Makna Kebebasan Individu

Dalam riwayat Bukhari disebutkan, bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sekian lelaki dan wanita bertelanjang badan di sebuah tempat yang sempit mirip dapur api, bagian bawahnya luas dan bagian atasnya sempit. Mereka berteriak-teriak di dalamnya. Ternyata, api bergelora menyala-nyala dari arah bawah mereka. Jika api itu menyembur terhadap mereka, mereka langsung berteriak karena sangat panasnya. Lalu Nabi bertanya kepada Jibril: “Siapakah mereka, wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah para lelaki dan wanita pezina.”

Betapa pedih siksa yang Allah timpakan bagi manusia yang melanggar batasan-Nya, padahal Allah telah memperingatkan manusia untuk menjauhkan diri dari sarana-sarana yang mendekatkan kita kepada perbuatan zina, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Qs. Al-Isra: 32)

Mendekatinya saja kita sudah dilarang, apatah lagi jika kita sampai terjerembab berkubang dalam kemaksiatan itu, hingga kita menjadi sumber yang mengakibatkan kehancuran moral masyarakat luas, sungguh akan berlipatgandalah siksa yang Allah timpakan bagi manusia yang dengan terang-terangan melakukan praktik pornografi dan pornoaksi, sehingga menyebabkan manusia yang membacanya ataupun menontonnya mengikuti langkah mereka.

Benarlah apa yang diprediksikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, bahwa kita akan hidup di zaman yang sarat dengan fitnah dan godaan, dengan merajalelanya wanita-wanita durhaka yang meremehkan jilbab, yang diri mereka senantiasa akrab dengan hal-hal yang haram, perhatian mereka hanya tertuju kepada pentas-pentas hiburan dan film. Kini di sekeliling kita begitu banyak godaan yang menelikung menyerang mata, telinga, hati dan pikiran kita.

Jadilah posisi kita mendekati seperti apa yang disinyalir oleh baginda Rasul dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Al-Hakim juga perawi lainnya;

“Sesungguhnya, di belakang kalian terdapat hari-hari (yang memerlukan) kesabaran penuh. Hidup di zaman itu bagaikan memegang bara api; Bagi orang yang beramal di zaman itu, maka akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang di antara kalian dengan amal yang sama. Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, ataukah seperti pahala lima puluh orang di antara mereka?’ Rasul menjawab: ‘Bahkan, lima puluh orang di antara kalian’!”

Dilipatgandakannya ganjaran bagi orang yang beramal shaleh di akhir zaman, karena kebaikan di zaman itu hampir-hampir tiada yang mendukung.

Sungguh ironis, dengan dalih seni dan kebebasan individu mereka melegalkan perilaku menyimpang itu, Padahal kebebasan individu dalam perspektif Islam, kata syaikh Daud bin Abdul Wahab Al-‘As’ausy dalam Hikmah Hadits Safinah, mengandung arti, bahwa seorang Muslim itu senantiasa menjadi hamba Allah dalam setiap perilaku dan semua urusannya dengan meniti suatu langkah dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh syariat.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan Mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36).

Batasan syariat Islam itu ibarat peraturan lalulintas, jika masing-masing orang bersikukuh mengusung dan memberlakukan kebebasan individu dengan tidak mengindahkan peraturan yang ada, maka sudah bisa dipastikan kecelakaanlah yang akan kita ketam.

Sejatinya, kita semua faham bahwa propaganda yang dilancarkan kaum kuffar sejak zaman Rasulullah hingga kini belumlah padam dan tidak akan pernah berhenti, dalam membuat makar untuk menghancurkan agama Islam, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka…..” (QS. Al-Baqarah:120)

Mari kita bergegas mengerahkan segala kemampuan untuk menghadang kemaksiatan itu agar tidak semakin merajalela, atau adzab Allah yang lebih besar akan menimpa negri ini, tidak hanya mengenai orang-orang yang dzolim saja, namun juga menimpa manusia secara keseluruhan.

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzolim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal:25) Wallâhu A’lamu Bishawâb.

Artikel: https://asya84.wordpress.com/


Posted on 4 Desember 2009, in Coretan Penaku and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: