<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://asya84.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://asya84.wordpress.com</link>
	<description>&#039;AISYAH UMMU HAITSAM&#039;S PRIVATE BLOG</description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 Jan 2012 05:22:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='asya84.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/ba627bbfa4ccdb2e4f12df6e77f9d99c?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://asya84.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://asya84.wordpress.com/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://asya84.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>JURUS JITU MENDIDIK ANAK { 4/5 }</title>
		<link>http://asya84.wordpress.com/2012/01/14/jurus-jitu-mendidik-anak-45/</link>
		<comments>http://asya84.wordpress.com/2012/01/14/jurus-jitu-mendidik-anak-45/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 05:22:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Haitsam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tarbiyatul Aulad]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik di waktu kecil bagai mengukir di atas batu]]></category>
		<category><![CDATA[sabar mendidik anak]]></category>
		<category><![CDATA[sabar menghadapi pertanyaan anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asya84.wordpress.com/?p=1504</guid>
		<description><![CDATA[JURUS KEEMPAT: MENDIDIK ANAK PERLU KESABARAN Sabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan &#8230; <a href="http://asya84.wordpress.com/2012/01/14/jurus-jitu-mendidik-anak-45/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1504&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800080;"><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-1505" title="" src="http://asya84.files.wordpress.com/2012/01/painted-baby-hand.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" />JURUS KEEMPAT: MENDIDIK ANAK PERLU KESABARAN</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Sabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab rentang waktunya tidak sebentar dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita.<span id="more-1504"></span></span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Contoh Aplikasi Kesabaran</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">1. Sabar dalam membiasakan perilaku baik terhadap anak</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Anak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah <em>shallallahu </em><em>„</em><em>alaihi wa sallam </em>menggambarkan hal itu dalam sabdanya,</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا </strong><strong>يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَة</strong><strong>ِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ</strong> <em>&#8220;Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi,</em><em> </em><em>Nasrani atau Majusi.&#8221; </em>(H.r. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu</em><em>‟</em><em>anhu</em>).</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, <em>insya Allah </em>hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">2. Sabar dalam menghadapi pertanyaan anak</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Menghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit. Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, &#8216;seburuk&#8217; apa pun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Jika kita ogah-ogahan untuk menjawab pertanyaan anak atau menjawab sekenanya atau bahkan justru menghardiknya, hal itu bisa berakibat fatal. Anak tidak lagi percaya dengan kita, sehingga ia akan mencari orang di luar rumah yang dianggapnya bisa memuaskan pertanyaan-pertanyaan dia. Dan tidak ada yang bisa menjamin bahwa orang yang ditemuinya di luar adalah orang baik-baik! Ingat betapa rusaknya pergaulan di luar saat ini!</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">3. Sabar menjadi pendengar yang baik</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Banyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orangtua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Salah satu contoh, anak kita baru saja pulang sekolah yang mestinya siang ternyata baru pulang sore hari. Kita tidak mendapat pemberitahuan apa pun darinya atas keterlambatan tersebut. Tentu saja kita merasa kesal menunggu, sekaligus juga khawatir. Lalu pada saat anak kita sampai dan masih lelah, kita langsung menyambutnya dengan serentetan pertanyaan dan omelan. Bahkan setiap kali anak hendak berbicara, kita selalu memotongnya, dengan ungkapan, “Sudah-sudah tidak perlu banyak alasan”, atau “Ah, papa/ mama tahu kamu pasti main ke tempat itu lagi kan?!”. Akibatnya, ia malah tidak mau bicara dan marah pada kita.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Pada saat seperti itu, yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak adalah ingin didengarkan terlebih dahulu dan ingin diperhatikan. Mungkin keterlambatannya ternyata disebabkan adanya tugas mendadak dari sekolah. Ketika anak tidak diberi kesempatan untuk berbicara, ia merasa tidak dihargai dan akhirnya dia juga berbalik untuk tidak mau mendengarkan kata-kata kita.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Yang sebaiknya dilakukan adalah, kita memulai untuk menjadi pendengar yang baik. Berikan kepada anak waktu yang seluas-luasnya untuk mengungkapkan segalanya. Bersabarlah untuk tidak berkomentar sampai saatnya tiba. Ketika anak sudah selesai menjelaskan duduk permasalahan, barulah Anda berbicara dan menyampaikan apa yang ingin Anda sampaikan.</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">4. Sabar manakala emosi memuncak</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Hendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Yang seyogyanya dilakukan adalah: bila kita dalam keadaan sangat marah, segeralah menjauh dari anak. Pilihlah cara yang tepat untuk menurunkan amarah kita dengan segera. Bisa dengan mengamalkan tuntunan Nabi <em>shallallahu </em><em>„</em><em>alaihi wa sallam; </em>yakni berwudhu.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Jika kita bertekad untuk tetap memberikan sanksi, tundalah sampai emosi kita mereda. Setelah itu pilih dan susunlah bentuk hukuman yang mendidik dan tepat dengan konteks kesalahan yang diperbuatnya. Ingat, prinsip hukuman adalah untuk mendidik bukan untuk menyakiti.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Berakit-rakit ke Hulu</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Pepatah Arab mengatakan, “Sabar bagaikan buah brotowali, pahit rasanya, namun kesudahannya lebih manis daripada madu”.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Sabar dalam mendidik anak memang terasa berat, namun tunggulah buah manisnya kelak di dunia maupun akhirat. Di dunia mereka akan menjadi anak-anak yang menurut kepada orangtuanya <em>insyaAllah. </em>Dan manakala kita telah masuk di alam akhirat mereka akan terus mendoakan kita, sehingga curahan pahala terus mengalir deras. Semoga…</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">(Bersambung ke bagian 5…)</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color:#800080;">Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://asya84.wordpress.com/category/tarbiyatul-aulad/'>Tarbiyatul Aulad</a> Tagged: <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/emosi/'>emosi</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/mendidik-di-waktu-kecil-bagai-mengukir-di-atas-batu/'>mendidik di waktu kecil bagai mengukir di atas batu</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/sabar-mendidik-anak/'>sabar mendidik anak</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/sabar-menghadapi-pertanyaan-anak/'>sabar menghadapi pertanyaan anak</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asya84.wordpress.com/1504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asya84.wordpress.com/1504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asya84.wordpress.com/1504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asya84.wordpress.com/1504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asya84.wordpress.com/1504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asya84.wordpress.com/1504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asya84.wordpress.com/1504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asya84.wordpress.com/1504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asya84.wordpress.com/1504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asya84.wordpress.com/1504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asya84.wordpress.com/1504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asya84.wordpress.com/1504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asya84.wordpress.com/1504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asya84.wordpress.com/1504/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1504&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asya84.wordpress.com/2012/01/14/jurus-jitu-mendidik-anak-45/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>38.046300 28.833800</georss:point>
		<geo:lat>38.046300</geo:lat>
		<geo:long>28.833800</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/acab0612870e19eefbc7b3825438bc9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ummu Haitsam Buldan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asya84.files.wordpress.com/2012/01/painted-baby-hand.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>JURUS JITU MENDIDIK ANAK { 3/5 }</title>
		<link>http://asya84.wordpress.com/2012/01/11/jurus-jitu-mendidik-anak-35/</link>
		<comments>http://asya84.wordpress.com/2012/01/11/jurus-jitu-mendidik-anak-35/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 12:25:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Haitsam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tarbiyatul Aulad]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas adalah ruh bagi setiap amalan]]></category>
		<category><![CDATA[kekuatan keikhlasan]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik anak dengan ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[suasana hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asya84.wordpress.com/?p=1499</guid>
		<description><![CDATA[JURUS KETIGA: MENDIDIK ANAK PERLU KEIKHLASAN Ikhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yang tak bernyawa. Termasuk jenis amalan yang harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya? Maksudnya adalah: Rawat dan didik anak dengan &#8230; <a href="http://asya84.wordpress.com/2012/01/11/jurus-jitu-mendidik-anak-35/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1499&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800080;"><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-1500" title="" src="http://asya84.files.wordpress.com/2012/01/flower-in-baby-hand.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" />JURUS KETIGA: MENDIDIK ANAK PERLU KEIKHLASAN</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Ikhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yang tak bernyawa.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Termasuk jenis amalan yang harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya?</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Maksudnya adalah: Rawat dan didik anak dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah <em>ta’ala.</em></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Canangkan niat semata-mata untuk Allah dalam seluruh aktivitas edukatif, baik berupa perintah, larangan, nasehat, pengawasan maupun hukuman. Iringilah setiap kata yang kita ucapkan dengan keikhlasan..<span id="more-1499"></span></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Bahkan dalam setiap perbuatan yang kita lakukan untuk merawat anak, entah itu bekerja membanting tulang guna mencari nafkah untuknya, menyuapinya, memandikannya hingga mengganti popoknya, niatkanlah semata karena mengharap ridha Allah.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Apa <em>Sih </em>Kekuatan Keikhlasan?</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Ikhlas memiliki dampak kekuatan yang begitu dahsyat. Di antaranya:</span></p>
<p><span style="color:#800080;">1. Dengan ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Proses membuat dan mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Puluhan tahun! Tentu di rentang waktu yang cukup panjang tersebut, terkadang muncul dalam hati rasa jenuh dan kesal karena ulah anak yang kerap menjengkelkan. Seringkali tubuh terasa super capek karena banyaknya pekerjaan; cucian yang menumpuk, berbagai sudut rumah yang sebentar-sebentar perlu dipel karena anak ngompol di sana sini dan tidak ketinggalan mainan yang selalu berserakan dan berantakan di mana-mana.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan? Jalanilah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan! Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dengan ikhlas <em>insyaAllah </em>akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dengan keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung dan menyebalkan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">2. Dengan keikhlasan, ucapan kita akan berbobot.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Sering kita mencermati dan merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yang sangat membekas di dada anak-anak yang masih belia hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yang bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yang segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Apa yang membedakan? Salah satunya adalah kekuatan yang menggerakkan kata-kata kita. Jika Engkau ucapkan kata-kata itu untuk sekadar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat dan sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika Engkau ucapkan dengan sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah untuk anak-anak yang Engkau lahirkan dengan susah payah itu, <em>insya Allah </em>akan menjadi perkataan yang berbobot.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Sebab bobot kata-kata kita kerap bersumber bukan dari manisnya tutur kata, melainkan karena kuatnya penggerak dari dalam dada; iman kita dan keikhlasan kita…</span></p>
<p><span style="color:#800080;">3. Dengan keikhlasan anak kita akan mudah diatur</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Jangan pernah meremehkan perhatian dan pengamatan anak kita. Anak yang masih putih dan bersih dari noda dosa akan begitu mudah merasakan suasana hati kita.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Dia bisa membedakan antara tatapan kasih sayang dengan tatapan kemarahan, antara dekapan ketulusan dengan pelukan kejengkelan, antara belaian cinta dengan cubitan kesal. Bahkan ia pun bias menangkap suasana hati orang tuanya, sedang tenang dan damaikah, atau sedang gundah gulana?</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Manakala si anak merasakan ketulusan hati orangtuanya dalam setiap yang dikerjakan, ia akan menerima arahan dan nasihat yang disampaikan ayah dan bundanya, karena ia menangkap bahwa segala yang disampaikan padanya adalah semata demi kebaikan dirinya.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">4. Dengan keikhlasan kita akan memetik buah manis pahala</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Keikhlasan bukan hanya memberikan dampak positif di dunia, namun juga akan membuahkan pahala yang amat manis di alam sana. Yang itu berujung kepada berkumpulnya orangtua dengan anak-anaknya di negeri keabadian; surga Allah yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan.</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَتَهُمْ</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Artinya: <em>“</em><em>Orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka.</em><em>” </em>(Q.s. Ath-Thur: 21).</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Dipertemukan di mana? Di surga Allah <em>jalla wa’ala</em>!<a title="" href="#_edn1"><span style="color:#800080;">[i]</span></a></span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Mulailah dari Sekarang!</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Latih dan biasakan diri untuk ikhlas dari sekarang, sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Kalau Engkau bangun di tengah malam untuk membuatkan susu buat anakmu, aduklah ia dengan penuh keikhlasan sambil mengharap agar setiap tetes yang masuk kerongkongannya akan menyuburkan setiap benih kebaikan dan menyingkirkan setiap bisikan yang buruk.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Kalau Engkau menyuapkan makanan untuknya, suapkanlah dengan penuh keikhlasan sembari memohon kepada Allah agar setiap makanan yang mengalirkan darah di tubuh mereka akan mengokohkan tulang-tulang mereka, membentuk daging mereka dan membangkitkan jiwa mereka sebagai penolong-penolong agama Allah.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Sehingga dengan itu, semoga setiap suapan yang masuk ke mulut mereka akan membangkitkan semangat dan meninggikan martabat. Mereka akan bersemangat untuk senantiasa menuntut ilmu, beribadah dengan tekun kepada Allah dan meninggikan agama-Nya. <em>Amîn yâ mujîbas sâ</em><em>‟</em><em>ilîn…</em> </span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">(Bersambung ke bagian 4…)</span></p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><span style="color:#800080;"><a title="" href="#_ednref1"><span style="color:#800080;">[i]</span></a> Sebagaimana dalam penafsiran Ibnu Abbas <em>radhiyallahu</em><em>‟</em><em>an</em><em>huma </em>yang diriwayatkan Imam al-Baihaqy dalam <em>Kitab al-</em><em>I’tiqâd </em>(hal. 183).</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><span style="color:#993366;">Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.</span><em></em></span></p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://asya84.wordpress.com/category/tarbiyatul-aulad/'>Tarbiyatul Aulad</a> Tagged: <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/ikhlas-adalah-ruh-bagi-setiap-amalan/'>ikhlas adalah ruh bagi setiap amalan</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/kekuatan-keikhlasan/'>kekuatan keikhlasan</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/mendidik-anak-dengan-ikhlas/'>mendidik anak dengan ikhlas</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/suasana-hati/'>suasana hati</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asya84.wordpress.com/1499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asya84.wordpress.com/1499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asya84.wordpress.com/1499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asya84.wordpress.com/1499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asya84.wordpress.com/1499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asya84.wordpress.com/1499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asya84.wordpress.com/1499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asya84.wordpress.com/1499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asya84.wordpress.com/1499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asya84.wordpress.com/1499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asya84.wordpress.com/1499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asya84.wordpress.com/1499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asya84.wordpress.com/1499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asya84.wordpress.com/1499/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1499&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asya84.wordpress.com/2012/01/11/jurus-jitu-mendidik-anak-35/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>38.046300 28.833800</georss:point>
		<geo:lat>38.046300</geo:lat>
		<geo:long>28.833800</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/acab0612870e19eefbc7b3825438bc9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ummu Haitsam Buldan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asya84.files.wordpress.com/2012/01/flower-in-baby-hand.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>JURUS JITU MENDIDIK ANAK { 2/5 }</title>
		<link>http://asya84.wordpress.com/2012/01/01/jurus-jitu-mendidik-anak-25/</link>
		<comments>http://asya84.wordpress.com/2012/01/01/jurus-jitu-mendidik-anak-25/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 07:26:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Haitsam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tarbiyatul Aulad]]></category>
		<category><![CDATA[kesalihan orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua jujur]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua suka bohong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asya84.wordpress.com/?p=1494</guid>
		<description><![CDATA[JURUS KEDUA: MENDIDIK ANAK PERLU KESALIHAN ORANG TUA Tentu Anda masih ingat kisah &#8216;petualangan&#8217; Nabi Khidir dengan Nabi Musa &#8216;alaihimas salam. Ya, di antara penggalan kisahnya adalah apa yang Allah sebutkan dalam surat al-Kahfi. Manakala mereka berdua memasuki suatu kampung &#8230; <a href="http://asya84.wordpress.com/2012/01/01/jurus-jitu-mendidik-anak-25/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1494&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800080;"><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-1495" title="" src="http://asya84.files.wordpress.com/2012/01/babyhaba.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" />JURUS KEDUA: MENDIDIK ANAK </strong><strong>PERLU KESALIHAN ORANG TUA</strong><br />
</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong></strong>Tentu Anda masih ingat kisah &#8216;petualangan&#8217; Nabi Khidir dengan Nabi Musa <em>&#8216;alaihimas salam. </em>Ya, di antara penggalan kisahnya adalah apa yang Allah sebutkan dalam surat al-Kahfi. Manakala<em> </em>mereka berdua memasuki suatu kampung dan penduduknya enggan untuk sekadar menjamu mereka<em> </em>berdua. Sebelum meninggalkan kampung tersebut, mereka menemukan rumah yang hampir ambruk.<em> </em>Dengan ringan tangan Nabi Khidir memperbaiki tembok rumah tersebut, tanpa meminta upah dari<em> </em>penduduk kampung. Nabi Musa terheran-heran melihat tindakannya. Nabi Khidir pun beralasan,<em> </em>bahwa rumah tersebut milik dua anak yatim dan di bawahnya terpendam harta peninggalan orang tua<em> </em>mereka yang salih. Allah berkehendak menjaga harta tersebut hingga kedua anak tersebut dewasa dan<em> </em>mengambil manfaat dari harta itu.<span id="more-1494"></span></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Para ahli tafsir menyebutkan, bahwa di antara pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah: Allah akan menjaga keturunan seseorang manakala ia salih, walaupun ia telah meninggal dunia sekalipun.<a title="" href="#_edn1"><span style="color:#800080;">[i]</span></a></span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>Subhânallâh, </em>begitulah dampak positif kesalihan orang tua! Sekalipun telah meninggal dunia masih tetap dirasakan oleh keturunannya. Bagaimana halnya ketika ia masih hidup?? Tentu lebih besar dan lebih besar lagi dampak positifnya.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Urgensi Kesalihan Orang Tua dalam Mendidik Anak</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai citacita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orang tua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan <em>insyaAllah </em>itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan, “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua</span></p>
<p><span style="color:#800080;">orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Beberapa Contoh Aplikasi Nyatanya</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Manakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Jika Anda berharap anak rajin membaca Alquran, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci Alquran yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam <em>gendingan </em>atau suara biduanita yang mendayu-dayu!</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun.Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk  menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. <em>Sebentaaar </em>saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, <em>insya Allah </em>kamu bisa ikut”.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orang tuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Sebuah Renungan Penutup</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Tidak ada salahnya kita putar ingatan kepada beberapa puluh tahun ke belakang, saat sarana informasi dan telekomunikasi masih amat terbatas, lalu kita bandingkan dengan zaman ini dan dampaknya yang luar biasa untuk para orang tua dan anak.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Dulu, masih banyak ibu-ibu yang rajin mengajari anaknya mengaji, namun sekarang mereka telah sibuk dengan acara televisi. Dahulu ibu-ibu dengan sabar bercerita tentang kisah para nabi, para sahabat hingga teladan dari para ulama, sekarang mereka lebih nyaman untuk menghabiskan waktu ber-<em>facebook</em>-an dan akrab dengan artis di televisi. Dulu bapak-bapak mengajari anaknya sejak dini tatacara wudhu, shalat dan ibadah primer lainnya, sekarang mereka sibuk mengikuti berita transfer pemain bola!</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Bagaimana kondisi anak-anak saat ini, dan apa yang akan terjadi di negeri kita lima puluh tahun ke depan, jika kondisi kita terus seperti ini??</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Jika kita tidak ingin menjumpai mimpi buruk kehancuran negeri ini, persiapkan generasi muda sejak sekarang. Dan untuk merealisasikan itu, mulailah dengan memperbaiki diri kita sendiri selaku orangtua! Sebab mendidik anak memerlukan kesalihan orangtua.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, <em>amien…</em></span></p>
<div><span style="color:#0000ff;">(Bersambung ke bagian 3&#8230;)</span></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><span style="color:#800080;">1 Lihat: <em>Tafsîr ath-Thabary </em>(XV/366), <em>Tafsîr al-Baghawy </em>(V/196), <em>Tafsîr al-Qurthuby </em>(XIII/356), <em>Tafsîr Ibn Katsîr</em></span></p>
<p><span style="color:#800080;">(V/186-187), <em>Tafsîr al-Jalâlain </em>(hal. 302-303) dan <em>Tafsîr as-</em><em>Sa</em><em>‟</em><em>dy </em>(hal. 435).</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.</span></p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://asya84.wordpress.com/category/tarbiyatul-aulad/'>Tarbiyatul Aulad</a> Tagged: <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/kesalihan-orangtua/'>kesalihan orangtua</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/orangtua-jujur/'>orangtua jujur</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/orangtua-suka-bohong/'>orangtua suka bohong</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asya84.wordpress.com/1494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asya84.wordpress.com/1494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asya84.wordpress.com/1494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asya84.wordpress.com/1494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asya84.wordpress.com/1494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asya84.wordpress.com/1494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asya84.wordpress.com/1494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asya84.wordpress.com/1494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asya84.wordpress.com/1494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asya84.wordpress.com/1494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asya84.wordpress.com/1494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asya84.wordpress.com/1494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asya84.wordpress.com/1494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asya84.wordpress.com/1494/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1494&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asya84.wordpress.com/2012/01/01/jurus-jitu-mendidik-anak-25/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>38.046300 28.833800</georss:point>
		<geo:lat>38.046300</geo:lat>
		<geo:long>28.833800</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/acab0612870e19eefbc7b3825438bc9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ummu Haitsam Buldan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asya84.files.wordpress.com/2012/01/babyhaba.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>JURUS JITU MENDIDIK ANAK { 1/5 }</title>
		<link>http://asya84.wordpress.com/2011/12/31/jurus-jitu-mendidik-anak-15/</link>
		<comments>http://asya84.wordpress.com/2011/12/31/jurus-jitu-mendidik-anak-15/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 10:28:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Haitsam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tarbiyatul Aulad]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu dalam mendidik anak]]></category>
		<category><![CDATA[jurus jitu mendidik anak]]></category>
		<category><![CDATA[panduan dalam mendidik anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asya84.wordpress.com/?p=1488</guid>
		<description><![CDATA[Ada tulisan yang sangat menarik yang ditulis oleh Ustadz Abdullah Zaen Lc. M.A. dan disebarluaskan dalam bentuk ebook oleh yufid.com mesin pencari ilmu Islam. Di tulisan ini ustadz Abdullah Zaen memberi 5 jurus jitu dalam mendidik anak supaya menjadi anak &#8230; <a href="http://asya84.wordpress.com/2011/12/31/jurus-jitu-mendidik-anak-15/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1488&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800080;"><img class="size-medium wp-image-1489 alignleft" src="http://asya84.files.wordpress.com/2011/12/babbys-hand.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" />Ada tulisan yang sangat menarik yang ditulis oleh Ustadz Abdullah Zaen Lc. M.A. dan disebarluaskan dalam bentuk ebook oleh <a title="Mesin pencari ilmu Islam" href="http://www.yufid.com/" target="_blank"><span style="color:#800080;">yufid.com mesin pencari ilmu Islam</span></a>. Di tulisan ini ustadz Abdullah Zaen memberi 5 jurus jitu dalam mendidik anak supaya menjadi anak yang sholeh/ah, penurut, bersemangat menuntut ilmu, dan meninggikan agama-Nya. Saya postingkan tulisan ini secara berseri supaya lebih mudah dicerna dan direnungi, insya Allah bermanfaat Bagi anda yang sudah memiliki anak, atau yang sedang menanti kehadiran anak, juga tidak ada salahnya dibaca oleh anda yang belum menikah untuk bekal saat kelak diamanahi anak.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>JURUS PERTAMA: MENDIDIK ANAK PERLU ILMU<span id="more-1488"></span></strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Ilmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja.<!--more--></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya melahirkan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan pula karena mereka memiliki kepatutan sebagai orangtua.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Padahal, menjadi orangtua harus berbekal ilmu yang memadai. Sekadar memberi mereka uang dan memasukkan di sekolah unggulan, tak cukup untuk membuat anak kita menjadi manusia unggul. Sebab, sangat banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang!</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Ilmu Apa Saja yang Dibutuhkan?</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai variannya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas <em>radhiyallahu &#8216;anhuma,</em></span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;"><strong>إِذَا</strong><strong> </strong><strong>سَأَلْتَ</strong><strong> </strong><strong>فَاسْأَلْ</strong><strong> </strong><strong>اللهَ</strong><strong>, </strong><strong>وَإِذَ</strong><strong> </strong><strong>اسْتَعَنْتَ</strong><strong> </strong><strong>فَاسْتَعِنْ</strong><strong> </strong><strong>بِا</strong><strong> </strong><strong>لله</strong><strong></strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah.&#8221; </em>(H.r. Tirmidzi dan beliau berkomentar, <em>&#8220;</em>Hasan sahih<em>&#8220;</em>).</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Demi merealisasikan wasiat Nabi <em>shallallahu „alaihi wa sallam </em>untuk para orangtua,</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;"><strong>مُرُوا</strong><strong> </strong><strong>أَوْلَادَكُمْ</strong><strong> </strong><strong>بِالصَّلَاةِ</strong><strong> </strong><strong>وَهُمْ</strong><strong> </strong><strong>أَبْنَاءُ</strong><strong> </strong><strong>سَبْعِ</strong><strong> </strong><strong>سِنِيْنَ</strong><strong>, </strong><strong>وَاضْرِبُوْهُمْ</strong><strong> </strong><strong>عَلَيْهَا</strong><strong> </strong><strong>وَهُمْ</strong><strong> </strong><strong>أَبْنَاءُ</strong><strong> </strong><strong>عَشْر</strong><strong></strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun, dan pukullah jika enggan saat mereka berumur sepuluh tahun.&#8221; </em>(H.r. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany).</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu kepada orang lain?</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Jurus Jitu Mendidik Anak</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, tidak lupa adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Dalam hal ini Nabi <em>shallallahu „alaihi wa sallam </em>mempraktikkannya sendiri, antara lain ketika beliau bersabda menasihati seorang anak kecil,</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;"><strong>يَاغُلاَمُ</strong><strong> </strong><strong>سَمِّ</strong><strong> </strong><strong>اللهَ</strong><strong> </strong><strong>وَكُلْ</strong><strong> </strong><strong>بِيَمِيْنِكَ</strong><strong></strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Nak, ucapkanlah bismillah (sebelum engkau makan) dan gunakanlah tangan kananmu.&#8221; </em>(H.r. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah).</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Ayo Belajar!</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">(Bersambung ke bagian 2&#8230;)</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">* * *<br />
</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Penulis: Ustadz Abdullah zaen,Lc.,M.A.</span></p>
<br />Filed under: <a href='http://asya84.wordpress.com/category/tarbiyatul-aulad/'>Tarbiyatul Aulad</a> Tagged: <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/ilmu-dalam-mendidik-anak/'>ilmu dalam mendidik anak</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/jurus-jitu-mendidik-anak/'>jurus jitu mendidik anak</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/panduan-dalam-mendidik-anak/'>panduan dalam mendidik anak</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asya84.wordpress.com/1488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asya84.wordpress.com/1488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asya84.wordpress.com/1488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asya84.wordpress.com/1488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asya84.wordpress.com/1488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asya84.wordpress.com/1488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asya84.wordpress.com/1488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asya84.wordpress.com/1488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asya84.wordpress.com/1488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asya84.wordpress.com/1488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asya84.wordpress.com/1488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asya84.wordpress.com/1488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asya84.wordpress.com/1488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asya84.wordpress.com/1488/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1488&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asya84.wordpress.com/2011/12/31/jurus-jitu-mendidik-anak-15/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>38.046300 28.833800</georss:point>
		<geo:lat>38.046300</geo:lat>
		<geo:long>28.833800</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/acab0612870e19eefbc7b3825438bc9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ummu Haitsam Buldan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asya84.files.wordpress.com/2011/12/babbys-hand.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Merayakan Tahun Baru</title>
		<link>http://asya84.wordpress.com/2011/12/31/hukum-merayakan-tahun-baru/</link>
		<comments>http://asya84.wordpress.com/2011/12/31/hukum-merayakan-tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 08:27:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Haitsam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya non muslim]]></category>
		<category><![CDATA[hukum merayakan tahun baru]]></category>
		<category><![CDATA[masehi]]></category>
		<category><![CDATA[paganis romawi]]></category>
		<category><![CDATA[tasyabbuh bil kuffar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asya84.wordpress.com/?p=1483</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Tahun Baru Masehi Beberapa hari lagi kita akan menyaksikan perayaan besar, perayaan yang dilangsungkan secara massif oleh masyarakat di seluruh dunia. Ya, itulah perayaan tahun baru yang secara rutin disambut dan dimeriahkan dengan berbagai acara dan kemeriahan. Perayaan tahun &#8230; <a href="http://asya84.wordpress.com/2011/12/31/hukum-merayakan-tahun-baru/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1483&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800080;"><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-1484" title="" src="http://asya84.files.wordpress.com/2011/12/2012-pita1.jpg?w=500" alt=""   />Sejarah Tahun Baru Masehi</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Beberapa hari lagi kita akan menyaksikan perayaan besar, perayaan yang dilangsungkan secara <em>massif</em> oleh masyarakat di seluruh dunia. Ya, itulah perayaan <strong>tahun baru</strong> yang secara rutin disambut dan dimeriahkan dengan berbagai acara dan kemeriahan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Perayaan tahun baru masehi memiliki <a title="sejarah tahun baru" href="http://en.wikipedia.org/wiki/New_Year%27s_Day" target="_blank"><span style="color:#800080;">sejarah</span></a> panjang. Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan. Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, <em>The God of Gates, Doors, and Beeginnings</em>. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville “Les épithetes cultuels de Janus” in<em>Mélanges de l’école française de Rome (Antiquité), </em>hal. 399-400)<span id="more-1483"></span></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Fakta ini menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Acara ini terus dirayakan oleh masyarakt modern dewasa ini, walaupun mereka tidak mengetahui spirit ibadah pagan adalah latar belakang diadakannya acara ini. Mereka menyemarakkan hari ini dengan berbagai macam permainan, menikmati indahnya langit dengan semarak cahaya kembang api, dsb.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Tahun Baru = Hari Raya Orang Kafir</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Turut merayakan tahun baru statusnya sama dengan merayakan hari raya orang kafir. Dan ini hukumnya terlarang. Di antara alasan statement ini adalah:</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Pertama</strong>, turut merayakan tahun baru sama dengan meniru kebiasaan mereka. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabda,</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="color:#800080;">من تشبه بقوم فهو منهم</span></p>
<p><span style="color:#800080;">“<em>Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.</em>” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan,</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="color:#800080;">من بنى بأرض المشركين وصنع نيروزهم ومهرجاناتهم وتشبه بهم حتى يموت خسر في يوم القيامة</span></p>
<p><span style="color:#800080;">“Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Kedua</strong>, mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih (baca: memberikan loyalitas) dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah berfirman,</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="color:#800080;">يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق </span></p>
<p><span style="color:#800080;">“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..</em>” (QS. Al-Mumtahanan: 1)</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Ketiga</strong>, Hari raya merupakan bagian dari agama dan doktrin keyakinan, bukan semata perkara dunia dan hiburan. Ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk madinah,</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="color:#800080;">قدمت عليكم ولكم يومان تلعبون فيهما إن الله عز و جل أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الفطر ويوم النحر</span></p>
<p><span style="color:#800080;">“<em>Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha</em>.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan orang majusi, sumber asli dua perayaan ini. Namun mengingat dua hari tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarangnya. Sebagai gantinya, Allah berikan dua hari raya terbaik: Idul Fitri dan Idul Adha.</span><br />
<span style="color:#800080;"> Untuk itu, turut bergembira dengan perayaan orang kafir, meskipun hanya bermain-main, tanpa mengikuti ritual keagamaannya, termasuk perbuatan yang telarang, karena termasuk turut mensukseskan acara mereka.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Keempat</strong>, Allah berfirman menceritakan keadaan <em>‘ibadur rahman</em> (hamba Allah yang pilihan),</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="color:#800080;">و الذين لا يشهدون الزور …</span></p>
<p><span style="color:#800080;">“<em>Dan orang-orang yang tidak turut dalam kegiatan az-Zuur…</em>”</span><br />
<span style="color:#800080;"> Sebagian ulama menafsirkan kata ‘az-Zuur’ pada ayat di atas dengan hari raya orang kafir. Artinya berlaku sebaliknya, jika ada orang yang turut melibatkan dirinya dalam hari raya orang kafir berarti dia bukan orang baik.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">****************</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Artikel: <a href="http://www.konsultasisyariah.com/"><span style="color:#800080;">www.KonsultasiSyariah.com</span></a></strong></span></p>
<br />Filed under: <a href='http://asya84.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/category/fatawa/'>Fatawa</a> Tagged: <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/hari-raya-non-muslim/'>hari raya non muslim</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/hukum-merayakan-tahun-baru/'>hukum merayakan tahun baru</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/masehi/'>masehi</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/paganis-romawi/'>paganis romawi</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/tasyabbuh-bil-kuffar/'>tasyabbuh bil kuffar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asya84.wordpress.com/1483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asya84.wordpress.com/1483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asya84.wordpress.com/1483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asya84.wordpress.com/1483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asya84.wordpress.com/1483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asya84.wordpress.com/1483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asya84.wordpress.com/1483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asya84.wordpress.com/1483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asya84.wordpress.com/1483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asya84.wordpress.com/1483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asya84.wordpress.com/1483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asya84.wordpress.com/1483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asya84.wordpress.com/1483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asya84.wordpress.com/1483/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1483&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asya84.wordpress.com/2011/12/31/hukum-merayakan-tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>38.046300 28.833800</georss:point>
		<geo:lat>38.046300</geo:lat>
		<geo:long>28.833800</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/acab0612870e19eefbc7b3825438bc9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ummu Haitsam Buldan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asya84.files.wordpress.com/2011/12/2012-pita1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Al Manzhumah Al Jazariyah</title>
		<link>http://asya84.wordpress.com/2011/12/24/al-manzhumah-al-jazariyah/</link>
		<comments>http://asya84.wordpress.com/2011/12/24/al-manzhumah-al-jazariyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 14:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Haitsam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[al-manzhumah al-jazariyah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menerapkan tajwid]]></category>
		<category><![CDATA[ta'assuf]]></category>
		<category><![CDATA[takalluf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asya84.wordpress.com/?p=1477</guid>
		<description><![CDATA[Menerapkan tajwid adalah kewajiban, berdosalah orang yang tidak memperbaiki bacaan Al Qur&#8217;an, karena dengan tajwid Allah turunkan Al Quran dan demikianlah Dia ajarkan hingga kepada kita. Tajwid adalah hiasan dalam bacaan Al Qur&#8217;an, melafadzkan al-Qur’an dengannya adalah keindahan. Tajwid ialah &#8230; <a href="http://asya84.wordpress.com/2011/12/24/al-manzhumah-al-jazariyah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1477&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="color:#800080;"><a href="http://asya84.files.wordpress.com/2011/12/tajwid.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1478" title="" src="http://asya84.files.wordpress.com/2011/12/tajwid.png?w=300&#038;h=190" alt="" width="300" height="190" /></a>Menerapkan tajwid adalah kewajiban,</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">berdosalah orang yang tidak memperbaiki bacaan Al Qur&#8217;an,</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">karena dengan tajwid Allah turunkan Al Quran</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">dan demikianlah Dia ajarkan hingga kepada kita.</span><br />
<span style="color:#800080;"> Tajwid adalah hiasan dalam bacaan Al Qur&#8217;an,</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">melafadzkan al-Qur’an dengannya adalah keindahan.</span><br />
<span style="color:#800080;"> Tajwid ialah memberikan huruf hak-haknya,</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">berupa sifat yang di miliki berikut hukumnya,</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">dan mengembalikan huruf pada makhrajnya.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">Terlebih dalam melafadkan huruf yang serupa,</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">di sertai penyempurnaan bacaan tanpa takalluf (berlebih-lebihan),</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">dengan lembut tidak ta’assuf (memaksakan/serampangan) dalam pengucapan. </span><br />
<span style="color:#800080;"> Ketahuilah, tidak ada penghalang antara tajwid dan meninggalkannya,</span></p>
<div style="text-align:center;">
<p><span style="color:#800080;">kecuali dengan selalu berlatih agar lisan terbiasa. </span></p>
</div>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">***************</span></p>
<p><span style="color:#800080;"> Al Manzhumah Al Jazariyah, </span><br />
<span style="color:#800080;"> Muhammad Ibnu jazari Asy Syafi&#8217;i (Wafat 833 H).</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Artikel: <a href="../../../../../"><span style="color:#800080;">http://asya84.wordpress.com/</span></a></span></p>
<br />Filed under: <a href='http://asya84.wordpress.com/category/ilmu-al-quran/'>Ilmu Al-Qur'an</a> Tagged: <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/al-manzhumah-al-jazariyah/'>al-manzhumah al-jazariyah</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/hukum-menerapkan-tajwid/'>hukum menerapkan tajwid</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/taassuf/'>ta'assuf</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/takalluf/'>takalluf</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asya84.wordpress.com/1477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asya84.wordpress.com/1477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asya84.wordpress.com/1477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asya84.wordpress.com/1477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asya84.wordpress.com/1477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asya84.wordpress.com/1477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asya84.wordpress.com/1477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asya84.wordpress.com/1477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asya84.wordpress.com/1477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asya84.wordpress.com/1477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asya84.wordpress.com/1477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asya84.wordpress.com/1477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asya84.wordpress.com/1477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asya84.wordpress.com/1477/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1477&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asya84.wordpress.com/2011/12/24/al-manzhumah-al-jazariyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>38.046300 28.833800</georss:point>
		<geo:lat>38.046300</geo:lat>
		<geo:long>28.833800</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/acab0612870e19eefbc7b3825438bc9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ummu Haitsam Buldan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asya84.files.wordpress.com/2011/12/tajwid.png?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bincang-Bincang tentang Hukum Facebook</title>
		<link>http://asya84.wordpress.com/2011/12/13/bincang-bincang-tentang-hukum-facebook/</link>
		<comments>http://asya84.wordpress.com/2011/12/13/bincang-bincang-tentang-hukum-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 14:30:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Haitsam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[email]]></category>
		<category><![CDATA[friendster]]></category>
		<category><![CDATA[hukum facebook]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asya84.wordpress.com/?p=1468</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala. Belakangan  ini di antara kita pernah mendengar mengenai fatwa haramnya Facebook, sebuah layanan pertemanan di dunia maya yang hampir &#8230; <a href="http://asya84.wordpress.com/2011/12/13/bincang-bincang-tentang-hukum-facebook/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1468&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800080;"><em><img class="size-medium wp-image-1469 alignleft" src="http://asya84.files.wordpress.com/2011/12/facebook.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" />Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.</em></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala. Belakangan  ini di antara kita pernah mendengar mengenai fatwa haramnya Facebook, sebuah layanan pertemanan di dunia maya yang hampir serupa dengan Friendster dan layanan pertemanan lainnya. Banyak yang bingung dalam menyikapi fatwa semacam ini. Namun, bagi orang yang diberi anugerah ilmu oleh Allah tentu tidak akan bingung dalam menyikapi fatwa tersebut.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Dalam tulisan yang singkat ini, dengan izin dan pertolongan Allah kami akan membahas tema yang cukup menarik ini, yang sempat membuat sebagian orang kaget. Tetapi sebelumnya, ada beberapa <em>preface</em> yang akan kami kemukakan.Semoga Allah memudahkannya.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Dua Kaedah yang Mesti Diperhatikan<span id="more-1468"></span></strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Saudaraku, yang semoga selalu mendapatkan taufik dan hidayah Allah Ta’ala. Dari hasil penelitian dari Al Qur’an dan As Sunnah, para ulama membuat dua kaedah ushul fiqih berikut ini:</span></p>
<p align="center"><span style="color:#800080;"><em>Hukum asal untuk perkara ibadah adalah terlarang dan tidaklah disyari’atkan sampai Allah dan Rasul-Nya mensyari’atkan.</em></span></p>
<p align="center"><span style="color:#800080;"><em>Sebaliknya, hukum asal untuk perkara ‘aadat (non ibadah) adalah dibolehkan dan tidak diharamkan sampai Allah dan Rasul-Nya melarangnya.</em></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Apa yang dimaksud dua kaedah di atas?</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Untuk kaedah pertama yaitu hukum asal setiap perkara ibadah adalah terlarang sampai ada dalil yang mensyariatkannya. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa ibadah adalah sesuatu yang diperintahkan atau dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang memerintahkan atau menganjurkan suatu amalan yang tidak ditunjukkan oleh Al Qur’an dan hadits, maka orang seperti ini berarti telah mengada-ada dalam beragama (baca: berbuat bid’ah). Amalan yang dilakukan oleh orang semacam ini pun tertolak karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,</span></p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="color:#800080;">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</span></p>
<p><span style="color:#800080;">“<em>Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.</em>” (HR. Muslim no. 1718)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Namun, untuk perkara ‘aadat (non ibadah) seperti makanan, minuman, pakaian, pekerjaan, dan mu’amalat, hukum asalnya adalah diperbolehkan kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya. Dalil untuk kaedah kedua ini adalah firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="color:#800080;">هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً</span></p>
<p><span style="color:#800080;">“<em>Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu</em>”. (QS. Al Baqarah: 29). Maksudnya, adalah Allah menciptakan segala yang ada di muka bumi ini untuk dimanfaatkan. Itu berarti diperbolehkan selama tidak dilarangkan oleh syari’at dan tidak mendatangkan bahaya.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Allah Ta’ala juga berfirman,</span></p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="color:#800080;">قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِيَ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالْطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِي لِلَّذِينَ آمَنُواْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>“Katakanlah: &#8220;Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?&#8221; Katakanlah: &#8220;Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat .&#8221; Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.”</em> (QS. Al A’raaf: 32). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengingkari siapa saja yang mengharamkan makanan, minuman, pakaian, dan semacamnya.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Jadi, jika ada yang menanyakan mengenai hukum makanan “tahu”? Apa hukumnya? Maka jawabannya adalah “tahu” itu halal dan diperbolehkan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Jika ada yang menanyakan lagi mengenai hukum minuman “Coca-cola”? Apa hukumnya? Maka jawabannya juga sama yaitu halal dan diperbolehkan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Begitu pula jika ada yang menanyakan mengenai jual beli laptop? Apa hukumnya? Jawabannya adalah halal dan diperbolehkan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Jadi, untuk perkara non ibadah seperti tadi, hukum asalnya adalah halal dan diperbolehkan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Makan bangkai menjadi haram, karena dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu pula pakaian sutra bagi laki-laki diharamkan karena ada dalil yang menunjukkan demikian. Namun asalnya untuk perkara non ibadah adalah halal dan diperbolehkan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Oleh karena itu, jika ada yang menanyakan pada kami bagaimana hukum Facebook? Maka kami jawab bahwa hukum asal Facebook adalah sebagaimana handphone, email, website, blog, radio dan alat-alat teknologi lainnya yaitu sama-sama mubah dan diperbolehkan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Hukum Sarana sama dengan Hukum Tujuan</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Perkara mubah (yang dibolehkan) itu ada dua macam. Ada perkara mubah yang dibolehkan dilihat dari dzatnya dan ada pula perkara mubah yang menjadi wasilah (perantara) kepada sesuatu yang diperintahkan atau sesuatu yang dilarang.</span></p>
<p align="center"><span style="color:#800080;">Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di –rahimahullah- mengatakan,</span></p>
<p align="center"><span style="color:#800080;"><em>“Perkara mubah dibolehkan dan diizinkan oleh syari’at untuk dilakukan. Namun, perkara mubah itu dapat pula mengantarkan kepada hal-hal yang baik maka dia dikelompokkan dalam hal-hal yang diperintahkan. Perkara mubah terkadang pula mengantarkan pada hal yang jelek, maka dia dikelompokkan dalam hal-hal yang dilarang.</em></span></p>
<p align="center"><span style="color:#800080;"><em>Inilah landasan yang harus diketahui setiap muslim bahwa <span style="text-decoration:underline;">hukum sarana sama dengan hukum tujuan (al wasa-il laha hukmul maqhosid).</span><strong>”</strong></em></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Maksud perkataan beliau di atas:</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Apabila perkara mubah tersebut mengantarkan pada kebaikan, maka perkara mubah tersebut diperintahkan, baik dengan perintah yang wajib atau pun yang sunnah. Orang yang melakukan mubah seperti ini akan diberi ganjaran sesuai dengan niatnya.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Misalnya : Tidur adalah suatu hal yang mubah. Namun, jika tidur itu bisa membantu dalam melakukan ketaatan pada Allah atau bisa membantu dalam mencari rizki, maka tidur tersebut menjadi mustahab (dianjurkan/disunnahkan) dan akan diberi ganjaran jika diniatkan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Begitu pula jika perkara mubah dapat mengantarkan pada sesuatu yang dilarang, maka hukumnya pun menjadi terlarang, baik dengan larangan haram maupun makruh.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Misalnya : Terlarang menjual barang yang sebenarnya mubah namun nantinya akan digunakan untuk maksiat. Seperti menjual anggur untuk dijadikan khomr.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Contoh lainnya adalah makan dan minum dari yang thoyib dan mubah, namun secara berlebihan sampai merusak sistem pencernaan, maka ini sebaiknya ditinggalkan (makruh).</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Bersenda gurau atau guyon juga asalnya adalah mubah.  Sebagian ulama mengatakan, “<em>Canda itu bagaikan garam untuk makanan. Jika terlalu banyak tidak enak, terlalu sedikit juga tidak enak</em>.” Jadi, jika guyon tersebut sampai melalaikan dari perkara yang wajib seperti shalat atau mengganggu orang lain, maka guyon seperti ini menjadi terlarang.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Oleh karena itu, jika sudah ditetapkan hukum pada tujuan, maka sarana (perantara) menuju tujuan tadi akan memiliki hukum yang sama. Perantara pada sesuatu yang diperintahkan, maka perantara tersebut diperintahkan. Begitu pula perantara pada sesuatu yang dilarang, maka perantara tersebut dilarang pula. Misalnya tujuan tersebut wajib, maka sarana yang mengantarkan kepada yang wajib ini ikut menjadi wajib.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Contohnya : Menunaikan shalat lima waktu adalah sebagai tujuan. Dan berjalan ke tempat shalat (masjid) adalah wasilah (perantara). Maka karena tujuan tadi wajib, maka wasilah di sini juga ikut menjadi wajib. Ini berlaku untuk perkara sunnah dan seterusnya.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Intinya, Hukum Facebook adalah Tergantung Pemanfaatannya</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Jadi intinya, hukum facebook adalah tergantung pemanfaatannya. Kalau pemanfaatannya adalah untuk perkara yang sia-sia dan tidak bermanfaat, maka facebook pun bernilai sia-sia dan hanya membuang-buang waktu. Begitu pula jika facebook digunakan untuk perkara yang haram, maka hukumnya pun menjadi haram. Hal ini semua termasuk dalam kaedah “<em>al wasa-il laha hukmul maqhosid</em> (hukum sarana sama dengan hukum tujuan).” Di bawah kaedah ini terdapat kaedah derivat atau turunan lainnya yaitu:</span></p>
<ol start="1">
<li><span style="color:#800080;"><em>Maa laa yatimmul wajibu illah bihi fa huwa wajib</em> (Suatu yang wajib yang tidak sempurna kecuali dengan sarana ini, maka sarana ini menjadi wajib)</span></li>
<li><span style="color:#800080;"><em>Maa laa yatimmul masnun illah bihi fa huwa masnun </em>(Suatu yang sunnah yang tidak sempurna kecuali dengan sarana ini, maka sarana ini menjadi sunnah)</span></li>
<li><span style="color:#800080;"><em>Maa yatawaqqoful haromu ‘alaihi fa huwa haromun </em>(Suatu yang bisa menyebabkan terjerumus pada yang haram, maka sarana menuju yang haram tersebut menjadi haram)</span></li>
<li><span style="color:#800080;"><em>Wasail makruh makruhatun </em>(Perantara kepada perkara yang makruh juga dinilah makruh)</span></li>
</ol>
<p><span style="color:#800080;">Maka lihatlah kaedah derivat yang ketiga di atas. Intinya, jika facebook digunakan untuk yang haram dan sia-sia, maka facebook menjadi haram dan terlarang.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Kita dapat melihat bahwa tidak sedikit di antara pengguna facebook yang melakukan hubungan gelap di luar nikah di dunia maya. Padahal lawan jenis yang diajak berhubungan bukanlah mahram dan bukan istri. Sungguh, banyak terjadi perselingkuhan karena kasus semacam ini. Jika memang facebook banyak digunakan untuk tujuan-tujuan semacam ini, maka sungguh kami katakan, “<em>Hukum facebook sebagaimana hukum pemanfaatannya. Kalau dimanfaatkan untuk yang haram, maka facebook pun menjadi haram</em>.”</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Waktu yang Sia-sia Di Depan Facebook</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Saudaraku, inilah yang kami ingatkan untuk para pengguna facebook. Ingatlah waktumu! Kebanyakan orang betah berjam-jam di depan facebook, bisa sampai 5 jam bahkan seharian, namun mereka begitu tidak betah di depan Al Qur’an dan majelis ilmu. Sungguh, ini yang kami sayangkan bagi saudara-saudaraku yang begitu gandrung dengan facebook. Oleh karena itu, sadarlah!!</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Semoga beberapa nasehat ulama kembali menyadarkanmu tentang waktu dan hidupmu.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan, “Aku pernah bersama dengan seorang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Lanjutan dari perkataan Imam Asy Syafi’i di atas, “Kemudian orang sufi tersebut menyebutkan perkataan lain: <em>Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil)</em>.” (<em>Al Jawabul Kafi</em>, 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi dan penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung). Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak.”</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Ingatlah &#8230; kematian lebih layak bagi orang yang menyia-nyiakan waktu.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Ibnul Qayyim mengatakan, “Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.” (Al Jawabul Kafi, 109)</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Marilah Memanfaatkan Facebook untuk Dakwah</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Inilah pemanfaatan yang paling baik yaitu facebook dimanfaatkan untuk dakwah. Betapa banyak orang yang senang dikirimi nasehat agama yang dibaca di inbox, note atau melalui link mereka. Banyak yang sadar dan kembali kepada jalan kebenaran karena membaca nasehat-nasehat tersebut.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Oleh karena itu, jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain apalagi dalam masalah agama, yang tentu saja dengan bekal ini akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="color:#800080;">خيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ</span></p>
<p><span style="color:#800080;">“<em>Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi orang lain.</em>” (Al Jaami’ Ash Shogir, no. 11608)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Dari Abu Mas’ud Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="color:#800080;">مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ</span></p>
<p><span style="color:#800080;">“<em>Barangsiapa memberi petunjuk pada orang lain, maka dia mendapat ganjaran sebagaimana ganjaran orang yang melakukannya.</em>” (HR. Muslim)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>juga bersabda,</span></p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="color:#800080;">لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang melalui perantaraanmu maka itu lebih baik bagimu daripada mendapatkan unta merah (harta yang paling berharga orang Arab saat itu).&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Lihatlah saudaraku, bagaimana jika tulisan kita dalam note, status, atau link di facebook dibaca oleh 5, 1o bahkan ratusan orang, lalu mereka amalkan, betapa banyak pahala yang kita peroleh. Jadi, facebook jika dimanfaatkan untuk dakwah semacam ini, sungguh sangat bermanfaat.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Penutup: Nasehat bagi Para Pengguna Facebook</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Imam Asy Syafi’I mengatakan, “<em>Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil)”.</em>( <em>Al Jawabul Kafi</em>, 109)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Semoga kita selalu disibukkan dengan hal yang dapat memberikan manfaat pada orang lain. Alangkah bagusnya jika status, note dan link yang kita berikan pada saudara-saudara kita berisi siraman-siraman rohani. Itu lebih baik dan lebih bermanfaat dibandinga dengan mengisi status di FB dengan hal-hal yang sia-sia atau bahkan dosa.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Kami hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga Allah memberikan taufik dan hidayah bagi orang yang membaca tulisan ini. Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk memanfaatkan waktu dengan baik, dalam hal-hal yang bermanfaat.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</em></span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Rujukan:</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>Al Jawabul Kafi</em>, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>Al Qowa’id wal Ushul Al Jaami’ah</em>, Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Darul Wathon Lin Nasyr</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>Jam’ul Mahshul fi Syarhi Risalah Ibni Sya’di fil Ushul</em>, Abdullah bin Sholeh Al Fauzan, Dar Al Muslim</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>Risalah Lathifah, </em>Abdurrahman bin Nashir As Sa’di</span></p>
<p><span style="color:#800080;">***</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Artikel:  <a href="http://rumaysho.com/"><span style="color:#800080;">http://rumaysho.com/</span></a></span></p>
<br />Filed under: <a href='http://asya84.wordpress.com/category/fatawa/'>Fatawa</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/category/renungan-2/'>Renungan</a> Tagged: <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/blog/'>blog</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/dunia-maya/'>dunia maya</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/email/'>email</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/friendster/'>friendster</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/hukum-facebook/'>hukum facebook</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/internet/'>internet</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asya84.wordpress.com/1468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asya84.wordpress.com/1468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asya84.wordpress.com/1468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asya84.wordpress.com/1468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asya84.wordpress.com/1468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asya84.wordpress.com/1468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asya84.wordpress.com/1468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asya84.wordpress.com/1468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asya84.wordpress.com/1468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asya84.wordpress.com/1468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asya84.wordpress.com/1468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asya84.wordpress.com/1468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asya84.wordpress.com/1468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asya84.wordpress.com/1468/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1468&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asya84.wordpress.com/2011/12/13/bincang-bincang-tentang-hukum-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>38.046300 28.833800</georss:point>
		<geo:lat>38.046300</geo:lat>
		<geo:long>28.833800</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/acab0612870e19eefbc7b3825438bc9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ummu Haitsam Buldan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asya84.files.wordpress.com/2011/12/facebook.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mengaku Muslim tapi Setia kepada Kafirin</title>
		<link>http://asya84.wordpress.com/2011/12/10/mengaku-muslim-tapi-setia-kepada-kafirin/</link>
		<comments>http://asya84.wordpress.com/2011/12/10/mengaku-muslim-tapi-setia-kepada-kafirin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 16:27:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Haitsam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fawa&#039;id]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[gejala setia terhadap kafirin]]></category>
		<category><![CDATA[hijrah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menyerupai orang kafir]]></category>
		<category><![CDATA[tasyabbuh bi-alkuffar]]></category>
		<category><![CDATA[wala']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asya84.wordpress.com/?p=1463</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini Ummat Islam diliputi keadaan yang menuntut kehati-hatian yang sangat. Kalau tidak hati-hati, maka akan terjerumus sangat dalam, karena kemungkinan yang diucapkan oleh lisan, diperbuat oleh anggota badan, dan diyakini oleh hati, kemungkinan justru hal-hal yang sangat dilarang Islam. &#8230; <a href="http://asya84.wordpress.com/2011/12/10/mengaku-muslim-tapi-setia-kepada-kafirin/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1463&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800080;"><a href="http://asya84.files.wordpress.com/2011/12/tasyabbuh-bi-al-kuffar.jpg"><span style="color:#800080;"><img class="size-medium wp-image-1464 alignleft" src="http://asya84.files.wordpress.com/2011/12/tasyabbuh-bi-al-kuffar.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" width="300" height="224" /></span></a>Akhir-akhir ini Ummat Islam diliputi keadaan yang menuntut kehati-hatian yang sangat. Kalau tidak hati-hati, maka akan terjerumus sangat dalam, karena kemungkinan yang diucapkan oleh lisan, diperbuat oleh anggota badan, dan diyakini oleh hati, kemungkinan justru hal-hal yang sangat dilarang Islam. Dalam hal ini yang akan kita bicarakan adalah merajalelanya gejala setia kepada orang kafir, yang dalam Islam sangat dilarang, namun di masyarakat justru tampak semakin berkembang.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Untuk mengetahui bagaimana gejala mencintai atau setia atau loyal terhadap orang kafir, mari kita simak uraian ulama terkemuka saat ini yakni Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, dalam bab مظاهر موالاة الكفار Madhaahiru Muwaalatil Kuffaar – gejala-gejala setia kepada orang-orang kafir berikut ini.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Di antara gejala setia terhadap Kafirin</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">bentuk-bentuk kesetiaan atau loyalitas atau bahasa Islamnya wala&#8217; terhadap kafirin sungguh telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, di antaranya akan diuraikan 10 gejala sebagai berikut:<span id="more-1463"></span></span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>1. Menyerupai kafirin dalam berpakaian, ucapan, sikap dan lainnya.</strong> Itu menunjukkan kecintaan pada mereka, karena Rasulullah SAW bersabda:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ * (أبو داود)</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.&#8221;</em> (HR Abu Daud, dan At-Thabrani dalam Al-Awsath, dari Hudzaifah, berderajat hasan)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Oleh karena itu diharamkan menyerupai orang-orang kafir dalam hal yang menjadi ciri khusus mereka, yang berupa tradisi atau adat kebiasaan, ibadah, symbol dan akhlak mereka seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, berbicara dengan bahasa mereka kecuali ada kebutuhan yang mendesak, demikian juga dengan mode berpakaian mereka, makan, minum dan sebagainya.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>2. Tinggal di negeri kafir dan tidak pindah ke negeri Muslimin untuk menyelamatkan ad-dien.</strong> Berdiamnya di negeri kafir menunjukkan loyalitasnya terhadap orang kafir. Allah Ta&#8217;ala mengharamkan bermukimnya orang Muslim di antara orang-orang kafir apabila ia mampu untuk berhijrah.</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (النساء : 97)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, &#8216;Dalam keadaan bagaimana kamu ini?&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).&#8217; Para malaikat berkata, &#8216;Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?&#8217; Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.&#8221; (QS. An-Nisaa&#8217; [4] : 97)</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا (النساء:98)</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).&#8221;</em> (QS. An-Nisaa&#8217; [4] : 98)</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">فَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا (النساء:99)</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Mereka itu, mudah-mudahan Allah mema`afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.&#8221;</em> (QS. An-Nisaa&#8217; [4] : 99)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Allah <em>Ta&#8217;ala</em> tidak menerima alasan setiap Muslim yang bermukim di negara orang kafir kecuali mereka yang lemah, yang tidak mampu untuk berhijrah, juga orang-orang yang bermukimnya ada kemaslahatan ad-dien, misalnya berda&#8217;wah dan menyebarkan Islam di negeri mereka.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>3.Bepergian ke negeri kafir dengan tujuan wisata dan rekreasi.</strong> Hal yang demikian haram hukumnya kecuali untuk hal yang sangat diperlukan, seperti berobat, berdagang, studi tentang sesuatu yang bermanfaat yang tidak dapat tercapai kecuali dengan mengadakan perjalanan ke negeri mereka, maka hal itu diperbolehkan sesuai dengan kebutuhan. Jika kebutuhannya telah terpenuhi, ia wajib kembali ke negeri kaum muslimin.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Dan disyaratkan pula untuk diperbolehkannya mengadakan perjalanan semacam ini, ia mampu menampakkan agamanya, bangga dengan keislamannya, menjauhi tempat-tempat kejahatan, waspada terhadap penyelinapan musuh-musuhnya dan tipu daya mereka. Dan diperbolehkan juga untuk bepergian atau wajib pergi ke negeri mereka apabila dimaksudkan untuk berdakwah di jalan Allah.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>4. Membantu kafirin untuk mengalahkan Muslimin, memuji-muji dan membela mereka.</strong> Ini merupakan bagian dari rusaknya aqidah, dan penyebab kemurtadan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>5. Meminta bantuan kepada kaum kafir, mempercayakan urusan kepada mereka</strong>, memberikan kekuasaan kepada mereka agar menduduki jabatan yang di dalamnya ada banyak perkara yang menyangkut urusan kaum muslimin, serta menjadikan mereka sebagai kawan terdekat dan teman dalam bermusyawarah.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ(ال عمران:118)</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.&#8221;</em> (QS. Ali Imran [3] : 118)</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ(ال عمران:119)</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata, &#8216;Kami beriman&#8217;; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka), &#8216;Matilah kamu karena kemarahanmu itu&#8217;. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.&#8221;</em> (QS. Ali Imran [3] : 119)</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ (ال عمران: 120)</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.&#8221;</em> (QS. Ali Imran [3] : 120)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Ayat-ayat yang mulia ini mengungkapkan hakekat kaum kafir dan apa yang mereka sembunyikan dari kaum muslimin yang berupa kebencian dan siasat untuk melawan kaum muslimin seperti tipu daya dan pengkhianatan. Dan ayat ini juga mengungkapkan tentang kesenangan mereka bila kaum muslimin mendapat musibah. Dengan berbagai cara mengganggu ummat Islam. Bahkan kaum kuffar tersebut memanfaatkan kepercayaan ummat Islam kepada mereka dengan menyusun rencana untuk memojokkan dan membahayakan ummat Islam.</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">وَرَوَى الْإِمَامُ أَحْمَد بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ : قُلْت لِعُمَرِ : إنَّ لِي كَاتِبًا نَصْرَانِيًّا قَالَ : ما لَك قَاتَلَك اللَّهُ أَمَا سَمِعْت اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ : { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ } أَلَا اتَّخَذْت حَنِيفِيًّا قَالَ : قُلْت : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لِي كِتَابَتُهُ وَلَهُ دِينُهُ قَالَ : لَا أُكْرِمُهُمْ إذْ أَهَانَهُمْ اللَّهُ وَلَا أُعِزُّهُمْ إذْ أَذَلَّهُمْ اللَّهُ وَلَا أُدْنِيهِمْ إذْ أَقْصَاهُمْ اللَّهُ</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Imam Ahmad telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhu, dia berkata kepada ‘Umar radhiyallahu anhu, &#8220;Saya memiliki sekretaris yang beragama Nashrani&#8221;. ‘Umar berkata, &#8220;Mengapa kamu berbuat demikian? Celakalah engkau. Tidakkah engkau mendengar Allah Ta’ala berfirman:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ …) (المائدة: 51)</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain…&#8221;</em> (QS. Al-Ma’idah [5] : 51)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Kenapa tidak engkau ambil seorang muslim sebagai sekretarismu?&#8217; Abu Musa menjawab, &#8216;Wahai amirul mukminin, saya butuhkan tulisannya dan urusan agama terserah dia&#8217;. Umar berkata:</span></p>
<p><span style="color:#800080;">لَا أُكْرِمُهُمْ إذْ أَهَانَهُمْ اللَّهُ وَلَا أُعِزُّهُمْ إذْ أَذَلَّهُمْ اللَّهُ وَلَا أُدْنِيهِمْ إذْ أَقْصَاهُمْ اللَّهُ</span></p>
<p><span style="color:#800080;">&#8216;Saya tidak akan memuliakan mereka karena Allah telah menghinakan mereka, saya tidak akan mengangkat derajat mereka karena Allah telah merendahkan mereka dan saya tidak akan mendekati mereka karena Allah telah menjauhkan mereka&#8217;.&#8221;</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى بَدْرٍ حَتَّى إِذَا كَانَ بِحَرَّةِ الْوَبَرَةِ لَحِقَهُ رَجُلٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ يَذْكُرُ مِنْهُ جُرْأَةً وَنَجْدَةً فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَسْتَ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ لَا قَالَ ارْجِعْ فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ. (مسلم)</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>Bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam keluar menuju Badar. Tiba-tiba seseorang dari kaum musyrikin menguntitnya dan berhasil menyusul beliau ketika sampai di Harrat alwabarah, lalu dia berkata, &#8220;Sesungguhnya aku ingin mengikuti kamu dan aku rela berkorban untuk kamu&#8221;. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Berimankah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya?&#8221; dia berkata, &#8220;Tidak&#8221;. Beliau bersabda:</em></span></p>
<p><span style="color:#800080;">ارْجِعْ فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Kembalilah, karena saya tidak akan meminta pertolongan kepada orang musyrik&#8221;.</em> (HR Ahmad dan Muslim)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Dari nash-nash tersebut di atas, jelas bagi kita tentang haramnya mengangkat kaum kafir untuk menduduki jabatan pekerjaan kaum muslimin yang mereka nanti akan mengokohkan kedudukannya dengan sarana yang ada padanya untuk mengetahui keadaan kaum muslimin dan membuka rahasia-rahasia mereka atau menipu dan menjerumuskan ummat Islam ke dalam kerugian dan kebinasaan. Namun sayang hal ini banyak terjadi pula di negeri kaum muslimin, negeri Haramain Syarifain (Saudi Arabia) yang menjadikan kaum kuffar sebagai pekerja-pekerja, sopir-sopir, pelayan-pelayan, guru-guru di rumah-rumah yang bergaul bersama mereka keluarga muslim atau membaur dengan kaum muslimin di negerinya.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>6. Menggunakan kalender kafirin, khususnya yang mencatat hari-hari suci dan hari-hari besar mereka</strong>, seperti kalender Masehi yang menyebutkan peringatan hari Kelahiran Al-Masih <em>‘alaihissalam</em> yang hari raya itu adalah bid&#8217;ah yang mereka ada-adakan, dan bukanlah dari ajaran Al-Masih (Nabi ‘Isa) <em>‘alaihissalam</em>. Karena itu menggunakan kalender ini berarti ikut berpartisipasi dalam menghidupkan syi’ar dan hari raya mereka. Hendaknya kita menghindari masalah ini, karena para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> pun berpaling dari kalender orang-orang kafir dan mereka membuat kalender sendiri yang dimulai dengan peristiwa hijrahnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pada masa khalifah Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Hal tersebut menunjukkan wajibnya menyelisihi kaum kuffar dalam masalah ini dan ciri-ciri khas mereka. Semoga Allah <em>Ta’ala</em> menolong kita.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>7. Ikut serta di hari-hari besar kafirin, membantu penyelenggaraan upacara mereka</strong>, mengucapi selamat pada hari itu, mendatangi undangan upacara mereka pada hari itu. Firman Allah:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ (الفرقان:72)</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu.&#8221;</em> (QS. Al-Furqon [25] : 72); telah ditafsirkan bahwa dari sifat hamba-hamba adalah sesungguhnya mereka tidak mendatangi hari-hari besar orang kafir.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>8. Memuji, terpesona, kagum terhadap kafirin.</strong></span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى (طه:131)</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.&#8221;</em> (QS. Thoha [20] : 131)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Yang demikian itu bukan berarti orang Islam tidak boleh mencari tahu tentang sebab-sebab kekuatan mereka, seperti: kemajuan teknologi, teknik militer dan keberhasilan ekonomi mereka, akan tetapi yang demikian itu justru dituntut.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</span></p>
<p><span style="color:#800080;">{ وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ }</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Bersiaplah untuk menghadapi mereka dengan kekuatan apa yang kamu sanggupi.&#8221;</em>(QS. Al-Anfaal [8] : 7)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Pada dasarnya beberapa hal yang bermanfaat dan rahasia-rahasia alam semesta yang ada adalah untuk kaum muslimin. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِيَ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالْطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِي لِلَّذِينَ آمَنُواْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ )الأعراف:32)</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Katakanlah, &#8216;Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan juga rejeki yang baik?&#8217;. Katakanlah, &#8216;Semua itu disediakan bagi orang-orang yang beriman di dunia dan khusus untuk mereka saja di hari kiamat&#8217;.&#8221;</em> (QS. Al-A’raf [7] : 32)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Firman Allah <em>Ta’ala</em>:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لَّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ  (الجاثية:13).</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.&#8221;</em> (QS. Al-Jatsiyah [45] : 13)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً  (البقرة:29)</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Dialah yang telah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.&#8221;</em> (QS. Al-Baqoroh [2] : 29)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Oleh karena itu kaum muslimin wajib saling berlomba dalam usaha memperoleh beberapa teknologi dan potensi yang ada, jangan sampai ditemukan orang kafir agar muslimin tidak tergantung kepada orang kafir dalam memperoleh teknologi tersebut. Bahkan dianjurkan agar Muslimin memiliki industri-industri dan menciptakan perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>9.Memberi nama dengan nama-nama orang kafir.</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;">Banyak di antara kaum muslimin yang memberi nama kepada anak-anaknya baik laki-laki maupun perempuan dengan nama-nama asing dan meninggalkan nama bapaknya, ibunya, kakeknya, neneknya dan nama-nama yang dikenal di masyarakatnya. Padahal Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</span></p>
<p><span style="color:#800080;">إِنَّ خَيْرَ الأَسْمَاءِ عَبْدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَالْحَارِثُ.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Sesungguhnya sebaik-baiknya nama adalah Abdullah, Abdur Rahman, dan Al-Harits&#8221;.</em> (HR Ahmad, shahih menurut Syaikh Syu’aib Al-Anauth)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Perubahan nama-nama tersebut berakibat hilangnya kesatuan dengan generasi sebelumnya, juga menghapus identitas nama keluarga tertentu yang biasa dikenal dengan nama-nama khas mereka.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>10. Berdoa memintakan ampun dan rahmat bagi kafirin.</strong> Allah telah mengharamkan hal yang demikian ini dalam firman-Nya:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color:#800080;">مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيم ِ(التوبة:113).</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>&#8220;Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam.&#8221;</em> (QS. At-Taubah [9] : 113)</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Karena dalam permasalahan ini mengandung adanya suatu rasa kecintaan terhadap mereka dan membenarkan sesuatu yang ada pada mereka.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Demikianlah penjelasan Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, ulama terkemuka abad ini, dalam bab مظاهر موالاة الكفار Madhaahiru Muwaalatil Kuffaar —gejala-gejala setia kepada orang-orang kafir— dalam buku:</span></p>
<p><span style="color:#800080;">الإرشاد إلى صحيح الاعتقاد والرد على أهل الشرك والإلحاد</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Al-Irsyadu isla shahiihil I’tiqaad warraddi ‘alaa ahlis syirki wal ilhaad.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Perlu sangat diperhatikan, terutama dua gejala ini, yaitu gejala keempat dan kelima:</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>4. Membantu kafirin untuk mengalahkan Muslimin</strong>, memuji-muji dan membela mereka. Ini merupakan bagian dari rusaknya aqidah, dan penyebab kemurtadan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>5. Meminta bantuan kepada kaum kafir, mempercayakan urusan kepada mereka</strong>, memberikan kekuasaan kepada mereka agar menduduki jabatan yang di dalamnya ada banyak perkara yang menyangkut urusan kaum muslimin, serta menjadikan mereka sebagai kawan terdekat dan teman dalam bermusyawarah.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Dua gejala itu disamping mengancam hancur leburnya keimanan pelakunya, masih pula sangat merugikan kaum muslimin pada umumnya. Maka wajib dihindari sama sekali. Adapun seandainya telah menggejala di masayarakat, maka mari kita berantas sekuat-kuatnya secara tolong menolong dalam kebaikan untuk memberantas kemunkaran. Apalagi masalah ini sangat membahayakan Ummat Islam secara keseluruhan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">Semoga Allah subahanahu wa ta’ala berkenan memberi hidayah kepada kita semua sehingga kita mampu memahamainya dengan baik dan menghindarinya sejauh-jauhnya, karena gejala-gejala itu sangat membahayakan keimanan kita namun tampaknya justru memang menggejala di mana-mana. Hanya Allah lah tempat kita berlindung dari segala bahaya terutama bahaya mencintai kekafiran yang seolah menggoda manusia setiap saat dan bahkan dihiasi dengan kata-kata indah nan menawan sehingga banyak menjerumuskan orang. <em>Na’udzubillahi min dzalik.</em> Kami berlindung dari hal yang demikian.</span></p>
<p><span style="color:#800080;">**************</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><em>Oleh: </em><strong>Ust. Hartono Ahmad Jaiz</strong></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://asya84.wordpress.com/category/fawaid/'>Fawa&#039;id</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/category/tazkiyatun-nufus/'>Tazkiyatun Nufus</a> Tagged: <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/gejala-setia-terhadap-kafirin/'>gejala setia terhadap kafirin</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/hijrah/'>hijrah</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/hukum-menyerupai-orang-kafir/'>hukum menyerupai orang kafir</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/tasyabbuh-bi-alkuffar/'>tasyabbuh bi-alkuffar</a>, <a href='http://asya84.wordpress.com/tag/wala/'>wala'</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asya84.wordpress.com/1463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asya84.wordpress.com/1463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asya84.wordpress.com/1463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asya84.wordpress.com/1463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asya84.wordpress.com/1463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asya84.wordpress.com/1463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asya84.wordpress.com/1463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asya84.wordpress.com/1463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asya84.wordpress.com/1463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asya84.wordpress.com/1463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asya84.wordpress.com/1463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asya84.wordpress.com/1463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asya84.wordpress.com/1463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asya84.wordpress.com/1463/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asya84.wordpress.com&amp;blog=8197087&amp;post=1463&amp;subd=asya84&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asya84.wordpress.com/2011/12/10/mengaku-muslim-tapi-setia-kepada-kafirin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>38.046300 28.833800</georss:point>
		<geo:lat>38.046300</geo:lat>
		<geo:long>28.833800</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/acab0612870e19eefbc7b3825438bc9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ummu Haitsam Buldan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asya84.files.wordpress.com/2011/12/tasyabbuh-bi-al-kuffar.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
