Arsip Blog

Ketabahan Sejati Saat Pertama Kali Musibah Terjadi

عن أنس رضي الله عنه قال: مر البي صلى الله عليه وسلم بامرأة تبكي عند قبر فقال :اتقي الله واصبري, فقالت: إليك عني, فإنك لم تصب بمصيبتي, ولم تعرفه, فقيل لها: إنه النبي صلى الله عليه وسلم فأتت باب النبي صلى الله عليه وسلم فلم تجد عنده بوابين, فقالت: لم أعرفك, فقال: إنما الصبر عند الصدمة الأولى. متفق عليه

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dia berkata: telah lewat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  kepada seorang perempuan yang sedang menangis di samping kuburan, maka Rasulullah bersabda: “Bertakwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah.” Perempuan itu berkata: “Menjauhlah engkau dariku, karena sesungguhnya engkau tidak tertimpa musibah sebagaimana musibah yang menimpaku.” (Anas berkata): Perempuan itu tidak mengenal beliau, lalu dia diberitahu bahwa yang barusan bicara itu adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian dia mendatangi pintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak didapati padanya penjaga pintu, maka perempuan itu berkata: tadi aku belum mengenalmu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kesabaran itu saat tamparan (musibah) pertama kali dirasakan. Mutafaqun ‘alaih. Read the rest of this entry

Menangislah…! Karena Airmata Adalah Tanda kasih Sayang

وَعَنْ أَبِي زَيْدٍ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ مَوْلَى رسول الله صلى الله عليه وسلم وَحِبِّهِ وَابْنِ حِبِّهِ, رضي الله عنهما, قال: أَرْسَلَتْ بِنْتُ النبيِّ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ ابْنِي قَدْ احْتُضِرَ فَاشْهَدْنَا, فَأَرْسَلَ يُقْرِئُ السَّلَامَ وَيَقُولُ: (إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَله مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بأجل مُسَمًّى, فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ) فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ تُقْسِمُ عَلَيْهِ لََيَأْتِيَنَّهَا. فَقَامَ مَعَهُ سَعْدُ بْن عُبَادَةَ, وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ, وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ, وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ, وَرِجَالٌ- رضي الله عنهم- فَرُفِعَ إِلَى رسول الله صلى الله عليه وسلم الصَّبِيُّ, فَأَقْعَدَهُ فِي حِجْرِهِ وَنَفْسُهُ تَقَعْقَعَ, فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ, فَقَالَ سَعْدٌ: مَا هَذَا؟فَقَالَ: (هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَااللَّهُ تَعَالَى فِي قُلُوْبِ عِبَادِهِ) وَفِي رواية (فِي فُلُوْبِ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ) متفق عليه.

Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah (orang yang dulunya hamba sahaya kemudian dimerdekakan) orang yang sangat dicintainya, dan anak dari orang yang sangat dicintainya, semoga Alloh meridhoi keduanya, Dia berkata: salah satu putri Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengirim seorang utusan sambil membawa pesan untuk Rasulullah: “Sesungguhnya anakku sedang dalam keadaan syakaratul maut, maka datanglah engkau kepada kami”,  kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengirim balik utusan itu dan menyampaikan salam seraya bersabda: (Sesunguhnya kepunyaan Allahlah apa-apa yang Dia ambil, dan kepunyaannya pula apa-apa yang Dia beri, dan segala sesuatu di sisi-Nya memiliki batas ajal yang ditentukan, oleh karena itu bersabarlah dan mengharaplah pahala). Maka putri Nabi tersebut  mengirim kembali seorang utusan sambil bersumpah, “Demi Allah wahai bapakku engkau pasti datang”. Maka berangkatlah Rasulullah bersama Sa’ad bin ‘Ubadah, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid binTsabit, dan yang lainnya -semoga Allah meridhoi mereka semua- maka diangkatlah anak itu kepada Rasulullah, kemuadian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendudukkan anak itu di pangkuannya sedangkan nafas anak itu tersengal-sengal, maka berlinanglah air mata Rasulullah, kemudian Sa’ad berkata: wahai Rasulullah! apa (air mata ) ini..? kemudian Rasulullah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ini adalah bentuk kasih sayang yang Allah ciptakan kasih sayang itu di hati-hati para hamba-Nya”. Dalam riwayat lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ pada hati-hati yang Allah kehendaki dari hamba-hamba-Nya, sesungguhnya Allah menyayangi dari hamba-hamba-Nya yang menyayangi orang lain”.

Faedah  dari hadits di atas:

  • Bolehnya meminta datang orang yang mempunyai keutamaan kepada orang yang sedang syakaratul maut
  • Boleh datang untuk berta’ziyah tanpa izin
  • Disunnahkan menyuruh orang yang terkena musibah untuk bersabar
  • Bolehnya mengulang panggilan
  • Boleh menangis tanpa meratap (menangis yang terlarang ketika terkena musibah adalah menangis yang mengeluarkan suara)
  • Wajib mendahulukan salam sebelum bicara
  • Menengok  orang yang sakit meskipun kedudukannya lebih rendah daripada kita/ orang yang memusuhi kita

****************

Catatan penulis dari kajian rutin Kitab Riyaadus Shaalihin, yang disampaikan oleh Ust. Ade Hermansyah,Lc

Tingkatan Manusia Muslim Dalam Menghadapi Musibah

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin رحمه الله

Manusia, dalam menyikapi musibah dapat dikualifikasikan menjadi empat macam. Pertama, orang yang bersyukur. Kedua, orang yang ridha. Ketiga, orang yang sabar. Keempat, orang yang berkeluh-kesah (jazi’).

Orang yang jazi, artinya, ia telah melanggar tindak yang diharamkan, murka terhadap ketentuan (qadha‘) Rabbul ‘alamin yang di tanganNya pengaturan kerajaan langit dan bumi. Dia-lah pemilik kerajaan, sehingga berwenang melakukan apa saja yang dikehendakiNya.

Orang yang bersabar, yakni orang yang dapat menanggung musibah yang melanda. Maksudnya, ia mengetahui hal itu pahit, berat dan susah. Dia tidak suka musibah itu datang, namun ia mampu teguh dalam menaggungnya dan menjaga dirinya dari berbuat yang diharamkan. Ini wajib.

Orang yang ridha. Yaitu Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.