Gejala-Gejala Lemah Iman

Oleh: Syaikh Muhammad Sholeh al-Munajjid  رحمه الله

Sesungguhnya, keimanan merupakan asas yang sangat penting dalam kesempurnaan pengabdian kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla, akan tetapi adakalanya keimanan itu berkurang dengan aneka kemaksiatan yang kita lakukan, seyogyanya sebagai seorang mukmin kita mesti senantiasa memeriksa keadaan hati kita, dan mengenali penyakit yang bisa memperlemah iman kita, berikut ini merupakan gejala-gejala lemah iman yang saya kutip dari kutaib Zhahiratu dho’fil al-Iman versi terjemahannya, pembahasannya dipaparkan secara lugas oleh Syaikh Muhammad Sholeh al-Munajjid, marilah kita merenunginya dan memulai langkah untuk mengobatinya, sebelum hati kita buta, terkunci dan mati.

Pertama: Terjerumus ke dalam Aneka Kedurhakaan

Di antara orang-orang yang durhaka itu, ada yang melakukan satu kedurhakaan dan berketetapan hati untuk terus melakukannya, dan ada juga yang melakukan berbagai jenis kedurhakaan dan kerap terjerumus kepada kemaksiatan-kemaksiatan itu, lantas beralih menjadi kebiasaan yang benar-benar melekat, dan secara bertahap keburukan di hatinya terus meningkat, sampai-sampai mereka berani dan bangga menyatakan kedurhakaannya secara terbuka. Masuklah mereka ke dalam golongan orang-orang yang disinyalir di dalam hadits Nabi:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Semua umatku ditutupi keburukannya kecuali orang-orang yang bangga menyatakan kemaksiatannya secara terbuka; Sesungguhnya, termasuk perbuatan yang demikian, adalah apabila seseorang melakukan suatu keburukan di malam hari, lalu ia masuk waktu pagi dalam keadaan Allah tutupi keburukannya. Lantas ia berkata (kepada orang-orang), ‘Hai fulan, aku telah melakukan begini dan begitu tadi malam.’ Padahal, di malam hari Allah terus menutupi keburukannya; namun di pagi harinya ia sendiri menyingkap tutupan Allah itu dari dirinya.”[1]

Kedua: Hati yang Keras dan Kasar

Di antara gejalanya juga, ketika seseorang merasakan kerasnya hati, hingga ia mendapati hatinya benar-benar telah berubah menjadi batu yang keras; di mana tidak ada sesuatu apapun yang merembes darinya, juga tidak dapat terpengaruh oleh apapun. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Qs. Al-Baqarah: 74)

Orang yang mempunyai hati yang keras, tidak akan terpengaruh dengan nasihat kematian, tidak pula dengan melihat mayit dan jenazah-jenazah; meskipun boleh jadi ia sendiri yang mengangkat jenazah itu dan menguburkannya ke dalam tanah, akan tetapi perjalanannya di antara pekuburan-pekuburan tiada beda dengan perjalanannya di antara bebatuan bebatuan.

Ketiga: Tidak Sempurnanya Pelaksanaan Ibadah-Ibadah

Di antara gejala lemah iman juga, ketika tiada sempurnanya pelaksanaan ibadah-ibadah; dan di antara cirinya, adalah terlepasnya kesadaran diri ketika melaksanakan shalat, tilawah al-Quran, membaca do’a-do’a, dan ibadah-ibadah yang lainnya, juga tidak adanya penghayatan dan perenungan jiwa terhadap makna dzikir-dzikir yang dibacanya, sehingga ia hanya melakukannya sebagai rutinitas yang menjemukan belaka. Seandainya ia membiasakan diri berdo’a dengan do’a tertentu di suatu waktu yang diajarkan oleh sunnah, sungguh ia tidak bisa merenungkan kandungan-kandungan do’a tersebut, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala “…tidak akan menerima do’a yang lahir dari hati yang lalai lagi tidak menjiwai.”[2]

Keempat: Bermalas-malasan dalam Beribadah kepada Allah

Di antara gejala-gejala lemah iman juga adalah bemalas-malasan dalam melakukan ketaatan dan beribadah kepada Allah. Kalaupun ia melakukannya, maka ibadahnya itu hanyalah gerakan-gerakan nanar yang tidak berisi, padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah menyifati orang-orang munafik dengan firman-Nya:

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى

“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas.” (Qs. An-Nisa’: 142)

Masuk pula ke dalam gejala yang keempat ini, apabila seseorang tidak punya rasa sesal ketika luput dari peluang-peluang kebaikan dan waktu-waktu beribadah. Hal ini menunjukkan seseorang itu tidak punya keinginan untuk meraup pahala. Maka terkadang ia mengabaikan ibadah haji padahal dirinya telah mampu; ia mengabaikan peperangan (jihad) dengan hanya duduk-duduk santai, dan ia tertinggal dari shalat berjama’ah yang lima waktu, lalu tertinggal pula dari shalat Jum’at. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ عَنْ الصَّفِّ الْأَوَّلِ حَتَّى يُخَلِّفَهُمْ اللَّهُ فِي النَّارِ

“Suatu kaum terus-menerus terlambat dari shaf pertama, hingga Allah akan mencampakkan mereka ke dalam neraka.”[3]

Kelima: Dada Yang Sesak

Di antara gejalanya juga, seseorang merasakan sesaknya dada, berubahnya pembawaan diri, dan terhentinya produktifitas, hingga seolah-olah ada beban berat yang menghimpit tubuhnya; maka jadilah ia mudah gelisah dan menggerutu oleh masalah terkecil sekalipun, dan ia akan merasa terganggu dengan segala tindakan orang-orang di sekelilingnya, hingga hilanglah keramahan dirinya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati keimanan dengan sabdanya: “Iman itu kesabaran dan keramahan.”[4] Beliau pun menyifati seorang Mukmin bahwasannya, “Mereka itu ramah dan diramahi; tidak ada kebaikan pada orang yang tidak ramah dan tidak diramahi.”[5]

Keenam: Tidak Terpengaruh oleh Ayat-Ayat Al-Quran

Di antara gejala-gejala lemah iman juga, bahwa seseorang tidak terpengaruh dengan ayat-ayat Quran; tidak terpengaruh oleh janji-janjinya dan tidak pula oleh ancaman-ancamannya, tidak oleh perintah-perintahnya dan tidak pula oleh larangan-larangannya. Demikian pula tidak terpengaruh oleh penyebutan Al-Quran tentang sifat-sifat hari kiamat. Orang yang lemah iman akan merasa jemu mendengarkan ayat-ayat Al-Quran, dan dirinya tidak mampu bertahan lama dalam membacanya; Setiapkali ia membuka mushaf, ia selalu ingin menutupnya kembali.

Ketujuh: Lalai dari Dzikrullah

Di antara  gejalanya juga, lalai dari berdzikir kepada Allah dan berdo’a kepada-Nya. Dzikir itu benar-benar terasa berat olehnya. Apabila ia mengangkat tangannya untuk berdo’a, secepatnya ia kuncupkan kembali kedua tangannya lantas beranjak. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyifati orang-orang munafik dengan firman-Nya:

وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا(142(

“Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Qs. An-Nisa: 142)

Kedelapan: Tidak Marah Ketika Batasan-Batasan Allah Dilanggar

Di antara gejalanya juga, apabila seseorang tidak bangkit kemarahannya ketika batasan-batasan Allah ‘Azza wa Jalla dilanggar orang, Hal ini terjadi karena gejolak cemburu di hatinya sungguh telah padam, sehingga setiap anggota tubuhnya lumpuh dari upaya perlawanan; maka ia tidak berusaha menyuruh pelaku pelanggaran untuk berbuat kebaikan, dan tidak mencegahnya dari berbuat kemungkaran. Wajahnya tak menampakkan kerutan kemarahan sedikit pun demi membela Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyifati hati yang dilanda kelemahan semacam ini dengan sabdanya dalam sebuah hadits shahih:

“Akan dibentangkan aneka godaan terhadap hati-hati manusia, bagaikan (penganyaman) tikar yang dilakukan secara berangkai; Maka hati manapun yang larut ke dalam godaan itu, niscaya akan tertoreh padanya satu titik hitam.”

Di bagian akhir hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan, hingga warna hatinya mencapai, aswadu murbaaddan (hitam kecoklatan) dan seperti cangkir yang terbalik; di mana ia tidak bisa mengenal (menampung) kebaikan, juga tidak mampu menentang kemungkaran, kecuali apa yang sesuai dengan selera nafsunya.”[6]

Ya, rasa ridha terhadap kemaksiatan yang merupakan amalan hati itu dapat menyebabkannya sederajat dalam tingkatan dosanya dengan orang yang menyaksikan kemaksiatan itu secara langsung.

Kesembilan: Senang Menonjolkan Diri

Gejala yang kesembilan ini mempunyai beberapa bentuk, di antaranya:

  1. Berambisi terhadap kekuasaan dan kepemimpinan, tanpa mempertimbangkan tanggungjawab dan resiko yang harus dihadapinya. Keadaan seperti inilah yang diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتْ الْفَاطِمَةُ

“Sesungguhnya, kalian akan berambisi kepada kekuasaan, padahal kekuasaan itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat. Itulah senikmat-nikmatnya ibu yang menyusui, dan semalang-malangnya ibu yang menyapih.”[7]

Rasulullah menyebutkan kekuasaan itu sebagai “senikmat-nikmatnya ibu yang menyusui” karena bersama kekuasaan itu ada harta, kedudukan, dan kelezatan-kelezatan; dan beliau juga menyebutkan “semalang-malangnya ibu yang menyapih” karena bersama kekuasaan itu ada kebinasaan, keterasingan, dan tuntutan pertanggungjawabannya di hari kiamat.

Nabi ‘alaihi as-shalatu wa as-salam juga bersabda:

إِنْ شِئْتُمْ أَنْبَأْتُكُمْ عَنِ الإِمَارَةِ وَمَا هِيَ؟! أَوَّلُهَا مَلَامَةٌ وَثَانِيْهَا نَدَامَةٌ وَثَالِثُهَا عَذَابٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا مَنْ عَدَلَ

“Jika kalian mau, aku akan memberitahu kalian apa itu kekuasaan?! Awal kekuasaan itu adalah celaan, keduanya penyesalan, dan ketiganya siksaan di hari kiamat, kecuali bagi orang yang berlaku adil.”[8]

Seandainya, kepemimpinannya demi memenuhi tuntutan dan kewajiban untuk mengemban tanggungjawab itu di kala tidak ada orang lain yang lebih baik daripada dirinya, dengan segenap pengorbanan, nasihat, dan keadilan yang dicurahkannya seperti yang dilakukan oleh Yusuf ‘alaihissalam, maka patutlah kami katakan, “betapa baik dan mulianya pemimpin ini.” Akan tetapi, kekuasaan itu dalam banyak kondisi, hanyalah demi menuruti nafsu liar seraya menonjolkan diri sebagai orang yang paling utama, meremehkan hak-hak manusia dan untuk memonopoli wilayah perintah dan larangan.

  1. Suka menonjolkan diri dalam perkumpulan-perkumpulan manusia, dan senang memonopoli pembicaraan, seraya mengharuskan orang lain untuk mendengarkannya, juga menginginkan segala perkara ada dalam genggamannya. Padahal tempat terdepan dalam perkumpulan-perkumpulan itu adalah al-maharib (tempat terhormat) yang diperingatkan oleh Rasul agar diwaspadai, melalui sabdanya:

اتَّقُوا هَذَا الْمَذَابِحَ –يَعْنِيْ الْمَحَارِيْبَ.

“Waspadalah kalian terhadap tempat-tempat terhormat.”[9]

  1. Menginginkan orang-orang berdiri untuk menyambutnya ketika ia masuk ke tempat mereka, demi memuaskan arogansi di dalam hatinya yang sakit itu. Sedangkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَمْثُلَ لَهُ عِبَادُ اللَّهِ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ بَيْتًا مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa yang bergembira dengan berdirinya hamba-hamba Allah untuknya, maka bersiap-siaplah rumahnya di dalam neraka.”[10]

Karena itulah, ketika Mu’awiyah lewat di hadapan Ibnu ‘Amir dan Ibnu Zubair, lalu Ibnu ‘Amir berdiri dan Ibnu Zubair tetap duduk, maka berkatalah Mu’awiyah kepada Ibnu ‘Amir, “Duduklah engkau, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘“Barangsiapa yang senang dengan berdirinya orang-orang untuknya, maka bersiap-siaplah tempat tinggalnya di dalam neraka.”[11]

Termasuk kepada jenis ini, adalah ketika seseorang dilanda kemarahan jika tempat lewatnya tertutup, lantas ia pun mengucapkan sumpah serapah. Dan apabila ia masuk ke suatu majelis, maka dirinya tidak ridha kecuali salah seorang dari mereka berdiri agar ia bisa duduk di tempat itu. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kelakuan seperti ini melalui sabdanya:

لَا يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ

“Janganlah seseorang menyuruh berdiri kepada orang yang lain, dari tempat duduknya, kemudian ia duduk di tempat itu.”[12]

Kesepuluh: Pelit dan Kikir

Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji kaum Anshar di dalam kitab-Nya:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

“…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Qs. Al-Hasyr: 9)

Dia juga telah menjelaskan bahwasannya orang-orang yang berbahagia adalah mereka yang menjaga dirinya dari sifat pelit. Sedangkan lemah iman, tak diragukan lagi akan melahirkan sifat buruk ini, bahkan Nabi –‘alaihi as-shalatu wa as-salam- bersabda:

لَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

“Tidak akan terkumpul sifat pelit dan keimanan di dalam hati seorang hamba selama-lamanya.”[13]

Adapun bahaya dan efek sifat pelit terhadap jiwa, sungguh telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya:

إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالشُّحِّ أَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا

“Hati-hatilah kalian terhadap sifat pelit, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa hanyalah karena sifat pelit, mereka disuruh untuk kikir maka mereka pun kikir, mereka disuruh untuk memutuskan hubungan maka mereka pun memutukan hubungan, dan mereka disuruh untuk berbuat durhaka maka mereka pun berbuat durhaka.”[14]

Kesebelas: Berkata Tapi Tidak Berbuat

Di antara gejala lemah iman juga, seseorang mengatakan apa-apa yang tidak mereka kerjakan. Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ(2(كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ(3)

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (Qs. As-Shaf: 2-3)

Keadaan semacam ini, tak diragukan lagi, merupakan jenis kemunafikan. Dan orang yang ucapannya berseberangan dengan perbuatannya, jadilah dirinya tercela di sisi Allah dan tidak disenangi di sisi makhluk. Kelak, ahli neraka akan menemukan kebenaran apa yang diperintahkan kepada mereka semasa di dunia berupa kebaikan yang mereka tidak menyambutnya; dan apa yang dilarang kepada mereka berupa kemungkaran, sedang mereka tetap melakukannya.

Kedua belas: Merasa Senang dengan Kegagalan Saudaranya

Di antara gejala lemah iman juga, apabila seseorang merasa senang dan bergembira ria dengan kegagalan dan kerugian yang menimpa saudara-saudaranya sesama Muslim. Ia merasa puas karena kenikmatan pada mereka telah hilang, dan karena perkara yang membuat orang lain lebih unggul dari dirinya kini telah sirna.

Ketiga belas: Kurang Wara’ (kehati-hatian terhadap dosa)

Di antara gejala lemah iman juga, apabila seseorang menilai aneka perkara dari sisi dosa dan tidaknya saja, dan tidak berhati-hati terhadap perbuatan makruh (yang dibenci). Sebagian orang, ketika bermaksud melakukan suat amalan, ia tidak bertanya apakah ini amalan baik atau bukan, tapi dia hanya bertanya apakah amalan ini membawanya kepada dosa atau tidak? Apakah perbuatan ini haram atau makruh saja? Kepribadian seperti ini akan membawanya kepada jerat-jerat syubhat dan makruhat (perkara-perkara yang dibenci), yang pada gilirannya akan menjerumuskannya kepada perkara-perkara yang diharamkan. Orang seperti ini tidak mampu menahan diri dari melakukan perbuatan yang makruh atau syubhat, selama perbuatan itu dianggapnya tidak haram. Inilah jenis orang yang disinyalir oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

مَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ

“Barangsiapa yang terjatuh ke dalam perbuatan syubhat, maka ia terjatuh ke dalam perbuatan haram, seperti seorang pengembala yang mengembalakan ternaknya di sekitar tanah yang dilindungi, maka dikhawatirkan ternaknya masuk ke dalamnya.”[15]

Ya, engkau akan mendapati mereka terjerumus ke dalam perbuatan haram tanpa upaya pengekangan dan tanpa ragu-ragu; Ini lebih buruk dari pada orang yang terjatuh ke dalamnya setelah muncul kebimbangan dan keengganan di dalam jiwa. Meskipun kedua-duanya berada dalam bahaya, akan tetapi kondisi yang pertama lebih buruk dari pada yang kedua. Jenis manusia semacam ini akan menyepelekan berbagai dosa sebagai akibat kelemahan imannya, sementara dirinya tidak merasa telah berbuat mungkar. Karena itulah Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu menyebutkan sifat orang Mukmin dan orang munafik dengan ucapannya:

“إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا” (أَيْ دَفَعَهُ بِيَدِهِ)

“Sesungguhnya, seorang Mukmin itu melihat dosa-dosa bagaikan ia duduk di bawah sebuah gunung, dalam keadaan khawatir gunung itu terjatuh kepada dirinya; sedangkan seorang pendosa melihat dosa-dosa bagaikan seekor lalat yang lewat di depan hidungnya, maka cukuplah ia menghalaunya dengan tangannya.”[16]

Keempat belas: Menyepelekan Kebaikan

Di antara gejala lemah iman juga, adalah menyepelekan kebaikan dan tidak menaruh minat terhadap amal yang tampak kecil, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajari kita agar tidak berlaku demikian. Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Jurayy Al-Hujaimi, bahwa ia berkata: Aku pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang tinggal di pegunungan, ajarilah kami satu perkara yang dengannya Allah Tabaraka wa Ta’ala akan memberi manfaat kepada kami!” Maka Rasulullah menjawab:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي وَلَوْ أَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَوَجْهُكَ إِلَيْهِ مُنْبَسِطٌ

“Janganlah sekali-kali engkau menyepelekan suatu kebaikan, sekalipun engkau hanya menuangkan air dari timbamu ke dalam bejana orang yang butuh air, juga sekalipun engkau berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang ramah.”[17]

Seandainya ada orang yang datang hendak mengambil air dari suatu sumur, sementara engkau baru saja mengangkat timbamu dari sumur itu, lantas engkau menuangkan airnya ke dalam bejana orang yang datang itu, maka amal semacam ini meskipun tampak kecil namun kita tak patut menyepelekannya; begitu juga menemui saudara sesama Muslim dengan wajah berseri-seri, dan membuang kotoran dari masjid, sekalipun hanya sehelai jerami, kiranya amal yang sedikit itu akan menyebabkan terhapusnya dosa, sebab Allah berterima kasih kepada hambanya dengan perbuatan-perbuatan itu, dan Dia akan mengampuni dosa-dosanya.

Kelima belas: Tidak Punya Kepedulian terhadap Permasalahan Kaum Muslimin

Di antara gejala lemah iman juga, apabila seseorang tidak punya rasa peduli terhadap permasalahan-permasalahan kaum Muslimin, dan tidak tergerak untuk turut memecahkannya; tidak dengan do’a, dan tidak pula dengan pertolongan; ia begitu dingin perasaannya dengan apa yang menimpa kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia, baik berupa penjajahan musuh, penindasan, penganiayaan dan berbagai kenestapaan lainnya. Ia hanya merasa cukup dengan keselamatan dirinya. Ini pun merupakan efek dari kelemahan iman. Sungguh, sifat seorang Mukmin adalah kebalikannya, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنْ الْجَسَدِ يَأْلَمُ الْمُؤْمِنُ لِأَهْلِ الْإِيمَانِ كَمَا يَأْلَمُ الْجَسَدُ لِمَا فِي الرَّأْسِ

“Sesungguhnya, seorang Mukmin [memperlakukan] orang-orang beriman lainnya seperti kepala yang ada pada tubuh; di mana seorang Mukmin akan merasa sakit dengan derita orang-orang beriman lainnya, sebagaimana anggota tubuh merasakan derita yang mendera kepala.”[18]

Keenam belas: Retaknya Ikatan Persaudaraan di antara Sesama Muslim

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فِيْ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ –أَوْ فِيْ الْإِسْلاَمِ– فَيُفَرِّقُ بَيْنَهُمَا أَوَّلُ ذَنْبٍ {وفي رواية: فَفُرِّقَ بَيْنَهُمَا إِلَّا بِذَنْبٍ} يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا

“Tidaklah dua orang manusia saling mencintai karena Allah ‘Azza wa Jalla –atau karena Islam– lalu persaudaraan di antara keduanya retak karena dosa pertama [dalam riwayat lain: lalu persaudaraan di antara keduanya menjadi retak, kecuali karena suatu dosa] yang dilakukan oleh salah seorang di antara mereka berdua.”[19]

Hadits ini menunjukkan, bahwa kemaksiatan itu terkadang merenggangkan ikatan persaudaraan dan meluluh-lantakkannya. Kemalangan seorang manusia yang muncul di tengah jalinan indah di antara dirinya dan saudara-saudaranya sesama Muslim, terkadang merupakan efek dari kelemahan imannya akibat melakukan berbagai kemaksiatan; Oleh karena, Allah akan mengenyahkan orang yang durhaka dari hati hamba-hamba-Nya, sehingga orang durhaka itu akan hidup dalam seburuk-buruknya keadaan; martabatnya jatuh kepada posisi yang hina, tiada lagi memiliki kehormatan. Begitu pula kasih sayang orang-orang Mukmin tidak akan mereka rasakan, juga perlindungan Allah terhadap mereka, padahal Allah senantiasa melindungi orang-orang beriman.

Ketujuh belas: Tidak Memiliki Rasa Tanggungjawab terhadap Agama

Di antara gejala lemah iman juga, seseorang tidak merasa bertanggungjawab terhadap agama ini, sehingga ia tidak berusaha untuk menyebarkannya, tidak pula mengabdi kepadanya; berbeda sekali dengan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sejak pertama kali masuk Islam segera merasakan tanggungjawab itu. Lihatlah Thufail bin ‘Amr radhiallahu ‘anhu, berapa lama rentang waktu semenjak keislamannya, hingga menyeru kaumnya kepada agama Allah ‘Azza wa Jalla? Sungguh, ia begitu cepat bergerak untuk mendakwahi kaumnya. Semata-mata karena dirinya telah masuk Islam, lantas ia merasa memiliki tanggungjawab yang agung terhadap agama; ia langsung meminta izin kepada Nabi untuk kembali kepada kaumnya, ia pun kembali sebagai seorang penyeru kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan kebanyakan orang di zaman sekarang, hanya berdiam diri sekian lama semenjak memegang agama ini, sampai mau berdakwah ke jalan Allah ‘Azza wa Jalla.

Kedelapan belas: Ketakutan dan Kegelisahan Ketika Dilanda Musibah

Di antara gejala lemah iman juga, ketakutan dan kegundahan yang mendalam pada seseorang ketika ditimpa musibah atau peristiwa-peristiwa yang menyulitkan, hingga jiwanya tergoncang, hilang keseimbangan, kacau pikiran, dan kosong pandangan mata. Ia langsung limbung ketika ditimpa suatu petaka atau kepedihan, hingga jalan keluar tertutup di matanya, dan kegalauan selalu mengintainya. Ia tidak mampu menghadapi kenyataan dengan hati yang tegar dan kuat. Dan, semua itu terjadi karena kelemahan imannya. Seandainya ia memiliki keimanan yang kuat, niscaya hatinya kokoh, dan mampu menghadapi musibah yang paling parah dan nestapa yang paling menyulitkan sekalipun, dengan tegar dan sabar.

Kesembilan belas: Banyak Berdebat dan Berargumen

Di antara gejala lemah iman juga, apabila seseorang banyak berargumen dan senantiasa sangsi terhadap kebenaran, yang mana hal itu dapat mengeraskan hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits shahih:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ

“Tidaklah suatu kaum tersesat, setelah mereka berada pada petunjuk, kecuali karena mereka senang berargumen (berdebat).”[20]

Berdebat tanpa dalil dan tujuan yang benar akan menyebabkan penyimpangan seseorang dari jalan yang lurus. Alangkah banyaknya perdebatan manusia di zaman ini secara batil; mereka berdebat tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa merujuk kepada kitab yang bercahaya. Cukuplah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini sebagai pendorong bagi kita untuk meninggalkan sifat yang tercela itu:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

“Akulah penjamin rumah di tengah surga, bagi orang yang menghindari perdebatan sekalipun wajar.”[21]

Kedua puluh: Bergantung kepada Dunia

Di antara gejala lemah iman juga, apabila seseorang bergantung kepada dunia, sangat cinta kepadanya, dan merasa puas dengan memilikinya. Hatinya benar-benar terikat kepada dunia sampai pada taraf dirinya akan menderita apabila fasilitas-fasilitas dunia itu tidak ia dapatkan, baik harta, pangkat, kedudukan, dan tempat tinggal. Ia pun merasa tersingkirkan ketika tidak memperoleh apa yang diperoleh oleh orang lain, dan ia merasakan kepedihan dan ketertekanan jiwa yang luar biasa apabila melihat saudaranya sesama Muslim berhasil mendapatkan fasilitas dunia yang luput dari dirinya. Terkadang ia pun mendengki dan menginginkan lenyapnya kenikmatan yang ada pada orang lain, padahal sifat seperti itu mampu mengenyahkan keimanan di dalam hatinya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ الْإِيمَانُ وَالْحَسَدُ

“[Dua perkara] tidak akan terkumpul dalam hati seorang hamba; yaitu iman dan sifat dengki.”[22]

Kedua puluh satu: Tiadanya Ruh Keimanan dalam Setiap Omongan

Di antara gejala lemah iman juga, apabila seseorang mengambil suatu pembicaraan dan gaya bahasanya, melulu berdasarkan akalnya dan tiada mengandung nilai-nilai keimanan. Hingga, dalam setiap omongannya nyaris tidak ditemukan kutipan-kutipan dari nash Al-Quran, as-sunnah ataupun ucapan para ulama salaf (terdahulu) yang Allah rahmati.

Kedua puluh dua: Berlebih-lebihan dalam Mengurus Diri

Di antara gejalanya juga, apabila seseorang berlebih-lebihan dalam mengurusi keperluan diri, baik keperluan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, maupun kendaraan. Engkau akan mendapati orang-orang seperti ini senantiasa terobsesi kepada kemewahan-kemewahan hidup, hingga ia terus memoles penampilannya, memaksakan diri membeli pakaian yang lembut, mendekor tempat tinggalnya, dan mencurahkan segenap harta dan waktu demi kemegahan-kemegahan itu, meskipun perkara-perkara itu tidak begitu penting dan dibutuhkan oleh dirinya, sementara di antara saudara-saudaranya sesama Muslim ada yang lebih memerlukannya. Namun ia terus saja dengan perbuatan itu hingga terbenam ke dalam kemewahan dan kesenangan yang dilarang agama, sebagaimana yang disinyalir dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, bahwa ketika ia diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berdakwah ke negeri Yaman, Rasul berpesan kepadanya:

إِيَّاكَ وَالتَّنَعُّمَ فَإِنَّ عِبَادَ اللَّهِ لَيْسُوا بِالْمُتَنَعِّمِينَ

“Hati-hatilah engkau dari bermegah-megahan, karena sesungguhnya hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang senang bermegah-megahan.”[23]


Endnote

[1] Riwayat Bukhari; Lihat kitab Al-Fath (10:486), cetakan Dar el-Fikr.

[2] Riwayat Tirmidzi (3479), lihat di dalam kitab Al-Silsilah As-Shahihah (594).

[3] Riwayat Ahmad (679), lihat di dalam kitab Al-Silsilah As-Shahihah (510)

[4] Lihat kitab Al-Silsilah As-Shahihah (554), jilid 2 hal. 86.

[5] Lihat kitab Al-Silsilah As-Shahihah (427).

[6] Riwayat Muslim (144).

[7] Riwayat Bukhari (6729), kitab cet. Al-Bugha.

[8] Riwayat At-Thabrani di dalam kitab Al-Kabir (18:72), dan lihat di dalam kitab Shahih Al-Jami’ (1420).

[9] Riwayat Al-Baihaqi, 2:439, dan lihat di dalam kitab Shahih Al-Jami’ (120).

[10] Riwayat Bukhari di dalam kitab Al-Adab al-Mufrad (5229), lihat di dalam kitab Al-Silsilah As-Sahihah (357).

[11] Riwayat Abu Daud (5229), riwayat Bukhari dalam kitab Al-Adab al-Mufrad (977), dan lihat di dalam kitab Al-Silsilah As-Sahihah (357).

[12] Riwayat Bukhari, di dalam kitab Al-Fath (11:62)

[13] Riwayat An-Nasa’i di dalam kitab Al-Mujtaba (6:13), dan lihat di dalam Shahih Al-Jami’ (2678).

[14] Riwayat Abu Daud (2:342), lihat di dalam kitab Shahih Al-Jami’ (2678).

[15] Riwayat Shahihain, sedangkan lafadnya berdasarkan riwayat Muslim (1599).

[16] Riwayat Bukhari dalam kitab Al-Fath (11:102), lihat di dalam kitab Taghliq At-Ta’liq (5: 136), cet. Al-Maktab Al-Islamy.

[17] Lihat di kitab Musnad Ahmad (5:63), lihat di dalam kitab Al-Silsilah As-Shahihah (1352).

[18] Lihat di dalam Musnad Ahmad (5:340), lihat di dalam kitab Al-Silsilah As-Shahihah (1137).

[19] Riwayat Bukhari di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad (401), riwayat Ahmad di dalam kitab Al-Musnad (2:68), dan lihat di dalam kitab Al-Silsilah As-Shahihah (637).

[20] Riwayat Ahmad di dalam kitab Al-Musnad (5:252), lihat di dalam kitab Shahih Al-Jami’ (5633).

[21] Riwayat Abu Daud (5:150), lihat di dalam kitab Shahih Al-Jami’ (1464).

[22] Riwayat Nasa’i dalam kitab Al-Mujtaba (6:13), lihat di dalam kitab Shahih Al-Jami’ (7260).

[23] Riwayat Abu Nu’aim di dalam kitab Al-Hilyah (5:155), lihat di dalam kitab Al-Silsilah As-Shahihah (353), sedangkan dalam riwayat Ahmad dengan lafadz “Iyyaaya”, lihat kitab Al-Musnad (5:243).

**************

Sumber referensi: Dikutip dari kutaib zhahiratu Dho’fil al-Iman versi terjemahan bahasa indonesia oleh Abu Haitsam Buldan Muhammad Fatah

Artikel: https://asya84.wordpress.com/

Posted on 17 Maret 2010, in Tazkiyatun Nufus and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Mochamad Setyadi

    Aslm. Subhannallah,, Afwan Ane Mochamad Setyadi,, tertegun membaca blog Antum,,,Jika diperbolehkan Ane ingin share di FB ane,, mohon Ijin ya,, Sukron,, Waslm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: