TITIP SALAM SUNNAHKAH?!

as-salam-alaikum

Budaya Titip Salam

Budaya titip salam di Indonesia sudah sangat mendarah daging. Sering kita mendengar seseorang titip salam untuk temannya yang ada di negeri seberang, seorang sahabat titip salam untuk sahabatnya yang ada di luar kota, satu kelurga di kota titip salam untuk kerabatnya di desa, dst.

Budaya titip salam ini pun tidak hanya popular di kalangan remaja atau orang tua, bahkan tak jarang kita dapati bocah-bocah ikut meramaikannya. Hanya saja yang sangat disayangkan, banyak kalangan muda-mudi mengotori budaya mulia ini dengan titip salam kepada lawan jenis yang belum halal baginya, baik berupa salam cinta atau salam perkenalan yang dapat berbuntut kepada hubungan yang diharamkan.

Titip Salam, Sunnahkah?!

Apabila kita menengok jauh ke zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ternyata budaya titip salam sudah ada pada masa beliau. Dan ternyata budaya ini adalah salah satu sunnah Rasulullah shalallahu ‘alihi wassalam, salah satu budaya islam yang mulia, yang secara turun-temurun ramai diterapkan oleh kaum muslimin. Dan –alhamdulilllah– ini merupakan salah satu sunnah Nabi shalallahu’alaihi wassalam yang tumbuh subur di tengah-tengah kaum muslimin dunia.

Teks Hadits

Ada beberapa hadits yang menerangkan kepada kita tentang budaya titip salam seperti ini. Berikut ini kami sebutkan dua di antaranya:

Hadits Pertama,

عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا عائشة, هذا جبريل يقرأ عليك السلام قالت: قلت: وعليه السلام ورحمة الله, ترى مالا نرى.

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha ia berkata: Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata: “Wahai ‘Aisyah, ini ada jibril, dia titip salam untukmu.” ‘Aisyah berkata: “Aku jawab, wa’alaihissalam wa rahmatullah (semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah untuknya), engkau dapat melihat apa yang tidak kami lihat.” (HR. al-Bukhari, no. 2217, Muslim, no 2447)

Hadits Kedua,

عن غالب قال: إنا لجلوس بباب الحسن البصري إذ جاء رجل فقال: حدثني أبي عن جدي قال: بعثني أبي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: ائته فأقرئه السلام. قال: فأتيته فقلت: أبي يقرئك السلام. فقال: عليك وعلى أبيك السلام.

Dari Ghalib rahimahullah ia berkata: sesungguhnya kami pernah duduk-duduk didepan pintu (rumah) al-Hasan al-Bashri rahimahullah tiba-tiba seseorang datang (kepada kami) dan bercerita: ayahku bercerita dari kakekku, ia (kakekku) berkata: ayahku pernah mengutusku untuk menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam lalu ia berkata: Datangilah beliau dan sampaikan salamku kepadanya. Ia (kakekku) berkata: Maka aku menemui beliau dan berkata: Ayahku titip salam untukmu. Maka beliau menjawab: “wa ‘alaika wa ‘ala abikassalam (semoga keselamatan tercurah kepadamu dan kepada ayahmu).” (Hadits hasan. Lihat: Misykat al-Mashabih, no. 4655, Shahih Abi Dawud, no. 5231)

Tata Cara Menjawab Titip Salam

Apabila ada teman, saudara, kerabat, keluarga atau siapa saja yang titip salam melalui seseorang kepada kita, maka kita wajib menjawabnya. Allah ta’ala berfirman:

وإذا حييتم بتحية فحيوا بأحسن منها أو ردوها

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang semisalnya). (QS. An-Nisa: 86)

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata: penghormatan di sini adalah ucapan salam, dan makan inilah yang di maksudkan pada ayat ini. “(Tafsir Fath al-Qadir, surat an-Nisa ayat 86)

Imam al-Qurthubi rahimahullah bertutur: “Ulama sepakat bahwa memulai salam hukumnya sunnah yang sangat dianjurkan, sedangkan menjawab salam hukumnya wajib. “(Tafsir Ftah al-Qadir, surat an-Nisa ayat 86)

Dari ayat di atas dapat kita ketahui dua cara menjawab salam:

Pertama, sesuai dengan ucapan salam.

Kedua, menambah dengan beberapa kata yang disyari’atkan.

Sebagai contoh: bila seseorang mengucap, “asslamu’alaikum”, maka minimal kita menjawabnya dengan “wa’alaikum as-salam”, dan yang lebih baik ditambah kata “warahmatullah”, dan yang lebih baik lagi ditambah dengan kata “wabarokatuh.”

Hanya saja, sunnah titip salam tidak sama dengan mengucapkan salam secara langsung, yang mana pada saat kita titip salam hanya berkata, “titip salam untuk fulan” atau sampaikan salam buat fulanah”, maka untuk menjawabnya kita pergunakan kata paling minimal, yaitu “wa ‘alahissalam (ikhwan) / wa ‘alaihassalam (akhwat), dan semakin ditambah maka semakin baik.”[1] Ini poin pertama.

Poin kedua, lalu bagaimana dengan orang yang menyampaikan salam tersebut, apakah kita mesti mendoakannya juga. Akan tetapi, ulama menjelaskan bahwa mendoakan orang yang menyampaikan salam tersebut hukumnya adalah sunnah (dianjurkan).

Ibnu Hajar al-Asqolani rahimahullah berkata: “Dan dianjurkan untuk mendoakan orang yang menyampaikan salam.” (Fath al-Bari, jilid 1, hlm.41)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dan di antara tuntunan seseorang menyampaikan salam dari orang lain untuk beliau, maka beliau menjawab salam tersebut kepadanya dan kepada orang yang menyampaikannya. “(Zad al-Ma’ad, jilid 2, hlm. 427)

Hal ini dapat kita ketahui dari jawaban ‘Aisyah radhiyallahu ’anha yang hanya menjawab salam untuk jibril ‘alaihissalam saja dan tidak ikut mendoakan beliau, dan beliaupun tidak mengingkarinya. Andai saja hukumnya wajib, tentu saja Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sudah meluruskan ucapan ‘Aisyah.

Berkenaan dengan tambahan doa untuk orang yang menyampaikan salam tersebut, maka telah ditunjukkan oleh hadits kedua di atas.

Petikan Faedah

  • Dari uraian ringkas di atas dapat kita sarikan bahwa:
  • Budaya titip salam merupakan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.
  • Budaya titip salam tumbuh subur di tengah-tengah kaum muslimin, walhamdulillah.
  • Memulai salam hukumnya sunnah, sedangkan menjawab salam hukumnya wajib.
  • Kewajiban menjawab salam sesuai dengan ucapan salam, jika ditambahi dengan beberapa kata yang disyari’atkan, maka itu lebih baik lagi.
  • dianjurkan ikut mendoakan orang yang menyampaikan salam.

Renungan

Telah kita terangkan di atas dan dapat kita saksikan bersama, bahwa fenomena budaya titip salam sangat menjamur sekali di Indonesia –insyaAllah juga di seluruh dunia-. Lantas, bagaimana jika kaum muslimin di seluruh penjuru dunia begitu semangat dalam menghidupkan sunnah-sunnah Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam yang lain, sebagaimana mereka menghidupkan sunnah yang satu ini, pemandangan seperti apa sekiranya yang akan kita saksikan?! Kita hanya bisa berdoa, “semoga Allah mewujudkannya.”

Sumber referensi: Majalah adz-Dzakhirah al-Islamiyyah vol. 7 no. 7 Edisi 49-1430 H. hlm. 41


Footnote

 

[1] . Dalam riwayat lain, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab salam jibril ’alaihis salam –pada hadits pertama- dengan ucapan ,“wa ‘alaihissalam wa rahmatullah wa barakatuh.” (Shahih al-Adab al-Mufrad, karya al-Albani, no.  634/827)

Posted on 31 Maret 2010, in Hadits and tagged , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: