PENGHAPUS-PENGHAPUS DOSA

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat serta salam untuk Nabi kita Muhammad yang tiada lagi nabi setelahnya. Amma ba’du:

Sesungguhnya, hal-hal yang dapat menghapus dosa itu banyak dan beragam jenisnya. diantaranya, sebagai berikut:

Pertama: Istighfar (Permohonan Ampun)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Istighfar termasuk penghapus dosa.” Beliau menyebutkan hal ini di dalam kitabnya, Majmu’al-Fatawa. Beliau pun pernah berwasiat kepada Abu al-Qasim al-Maghribi: “Sesungguhnya, istighfar itu bisa saja menghapus dosa, tanpa disertai taubat.” Pendapat beliau ini memang berbeda dengan pandangan sebagian ulama lainnya, di mana mereka mengatakan: “Sesungguhnya, istighfar tanpa taubat itu tak ada gunanya.”

Padahal, di belakang amal istighfar itu terdapat keutamaan, di belakangnya terdapat faedah, dan di belakangnya terdapat manfaat yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut lafadz istighfar dan lafadz taubat, di dalam Al-Quran, dengan tiga keadaan: Kadang-kadang, Dia menyebut lafadz istighfar dan taubat secara bersamaan; kadang-kadang menyebut lafadz taubat saja tanpa disertai istighfar; dan kadang-kadang, menyebut lafadz istighfar saja tanpa disertai taubat.

Atas dasar itulah, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkesimpulan, bahwasannya memohon ampun dengan istighfar itu bermanfaat bagi orang yang melakukan dosa, sekalipun tanpa taubat. Maka, beliau pun senantiasa beristighfar pada setiap waktunya. Karena istighfar itu, walaupun tanpa taubat tetap berguna dari sisi peluangnya untuk dikabulkan.

Kedua: Sabar dalam Menghadapi Musibah-musibah

Diantara keberuntungan hidup sebagai seorang Mukmin, dan diantara kasih-sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya yang dha’if ini, adalah bahwasannya Dia menjadikan setiap penderitaan, kesedihan, dan kesumpekan hidup seorang Mukmin sebagai sarana kafarat (penghapus) dosa dan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya.

Berikut ini akan disebutkan beberapa dalil yang dapat menguatkan prinsip ini, serta membuktikan kebenarannya:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا(123)

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (Qs. An-Nisa’: 123)

Firman-Nya dalam surat An-Nisa’ ini, sungguh luar biasa keagungannya.

Sebab turunnya ayat ini, adalah ketika sekelompok kaum Anshar berdialog dengan sekelompok orang Yahudi. Berkatalah orang-orang Yahudi: “Kami tak akan disiksa, karena kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihnya.” Mereka mengada-ada dan berdusta terhadap Allah;

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: ‘Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya’. Katakanlah: ‘Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?’ (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya.” (Qs. Al-Maidah: 18)

Jika kamu benar, mengapakah kamu disiksa  di dalam neraka?

Jika apa yang kamu nyatakan itu benar, mengapakah malapetaka, musibah-musibah, dan tragedi-tragedi buruk menimpamu?

Sesungguhnya, kalian berdusta atas nama Allah, dan mengada-ada dalam syari’at-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian menurunkan ayat ini, sebagai pembelaan terhadap orang-orang Anshar;

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا(123)

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (Qs. An-Nisa’: 123)

Maka, ganjaran Allah tak akan didapatkan dengan angan-angan kalian, wahai kaum Anshar, dan tidak pula oleh angan-angan orang-orang Yahudi ahli kitab itu.

Para mufassir (ahli tafsir) dari ahlussunnah, menyebutkan perihal Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, bahwasannya beliau membaca ayat ini dalam shalat malamnya yang sangat panjang, di masjidil haram Mekah. Sungguh, beliau menangis sejak ba’da shalat Isya hingga fajar, sambil mengulang-ulang bacaan ayat ini;

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا(123)

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (Qs. An-Nisa’: 123)

Imam Mujahid berkata: “Seandainya kalian melihat Ibnu ‘Abbas tempo hari, yang shalat sambil menangis, pastilah kalian akan mengatakan: ‘Sungguh, dirinya (seolah) baru ditinggal mati oleh seseorang’.”

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan.” (Qs. An-Nisa’: 123)

Para mufassir menyebutkan; Balasan Allah itu, adakalanya diberikan waktu di dunia ini, atau diberikan-Nya di akhirat kelak. Karena itulah, menurut madzhab ahlussunnah wal jama’ah, ayat ini menunjukkan bahwa musibah-musibah yang menimpa kita di dunia, adakalanya merupakan balasan Allah akan dosa-dosa kita, sehingga ia termasuk diantara penghapus-penghapus dosa.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan pula kaedah ini; bahwa segala musibah dan malapetaka, baik yang paling besarnya seperti kematian; ataupun yang paling kecilnya; seperti tertusuk duri, terkena panas matahari, atau adanya kegundahan di hati, dan kesukaran hidup lainnya, sesungguhnya semua itu termasuk diantara penghapus-penghapus dosa.

Suatu waktu, Rasulullah memicingkan tepi matanya ke langit, seraya tersenyum hingga tampak gigi-gigi taringnya.

Para sahabat pun bertanya; “Ada apakah, wahai Rasulullah!”

Rasulullah menjawab:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَلَيْسَ ذَالِكَ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ

“Sungguh mengagumkan perkara seorang Mukmin itu. Sesungguhnya, semua perkaranya menjadi kebaikan baginya. Jika ia ditimpa kesenangan, ia bersyukur. Maka, itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ditimpa marabahaya, ia bersabar. Maka, itupun menjadi kebaikan baginya. Tidaklah ada kebaikan-kebaikan itu, kecuali untuk seorang Mukmin.” [1]

Ya, begitu mengagumkan urusan orang Mukmin itu. Sesungguhnya ia senantiasa berada di atas kebaikan, ketepatan hidup, dan berada dalam jarak yang semakin dekat dengan Allah; Kedekatannya itu terus menerus meningkat, baik karena kenikmatan-kenikmatan, maupun karena musibah-musibah yang menimpanya.

Ketiga: Dahsyatnya Sakaratul maut

Termasuk penghapus dosa juga, adalah pedihnya dicabut nyawa dan dahsyatnya sakaratul maut. Tahukah kamu apa itu sakaratul maut? Ia adalah peristiwa yang akan dilalui oleh setiap orang.

Seorang ulama berkata: “Itulah peristiwa kematian, di mana orang-orang lalim dihinakan karenanya, orang berdosa direndahkan, orang yang sombong ketakutan, orang kaya akan merasa miskin, dan orang besar akan merasa kecil.”

Peristiwa yang pasti terjadi ini mesti dilalui setiap orang. Kebenarannya disebut-sebut dalam Al-Quran dan as-sunnah.

Dalam Al-Quran disebutkan secara selintas, sedangkan dalam as-sunnah dijelaskan secara gamblang.

Seandainya ada seorang manusia yang selamat dari pedihnya kematian, tentu Muhammad-lah yang pantas untuk selamat. Karena beliau adalah makhluk Allah yang paling mulia.

Di dalam sebuah hadits, ‘Aisyah berkata: “Ketika kematian menjemput Rasulullah, di  hadapan beliau terdapat sebuah bejana. Mulailah beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam air, kemudian mengusap wajah dengannya, seraya berkata: ‘Tidak ada Tuhan selain Allah. Sesungguhnya, orang mati akan mengalami pedihnya sakarat’. Kemudian beliau mengangkat tangannya, dan berkata: ‘Ya Allah, jadikanlah aku bersama pendamping yang paling tinggi’. Lalu beliau pun meninggal, sedang tangannya telah diturunkan.” [2]

Dalam riwayat lain, beliau berdo’a: “Ya Allah, tolonglah aku dalam menghadapi kepedihan sakaratul maut.” [3]

Dalam riwayat lainnya lagi; “Ketika tiba sakaratul maut kepada Rasulullah, mulailah beliau menutupkan sebuah kain ke wajahnya. Hingga, ketika beliau terlihat merasa sesak, beliau pun membukanya, kemudian berkata: ‘Laknat Allah untuk orang-orang Yahudi dan Nashrani, karena mereka menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid’.” [4]

Rasulullah mewanti-wanti umatnya dari melakukan seperti yang mereka perbuat itu.

Ahli sejarah berkata; Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, apabila berkumpul dengan para sahabat, ia berkata; “Marilah kita mengingat kematian”,  Kemudian ia pun berkata kepada Ka’ab Al-Ahbar; “Sampaikan kepada kami tentang kematian, dan terangkan bagaimana sifat-sifatnya.”

Ka’ab pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin, aku tak mendapatkan perbandingan kematian, kecuali ia bagaikan sebuah pohon berduri yang dipukulkan kepada manusia, hingga setiap durinya menancap pada semua urat di badannya. Kemudian pohon itu ditarik paksa, hingga ia pun tercerabut, dan bersamanya tercerabut pula semua uratnya.”

Mendengar itu, Umar langsung menangis. Begitu pula semua sahabat selainnya. Semoga ridha Allah untuk mereka semua.

Karena itu, jika Anda menyaksikan sendiri orang yang ditimpa penyakit anjing gila, orang yang ditimpa kematian, orang yang sedang menghadapi sakaratul maut atau yang sedang dicabut nyawanya, niscaya Anda mendapatkan banyak pelajaran, jika Anda masih memiliki nurani dan akal yang sehat. Serta, jika Anda memang menginginkan ridha Allah dan kebahagiaan di kampung akhirat. Ya, Anda akan menyaksikan bagaimana maut itu memperlakukan kulit luar manusia.

Abdullah bin ‘Amr berkata kepada ayahnya, Amr bin ‘Ash –yang saat itu sedang merasakan pedihnya sakaratul maut yang semakin dahsyat–: “Wahai ayah, jujurlah kepadaku, saat ini engkau berada pada saat yang tak mungkin lagi berdusta; katakan kepadaku bagaimana kau merasakan kematian ini?”

‘Amr bin ‘Ash menarik nafas, kemudian berkata: “Wahai anakku, demi Allah, rasanya diriku seperti ditusuk-tusuk jarum, dan seolah-olah aku bernafas dari lubang jarum itu. Juga, gunung-gunung yang ada di dunia ini, rasanya ditimpakan ke atas dadaku.”

Namun, Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman;

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ(27)

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim, dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim: 27)

Maka, barangsiapa yang ingin Allah kokohkan keimanannya, dan Allah tepatkan langkahnya serta Allah bimbing lidahnya dalam berucap, maka hendaknya ia mengokohkan diri dengan beramal shaleh. Para ulama mengatakan: “Permulaan itu menjadi tanda penghabisannya.”

Dalam riwayat Tirmidzi, dengan sanad hasan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ

“Sesungguhnya, seorang Mukmin itu meninggal, dengan keningnya yang berkeringat.” [5]

Para ulama, diantaranya Ibnu Hajar, berkata: Maksud “meninggal dengan kening berkeringat” itu, bisa jadi karena Allah memberatkan proses sakaratul mautnya, sehingga keningnya berkeringat, dan jadilah peristiwa sakaratul maut yang berat itu, sebagai penghapus dosanya.

Shalawat serta salam untuk nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, beserta sahabat-sahabat beliau semuanya…

***********———-***********

Dinukil dari kutaib mukkafirat ad-dzunub, penerjemah Abu Haitsam Buldan

Artikel: http://asya84.wordpress.com/


1)       Riwayat Muslim nomor: 7449 dari Shuhaib bin Sinan, serta rwayat Ahmad nomor: 18579, 18584 dan 23533.

2)       Riwayat Bukhari nomor: 4339 dan 6363.

3)       Riwayat Ahmad nomor: 23963, riwayat Trmidzi nomor: 974, riwayat Ibnu Majah nomor: 1672, dan lihat dalam Al-Musykat nomor: 1564.

4)       Riwayat Bukhari nomor: 5682, dan riwayat Muslim nomor: 1139.

5)       Riwayat Ahmad nomor: 22582 dan 22665, riwayat Tirmidzi nomor: 976, riwayat An-Nasa’i nomor: 1829, riwayat Ibnu Majah nomor: 1499, dan lihat di dalam Al-Musykat nomor: 1610.

Posted on 12 Februari 2013, in Aqidah, Tazkiyatun Nufus and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. jadi misal mau dosa apapun dengan kit sabar dalam menghadapi cobaan insya allah dosa akn di hpus gitu pk ustdz? terimkasih ;)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: