Allah ‘Azza wa Jalla Lebih Sayang Kepada Hamba-Nya Daripada Seorang Ibu Terhadap Anaknya

Saat pertama kali saya menyandang predikat baru sebagai seorang ibu, ada beribu kebahagiaan menyeruak ke relung hati yang paling dalam. Semenjak kelahiran putra kami yang pertama, di benak saya bermain-main beraneka macam rencana yang akan disusun, saya akan memberikan yang terbaik untuk buah hatiku, pengasuhannya, pendidikannya, dan saya akan mengarahkan potensinya, bahkan dalam setiap shalat namanya senantiasa terselip dalam doa-doaku, “Ya Allah Dzat yang menggenggam jiwa putraku, jagalah fithrah keshalehannya, jadikanlah ia orang yang berilmu dan kuatkanlah fisiknya.”

Hari demi hari dia tumbuh makin lincah, fase pertumbuhannya terbilang cepat dibanding dengan anak seusianya, bahkan saya perhatikan potensi intelektualitasnya sudah terlihat sejak dini, ketika usianya lebih-kurang 6 bulan, semenjak tangannya sudah mampu menjangkau hal-hal yang menarik perhatiannya, dia paling senang sekali menurunkan deretan buku-buku yang tersusun di rak, saya amati tingkahnya itu dengan seksama, dia seperti menikmati sekali eksplorasinya, yang membuatku merasa takjub, dia seperti mengerti arti sebuah buku, dia membuka tiap lembar buku dengan jemarinya yang lentik tanpa tertarik untuk merusaknya atau menyobeknya,selalu seperti itu tiap kali ia melakukan hal yang sama, layaknya orang dewasa yang sedang menelaah buku. Sambil tersenyum, dalam hati saya bergumam, “Hmm.. anak cerdas ..!”

Ketakjubanku yang lain adalah saat saya menyetel MP3 murattal Qur’an di winamp komputer, ia yang saya letakkan di pangkuan tampak menikmati sekali alunan ritme syahdunya, lantas dari bibirnya yang mungil keluar suara mengikuti alur iramanya, layaknya orang yang sedang menirukan bacaan ayat Al-Qur’an. -Tentunya suara khas bayi-, saya sampai terpingkal dibuatnya. Subhanallah..

Namun, perjalanan waktu berkelebat dengan cepat memenggal alur kehidupan kami, seperti tak ada kekuatan lain yang mampu menghadangnya. Rupanya saya dan suami harus semakin menguatkan dan meneguhkan hati, jika yang Allah minta adalah kesabaran, dan adalah sebuah keniscayaan bahwa Allah akan senantiasa menguji hamba-Nya, jika Dia menghendaki kebaikan tertanam dalam diri hamba itu.

Setelah lebih sembilan bulan kami dititipi harta berharga yang tak ternilai berwujud anak, kini Sang Pemilik berkehendak mengambil kembali milik-Nya, dan tak ada kata yang lebih haq untuk kami ucapkan selain;

إنا لله و إنا إليه راجعون. اللهم أجرني في مصيبتي واخلف لي خيرا منها

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan benar-benar kepada-Nya kami akan kembali. ya Allah berilah aku balasan (pahala) di dalam musibahku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari musibah tersebut”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن لله ما أخذ, وله ما أعطى, و كل شيئ عنده بأجل مسمى, فلتصبر و لتحتصب


“Sesungguhnya hak Allah apa yang Dia ambil, dan kepunyaan-Nya apa yang Dia beri. Segala sesuatu di sisinya dengan batas waktu (ajal) yang ditentukan, oleh karena itu, bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah.” (HR. Bukhari)

Merenungi hadits di atas, seakan memberikan segenggam kekuatan yang teramat besar bagi jiwa saya, betapa tidak, di saat musibah itu menimpa kami ternyata masih ada orang yang ‘nyeletuk’ mengatakan “seandainya waktu itu langsung dibawa ke dokter, mungkin kejadiannya tidak akan begini.. bidan mana tahu hal beginian”. Pada waktu itu sebelum aku membawanya ke dokter aku bawa dulu anakku ke bidan anak, dan akupun tiada henti-hentinya memberikan pertolongan pertama di rumah. wal’iyadubillah, tidaklah layak seorang muslim mengatakan hal seperti ini ketika musibah menimpa.

Lantas, di kemanakan takdir Allah, yang telah di tetapkan-Nya atas diri setiap manusia, jauh sebelum manusia itu terlahir ke dunia.

Sungguh, Allah Dzat yang maha Perkasa tidak memperkenankan hamba-Nya berandai-andai jika suatu musibah menimpa mereka, sehingga dengan perkataan itu akan tersibaklah tabir syetan, yang dengan mudahnya merasuki jiwa setiap manusia, hingga menyebabkan manusia itu terpelanting jatuh ke dalam perangkapnya, sampai taraf manusia itu menafikan keberadaan takdir Allah.

Di satu sisi hati kami memang bersedih dan menangisi kepergian permata hati kami satu-satunya, dan perasaan semacam ini adalah manusiawi, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Al-Bukhari meriwayatkan hadits dari Anas Bin Malik rodhiyallahu ‘anhu., “Kami pernah bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menerima Abu Syaf al-Qasn,suami ibu susuan Ibrahim, lalu menciumnya.Setelah itu, kami menemui lagi baginda, saat Ibrahim wafat. Saat itu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menangis. Melihat hal itu Abdulrahman Bin Auf bertanya: “Mengapa anda menangis, wahai Rasulullah?” Baginda menjawab “Wahai Ibn Auf, tangisan itu tanda kasih sayang.” Selanjutnya, baginda bersabda:Mata boleh menangis dan hati boleh bersedih, tetapi kita tidak boleh mengatakan kecuali yang diridhai Tuhan. Sesungguhnya kami bersedih kerana berpisah denganmu, wahai Ibrahim.”

Namun, di lain sisi, ada binar kebahagiaan terselip di hati saya dan suami, karena putra kami tercinta telah Allah pilih untuk menjadi bagian dari “wildânun mukholadûn”, putra kami telah tenang menempati nikmatnya kesempurnaan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, putra kami sebagaimana anak-anak (Muslim) lainnya yang meninggal sewaktu masih kecil akan menjadi syafa’at bagi orang tuanya, jika kita mampu bersabar dan benar-benar mengharap pahala-Nya. Allah memang sangat sayang padamu, duhai anakku!. Sebagaimana yang dikatakan Rasulullah “Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anaknya.” (HR. Bukhari Muslim)

Posted on 4 Februari 2010, in Coretan Penaku and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: