Hanya Wanita Yang Bisa Mengerti Perasaan Wanita

oleh: Aisyah Ummu Haitsam

Saudariku ….

sungguh saat ini kita tengah diserang melalui dua jalan; jalan syubhat dan jalan syahwat. Syubhat (kesamaran antara kebenaran dan kebatilan) bencana yang diakibatkannya jauh lebih besar dan berbahaya, tetapi ia bergerak secara perlahan. Dan syahwat merupakan penyakit yang gampang menyebar dan cepat menular.

Saudariku …..

Saat ini berbagai kerusakan tengah merajalela, busana terbuka semakin digemari, muda-mudi berpasangan tidak halal berduyun-duyun memadati tempat hiburan.

Saudariku …. Sini.. akan aku bisikan sesuatu padamu…..

Lelaki hanya menginginkan sesuatu yang paling berharga pada dirimu, yaitu kehormatanmu

Sedangkan kehormatan wanita itu letaknya di balik jilbab dan hijab

Jika keduanya telah tersingkap darimu, maka apatah lagi yang berharga darimu…..

Maka…

Janganlah engkau terbuai dan tertipu dengan rayuan dan pujiannya yang melambung.

Saudariku …..

Aku menulis ini karena aku wanita…

Dan hanya wanitalah yang bisa mengerti perasaan wanita..

Saudariku …..

Jangan serahkan dirimu sebagai korban iblis,

jangan dengarkan bujuk rayu mereka dengan dalih pergaulan untuk kebebasan dan modernisasi,

sungguh mereka tidak peduli dengan engkau, selain sebagai pemuas kenikmatan sementara

jika kecantikanmu telah memudar, maka saksikanlah… tiada seorangpun dari mereka yang kan peduli lagi padamu..

mereka pasti kan memangsa lagi ‘bunga-bunga’ muda, cantik, dan segar yang lengah dari menjaga ‘iffah (kesucian diri) nya untuk dijadikan santapan.

Maka…

Siapakah yang akan mencintai wajah keriputmu kelak…

Saudariku ….

Janganlah engkau merasa bangga apabila menjadi pusat perhatian

Janganlah engkau menjadi seorang yang lebih dulu membuka pintu kemaksiatan.

Dengan penampilanmu yang serba terbuka itu

Seakan-akan engkau menantang laki-laki tuk melakukan perbuatan keji..

Malumu adalah mahkotamu…,

bukan pada rambut hitam panjang berkilau dan tergerai yang dipamerkan ke khalayak orang

Bukan pula terdapat di mulusnya kulit yang kau pertontonkan

Sadarlah bahwa di tanganmulah kunci pintu perbaikan itu…..

Maka… saudariku….

Janganlah kau jual murah kecantikanmu hanya untuk mendapatkan kesenangan dan pujian sesaat

Janganlah kau pertontonkan auratmu demi mengundang perhatian lawan jenismu

Sungguh….

Diamnya dirimu di dalam rumah adalah lebih baik bagimu demi kehormatanmu[1]

Jilbab dan malumu adalah mahkota kecantikanmu

Jangan biarkan setiap laki-laki memandang liar kecantikanmu

Persembahkanlah kecantikanmu hanya bagi orang yang halal bagimu…

Tidakkah kau tahu tentang perumpamaan barang murahan dan barang berharga…

Jika barang murahan.. maka siapapun orangnya bebas memandang, bebas menyentuh.., bebas mengobrak-abrik.., sama sekali tiada penjagaan..itulah barang obralan…

Lain halnya dengan barang berharga, maka hanya orang-orang  yang memiliki hak lah yang bisa menyentuh dan memandangnya..,

Dialah barang yang dikemas elegan, tertutup, dan cantik.., tidak sembarang orang boleh menjamahnya…

Seperti itulah perumpamaan antara wanita murahan dengan wanita yang berharga

Maka…

Jadilah engkau wanita yang berharga, sebagaimana  Allah ‘Azza wa Jalla telah memuliakanmu

Dengan memilihkanmu jilbab dan hijab sebagai pakaian kehormatanmu

Jadilah engkau wanita yang berharga, sebagaimana Allah ‘Azza wa jalla telah menyematkan rasa malu pada dirimu sebagai akhlak yang paling agung bagi dirimu…. [2]

Maka ….

Jika rasa malu telah tercerabut dari dirimu…..

Saksikanlah…

Kau tak kan lagi sungkan-sungkan menyingkapkan tirai penutup kehormatanmu

Padahal Allah ‘Azza wa Jalla mencintai ketertutupan [3]

Itulah mengapa Dia menyuruh kita berhijab agar aib kita tak terlihat

Malu adalah tolak ukur keimanan seseorang [4]

Malu adalah perisai dari perbuatan tercela [5]

Dengan itu wahai saudariku…

Jadikanlah malu sebagai akhlakmu.., akhlak seorang muslimah…

***********

Artikel: https://asya84.wordpress.com/

Renungan di atas ditulis ketika hati ini merasa miris menyaksikan fenomena maraknya kaum wanita yang tidak segan-segan menanggalkan rasa malunya.


Endnote

[1]وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى ……(الأحزاب : 33)

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu (Al-Ahzab:33)

[2] “Sesungguhnya setiap agama itu berakhlaq, Sedangkan akhlaq agama islam adalah malu.” Hadits Hasan riwayat Ibnu Majah (4181), al-Khara-ithi dalam Makaarimul Akhlaaq (49), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamush Shaghiir (I/13-14) hadits dari Anas.

[3] “Sesungguhnya Allah adalah Maha Pemalu dan Maha Menutupi. Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan.” Hadits Shahih riwayat Abu Dawud (4012), an-Nasa-I (I/200), Ahmad (IV/224) dari Ya’la bin Umayyah radhiallahu’anhu.

[4] “Malu itu bagian dari iman. Dan iman tempatnya di surga, sedangkan ucapan keji termasuk bagian dari tabiat kasar, tabiat kasar itu tempatnya di neraka.” Hadits Shahih riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Hibban 1929, al-Hakim I/52, Ahmad II/501 dari banyak jalan.

[5] “Malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan” HR. Bukhari (Fathul Baari I/74)

Posted on 20 Maret 2010, in Coretan Penaku, Renungan and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. assalamu’alaikum.. ijin copas ya ukh..
    jazaakillahu khair

    • Ummu Haitsam Buldan

      Wa’alaikumussalam warahmatullah.. tafadhdholi di copas ukhty..semoga bermanfaat. wa jazaakillahu mitslahu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: