Mengendalikan Amarah


Suatu siang, ketika aku dan suami baru saja keluar dari Masjid Agung Kota Sukabumi, tiba-tiba perhatian kami teralihkan oleh sebuah adegan di pinggir jalan yang kami lalui. Sepasang laki-laki dan perempuan kelihatannya sedang “marahan”. Entahlah, apakah mereka pasangan suami istri atau bukan. Perempuan dengan raut wajah marah itu tampak memalingkan muka dari si laki-laki. Sementara si laki-laki kelihatan salah tingkah, nampak sekali dia memelas dan memohon pada si wanita.

Sesampainya kami di rumah, suamiku menyegar kembali kejadian siang itu dan bertanya padaku, “Mi, ingat kejadian tadi? Kenapa perempuan itu ngambek di sembarang tempat, ya? Kenapa marahnya nggak nanti di rumah saja? Kalau yang tadi itu suaminya, kasihan. Pasti jengkel menghadapi kejadian itu di tempat umum. Mau ditinggal, pasti nggak tega. Takut istinya kenapa-napa.”

Mendengar pertanyaan itu, benakku terdorong untuk menyelami kembali soal kehidupan rumah tangga, terutama rumah tangga kami. aku mencoba menerjemahkan maksud di balik pertanyaannya, aku mulai memahami, suamiku berempati pada laki-laki tadi. Rupanya ia turut merasakan ketertekanan bila istri yang di cintainya melancarkan aksi ngambek, apalagi di tempat umum seperti tadi. Apa yang harus dilakukannya?

“Barangkali suamiku ingin aku lebih mampu mengendalikan emosi, sehingga amarah tidak sampai menciptakan suasana tegang dan meninggalkan luka”.

Melampiaskan amarah tanpa kendali sehingga muncul sikap dan kata-kata yang menyakitkan sama artinya dengan mengorbankan harga diri sendiri, juga suami. Amarah bukanlah sesuatu hal yang mesti dibekap, namun juga bukan suatu hal yang perlu di umbar. Amarah merupakan emosi yang memuncak dan harus diarahkan.

Berbicara soal mengendalikan diri di saat marah ada satu langkah yang bisa kita tempuh misalnya berupaya menyembunyikan perasaan dongkol kepada pasangan kita, dengan belajar tersenyum (walaupun dipaksakan). Belajar merangkul saat hati kita sebenarnya ingin meledak. Belajar diam saat mulut kita sebenarnya ingin memuntahkan kata-kata.

Memang, nampaknya hal ini tidak mudah untuk diaplikasikan,-aku pun masih sering kalah dengan emosi sendiri- karena seakan harus membohongi perasaan sendiri. Namun demi keishlahan rumah tangga, aku pikir cara ini mesti kita coba. Bukankah Rosulullah shalallohu alaihi wasallam memperbolehkan kita berbohong untuk kerukunan suami istri?.

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits riwayat Abu Daud no: 4921dan dishohehkan oleh Al Albani

لاَ أَعُدُّهُ كَاذِبًا الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ, يَقُوْلُ اْلقَوْلَ وَلاَ يُرِيْدُ بِهِ إِلاَّ اْلإْصْلاَحَ, وَالرَّجُلُ يَقُوْلُ فِي اْلحَرْبِ, وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ اْمرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا

“Aku tidak menganggap berbohong seorang yang (berbohong) untuk mendamaikan perselisihan antara manusia, yaitu dengan mengatakan satu perkataan yang bohong di mana dia tidak menghendaki dengannya kecuali perdamaian, juga seorang laki-laki yang berkata bohong dalam peperangan dan seorang suami yang berkata bohong kepada Istrinya, dan seorang istri yang berbohong kepada suaminya “.

Sebagai salah satu kiat Bila marah sedang merajai diri, ada baiknya kita mengenang dan memunculkan kebaikan pasangan kita. Rasakanlah betapa permasalahan yang berat sekalipun, akan mudah terurai seiring upaya kita untuk berlapang dada menerima kekurangannya.

Bagaimanapun, kita adalah manusia yang bisa marah, bisa bersikap keras, dan bisa khilaf. Yang perlu kita lakukan adalah menanamkan konsep relatifitas (tarik ulur) di dalam mencari keseimbangan hubungan suami istri, sehingga akhirnya kedamaian senantiasa memenuhi taman jiwa kita. Abaikanlah setiap onak dan duri yang menghadang karena disana masih ada mawar yang merekah indah.

******************

Artikel: https://asya84.wordpress.com/

Posted on 15 Desember 2009, in Coretan Penaku and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Suatu pencerahan yang bagus banget buatku..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: