Benarkah Suara Wanita ‘Aurat?
Ada yang mengatakan sesungguhnya suara wanita itu ‘aurat, apakah hal itu benar?
Jawaban Lajnah Da’imah:
Wanita itu tempat menunaikan hajat laki-laki. Laki-laki itu condong kepada wanita dengan dorongan naluri syahwat. Maka apabila seorang wanita berlaku genit di dalam kata-katanya maka fitnahnya semakin menjadi-jadi bagi para lelaki. Oleh karena itu Allah memerintahkan orang-orang mu’min apabila mau meminta suatu keperluan kepada wanita supaya memintanya di balik tabir, Allah berfirman:
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih Suci bagi hatimu dan hati mereka.”(Al-Ahzâb: 53)
Allah juga melarang para wanita melembut-lembutkan suaranya ketika berbicara dengan lelaki, supaya orang-orang yang terdapat penyakit di dalam hatinya tidak tergoda karenanya.
Apabila hal ini bisa terjadi pada saat kaum mu’minin kuat imannya dan tinggi ‘izzahnya (yaitu di zaman Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam saat ayat di atas turun, penerj-), maka bagaimana lagi di zaman ini yang keimanan telah melemah dan sedikit sekali orang yang berpegang teguh kepada agama. (juz: 17 hal: 204)
Maka hendaklah engkau tidak bergaul dengan laki-laki asing (non mahrom), dan tidak berbincang-bincang dengan mereka kecuali karena keperluan yang mendesak, dengan catatan tidak merendahkan dan melembut-lembutkan suara seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.
Dengan demikian engkau tahu bahwa suara itu sendiri yang tidak dilembut-lembutkan maka hal itu tidaklah termasuk aurat; karena dahulu para wanita pun pernah berbicara kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, dan mereka bertanya kepada beliau tentang perkara-perkara agama mereka, begitu pula mereka berbicara kepada para sahabat untuk suatu keperluan, dan mereka tidak mempermasalahkannya.
Allah jualah yang berhak memberi taufiq, semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabat beliau.
KOMITE TETAP UNTUK PENELITIAN ILMIAH DAN FATWA
KETUA : Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baaz
WAKIL KETUA : Abdurrazzâq ‘Afîfî
ANGGOTA : Abdullâh bin Ghadyân
ANGGOTA : Abdullâh bin Qu’ûd
Diterjemahkan oleh Ummu Haitsam dan dimuraja’ah oleh Zaujiy dari Kumpulan Fatwa Lajnah Da’imah yang terdapat pada url: http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&PageID=6486&PageNo=1&BookID=3
*************
Artikel: http://asya84.wordpress.com/
السؤال
إن صوت المرأة عورة، فهل هذا صحيح؟
الجواب
المرأة موضع قضاء وطر الرجال، فهم يميلون إليها بدافع غريزة الشهوة، فإذا تغنجت في كلامها زادت الفتنة، ولذلك أمر الله المؤمنين إذا سألوا النساء حاجة أو متاعا أن يسألوهن من وراء حجاب، فقال تعالى: وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ونهى النساء إذا خاطبن الرجال أن يخضعن بالقول؛ لئلا يطمع الذي في قلبه مرض. فإذا كان هذا هو الشأن والمؤمنون في قوة إيمانهم وعزته، فكيف بهذا الزمان الذي ضعف فيه الإيمان وقل المتمسك بالدين، (الجزء رقم 17، الصفحة رقم 204)
فعليك عدم مخالطة الرجال الأجانب، وعدم التحدث معهم إلا في حاجة ضرورية، مع عدم الخضوع واللين في القول؛ للآية المذكورة. وبهذا تعلمين أن الصوت المجرد والذي ليس معه خضوع ليس بعورة؛ لأن النساء كن يكلمن النبي، ويسألنه عن أمور دينهن، وهكذا كن يكلمن الصحابة في حاجتهن، ولم ينكر ذلك عليهن. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Posted on 29 Desember 2010, in Fatawa and tagged aurat, suara, wanita. Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.













Tinggalkan sebuah Komentar
Komentar (1)