sibuk Bekerja

            Al-Lajnah ad-Da’imah pernah ditanya tentang masalah ini dengan teks pertanyaan sebagai berikut: “Ada orang yang telah hafal al-Qur’an sebanyak lima juz, kemudian karena menumpuknya pekerjaan, dia tidak sempat muraja’ah dalam waktu yang sangat lama, sehingga dia lupa hafalannya. Bagaimana hukumnya? Apakah dia berdosa disebabkan oleh hal tersebut? Apakah ada hadits yang mengancam orang-orang yang sepertinya?”

            Al-Lajnah menjawab: “Sudah sepantasnya orang itu dinasehati dan diberi semangat, barangkali dia mau kembali kepada al-Qur’an, mempelajari al-Qur’an seluruhnya, membacanya, bertadabbur dan mengamalkannya. Orang tersebut sudah sepantasnya juga diperingatkan akan akibat buruk dari kesibukannya dengan dunianya sampai (memalingkan dari perkara-perkara agamanya.

            Sedangkan hadits yang di dalamnya terdapat ancaman bagi orang yang menghafal al-Qur’an, kemudian ia melupakannya, itu adalah hadits ayng lemah.” (Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah, jilid 4, hlm. 98, no. 5168, fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Abdulah bin Baz, Abdullah bin Ghudyan dan Abdullah bin Qu’ud)

            6. Berjalan jauh Karena Lupa Mengembalikan Pena

              Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah pernah meminjam sebuah pena kepada seseorang pada waktu ia berada di negeri syam. Lalu beliau lupa untuk mengembalikannya, sehingga beliau melakukan safar dengan membawanya. Ketika telah sampai di Antokia, beliau teringat bahwa dirinya belum mengembalikan pena tersebut kepada pemiliknya. Kemudian beliau pun kembali dengan berjalan kaki menuju syam untuk mengembalikan pena itu kepada pemiliknya. (Asna al-Mathalib Fi Shilah al-Arham wa al-Aqarib, Ibnu Hajar al-Haitsami, hlm. 279)

              7. Aku Tidak Tahu Hadits Tentang Lupa Hafalan al-Qur’an Ini

                Ada seorang yang bertanya kepada Syaikh Fauzan: “Dalam sebuah hadits terdapat sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam

                عُرِضَتْ عَلَيَّ ذُنُوْبُ أُمَتِيْ, فَلَمْ أَرَ أَعْظَمَ مِنْ رَجُلٍ حَفِظَ آيَةً ثُمَّ نَسِيَهَا

                Telah diperlihatkan kepadaku dosa-dosa ummatku, maka aku tidak melihat ada dosa yang lebih besar daripada seseorang yang telah hafal satu ayat, kemudian ia melupakannya.”

                Atau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Apakah makna hadits tersebut?”

                Syaikh menjawab: “ Aku tidak mengetahui hadits ini dan belum menelaahnya. Hanya saja lupa itu ada dua macam:

                • Pertama, apabila disebabkan hilang kesadaran atau karena sakit yang menimpa seseorang, maka ini tidak berdosa.
                • Kedua, apabila disebabkan oleh berpaling dari membaca kitabullah, maka (orang yang melakukannya) mendapatkan dosa, karena ia melupakannya disebabkan oleh sikap tidak perhatiannya. “ (al-Muntaqa min Fatawa Syaikh Fauzan, jilid 2, hlm. 42)

                8. Hukum Berbicara Dalam Shalat Karena Lupa

                Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah pernah ditanya sebagai berikut: “Apabila seseorang berbicara pada saat shalat karena lupa, apakah shalatnya menjadi batal?”

                Dijawab oleh beliau: “Apabila seorang muslim berbicara pada saat shalat karena lupa atau jahil (tidak tahu hukumnya), maka shalatnya tidak batal, baik itu shalat wajib atau shalat sunnah. Hal itu berdasarkan firman Allah:

                رَبَنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا

                (Mereka berdoa) Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. (QS. Al-Baqarah: 286).” (Ftawa Muhimmah Tata’allaqu bi ash-Shalah, hlm. 106-107, no.76)

                9. Bersedekah Tiga Puluh Ribu Dirham Karena Lupa

                  Dari Ali bin Hafsh al-Bazzaz ia berkata: Dahulu Hafsh bin Abdurrahman adalah rekan kerja Abu Hanifah. Abu hanifah yang mempersiapkan barang lalu mengirimkannya kepada Hafsh dan memberitahunya bahwa “ Dalam baju ini dan itu terdapat aib, apabila engkau menjualnya maka kabarkan kepada pembeli akan adanya aib itu.”

                  Lalu Hafsh menjual baju itu dan lupa memberitahu pembeli aib yang ada dalam pakaian itu, dan pembelinya juga tidak mengetahui adanya aib dalam barang yang ia beli. Selain itu ia juga tidak tahu kepada siapa ia telah menjual pakaian yang ada aibnya itu. Setelah mengetahui hal itu semua, maka Abu Hanifah bersedekah dengan uang hasil dagangannya itu semuanya, jumlah totalnya yaitu 30.000 dirham. Dan beliau memutuskan hubungan dengan Hafsh tersebut.” (‘Uqud al-Juman, Muhammad bin Yusuf ad-Dimasyqi, hlm. 240-241)

                  Disadur  dari Majalah adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, vol. 7 no. 7 Edisi 49-1430 H

                  Posted on 4 April 2010, in Fawa'id and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

                  Tinggalkan Balasan

                  Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

                  Logo WordPress.com

                  You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

                  Gambar Twitter

                  You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

                  Foto Facebook

                  You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

                  Foto Google+

                  You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

                  Connecting to %s

                  %d blogger menyukai ini: